Pergantian kompor gas ke kompor listrik induksi berkaitan dengan penurunan kadar nitrogen dioksida atau NO2 di rumah hingga sekitar 70 persen. Dalam studi di Northeast Ohio, Amerika Serikat, perubahan kualitas udara tersebut berjalan seiring dengan perbaikan gejala asma peserta dari rata-rata tingkat sedang menjadi ringan.
Perbaikan yang tercatat tidak hanya menyangkut keluhan harian. Kunjungan ke instalasi gawat darurat dan rawat inap akibat asma turun sekitar 70 persen, sedangkan absen kerja atau sekolah karena asma berkurang sekitar 80 persen.
Hasil Pemantauan Setelah Beralih ke Induksi
Penelitian ini dilakukan oleh MetroHealth System bersama enam organisasi komunitas di Northeast Ohio. Sebanyak 85 anak-anak dan orang dewasa dengan asma yang belum terkontrol dengan baik ikut dalam pemantauan tersebut.
Semua peserta sebelumnya menggunakan kompor gas di rumah mereka. Mereka lalu memperoleh kompor induksi secara gratis, sementara kondisi kesehatan serta udara dalam ruangan dipantau sebelum dan setelah pergantian perangkat.
| Aspek yang Dipantau | Perubahan Setelah Beralih ke Induksi | Metode Pemantauan |
|---|---|---|
| Kadar nitrogen dioksida | Turun sekitar 70 persen | Diukur selama tujuh hari sebelum dan sesudah pergantian |
| Gejala asma | Dari rata-rata sedang menjadi ringan | Penilaian peserta melalui kuesioner |
| Kunjungan IGD dan rawat inap | Turun sekitar 70 persen | Diamati setelah penggunaan kompor listrik |
| Absen kerja atau sekolah | Turun sekitar 80 persen | Dicatat setelah pergantian kompor |
Kualitas udara diukur selama tujuh hari pada periode sebelum dan sesudah penggantian kompor. Peneliti memberi perhatian khusus pada nitrogen dioksida karena polutan ini muncul dari proses pembakaran dan dapat berdampak buruk bagi paru-paru.
Pemantauan kondisi awal peserta berlangsung satu hingga empat minggu sebelum kompor gas diganti. Pemeriksaan berikutnya dilakukan dua hingga tiga bulan setelah mereka mulai memakai kompor listrik.
Polutan Pembakaran Menjadi Perhatian
Kompor gas menghasilkan polutan saat proses pembakaran berlangsung di dalam rumah. Karena itu, penurunan paparan NO2 menjadi salah satu temuan penting dalam penelitian terhadap penggunaan kompor induksi.
Berbeda dengan kompor listrik berkumparan, kompor induksi memakai medan elektromagnetik untuk memanaskan peralatan masak. Perangkat ini juga dapat memanas dan mendingin dengan cepat, serta dinilai lebih aman dan mudah dibersihkan.
Menurut laporan yang dikutip CNET, peneliti menilai peningkatan pengendalian asma pada peserta setara atau bahkan berpotensi lebih besar daripada hasil dalam sejumlah uji klinis obat asma umum. Namun, pergantian kompor tidak ditempatkan sebagai pengganti pengobatan asma.
Studi Masih Memerlukan Pengujian Lebih Besar
Hasil tersebut memiliki sejumlah keterbatasan karena hanya melibatkan 85 peserta dan berlangsung selama beberapa bulan. Penelitian ini juga tidak memakai kelompok pembanding yang tetap menggunakan kompor gas selama studi berjalan.
Penilaian kondisi asma sebagian didasarkan pada kuesioner yang diisi sendiri oleh peserta, bukan rekam medis. Uji klinis terkontrol dengan jumlah peserta lebih besar masih diperlukan untuk memastikan besarnya dampak pergantian kompor terhadap kesehatan pernapasan.
Penelitian lanjutan juga diperlukan untuk menilai penggunaan kompor listrik dalam jangka panjang. Meski demikian, temuan di Northeast Ohio menunjukkan bahwa perubahan perangkat memasak dapat berkaitan dengan udara rumah yang lebih bersih dan pengendalian asma yang lebih baik.






