Kontribusi PDB 18,50 Persen Menguat, Manufaktur Kembali Jadi Tumpuan Ekonomi

Industri pengolahan menyumbang 18,50% terhadap produk domestik bruto pada triwulan II-2026. Porsi tersebut mengukuhkan manufaktur sebagai kontributor terbesar bagi perekonomian Indonesia.

Sektor ini juga menjadi sumber pertumbuhan ekonomi terbesar dengan sumbangan sebesar 0,90%. Peran tersebut menempatkan industri pengolahan sebagai salah satu tumpuan utama pertumbuhan nasional.

Laju Manufaktur Lebih Tinggi dari Ekonomi Nasional

Industri pengolahan nonmigas tumbuh 5,32% secara tahunan pada triwulan II-2026. Pertumbuhannya sedikit lebih tinggi daripada laju ekonomi nasional yang mencapai 5,29%.

Selisih tipis itu mencerminkan kegiatan manufaktur yang masih bergerak ekspansif. Kondisi tersebut memberi modal bagi pemerintah untuk memperbesar peran industri dalam agenda pembangunan.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyebut capaian itu berkaitan dengan kebijakan pemerintah yang berpihak pada sektor industri. Keterangan tersebut dimuat Kementerian Perindustrian pada Sabtu, 15 Agustus 2026.

“Capaian ini menunjukkan bahwa kebijakan Presiden yang memberikan keberpihakan kuat terhadap sektor industri telah menghasilkan dampak yang konkret. Manufaktur bukan hanya tumbuh, tetapi pertumbuhannya mampu melampaui pertumbuhan ekonomi nasional,” tutur Agus Gumiwang.

Menurut Agus, kondisi itu menjadi modal untuk memperbesar peran industri sebagai motor penggerak ekonomi. Industrialisasi juga didorong agar pertumbuhan dapat membuka lapangan kerja dan meningkatkan nilai tambah di dalam negeri.

Indikator Juli Menunjukkan Optimisme

Kinerja sektor ini tidak hanya tercermin dalam data PDB. Sejumlah ukuran aktivitas industri pada Juli 2026 juga berada di atas level 50, yang menunjukkan zona ekspansi.

Indeks Kondisi dan Prospek Bisnis Industri Manufaktur tercatat sebesar 52,31. PMI Manufaktur Indonesia berada pada 50,2 dan Indeks Kepercayaan Industri mencapai 53,10.

IndikatorPeriodeNilaiStatus
Indeks Kondisi dan Prospek Bisnis Industri ManufakturJuli 202652,31Ekspansi
PMI Manufaktur IndonesiaJuli 202650,2Ekspansi
Indeks Kepercayaan IndustriJuli 202653,10Ekspansi

Ketiga indeks tersebut menunjukkan kegiatan industri nasional masih tumbuh. Nilai itu juga mencerminkan optimisme pelaku industri terhadap keberlanjutan usaha mereka.

Kepastian usaha, investasi, dan penguatan pasar domestik menjadi faktor yang ditekankan untuk menjaga ekspansi. Iklim industri yang semakin kompetitif juga diperlukan agar momentum tidak melemah.

Subsektor Tumbuh di Atas Rata-Rata

Penguatan manufaktur berlangsung pada sejumlah kelompok industri strategis. Industri barang logam, komputer, elektronik, optik, dan peralatan listrik mencatat pertumbuhan tertinggi di antara subsektor yang disebutkan.

Subsektor makanan dan minuman tumbuh 6,51% secara tahunan. Industri kimia, farmasi, dan obat tradisional tumbuh 4,99% pada triwulan II-2026.

Subsektor StrategisPertumbuhan Tahunan
Industri makanan dan minuman6,51%
Industri barang logam, komputer, elektronik, optik, dan peralatan listrik8,04%
Industri kimia, farmasi, dan obat tradisional4,99%

Kementerian Perindustrian akan meneruskan penguatan melalui Strategi Besar Industrialisasi Nasional atau SBIN. Program ini mencakup penguatan struktur industri, hilirisasi, peningkatan produktivitas dan daya saing, perluasan pasar, serta penciptaan lapangan kerja berkualitas.

Keberlanjutan kebijakan yang memberi kepastian bagi pelaku usaha akan memengaruhi kemampuan manufaktur menjaga laju pertumbuhan. Hal itu menjadi penting karena industri pengolahan telah memberi kontribusi besar terhadap PDB dan pertumbuhan ekonomi.

Baca Juga