Tak Hanya Sedih, Kegembiraan Luar Biasa Juga Bisa Memicu Gangguan Jantung

Emosi sangat kuat tidak selalu berdampak pada jantung dalam bentuk kesedihan atau tekanan berat. Kegembiraan luar biasa pun dapat memicu gangguan sementara bernama happy heart syndrome.

Kondisi tersebut termasuk kelompok takotsubo syndrome, yang sering dikenal sebagai broken heart syndrome. Gangguan ini dapat menyebabkan gejala mirip sindrom koroner akut walaupun tidak disertai penyakit arteri koroner obstruktif.

Dua Emosi, Pola Jantung yang Berbeda

Broken heart syndrome lebih sering muncul setelah tekanan emosional atau fisik berat. Kehilangan orang terdekat, pertengkaran hebat, dan tekanan finansial termasuk pemicu yang kerap dikaitkan dengan kondisi ini.

Sebaliknya, happy heart syndrome dikaitkan dengan peristiwa positif yang memicu kegembiraan sangat kuat. Perbedaan pemicu tersebut juga disertai kecenderungan pola gangguan jantung yang tidak selalu sama.

KondisiPemicu yang DikaitkanPola Jantung yang Lebih Sering Dilaporkan
Broken heart syndromeEmosi atau tekanan fisik beratBallooning apikal klasik
Happy heart syndromeEmosi positif yang sangat kuatBallooning bagian tengah atau basal

Philip Lee, konsultan kedokteran akut dan kedokteran lansia, mengatakan kepada IFLScience bahwa lonjakan hormon stres memegang peran penting. “Pada dasarnya, terlalu banyak noradrenalin atau adrenalin menyebabkan bagian bawah jantung berhenti memompa dengan baik,” katanya.

Respons terhadap emosi positif dapat meningkatkan aktivitas sistem saraf simpatik sekaligus parasimpatik. Kedua sistem tersebut berperan dalam mengatur respons tubuh dan aktivitas jantung.

Kasus Muncul Setelah Perayaan Pernikahan

Gambaran happy heart syndrome terlihat pada seorang perempuan berusia 65 tahun yang menghadiri pernikahan putrinya. Ia mengalami nyeri dada selama tiga hari dan merasakan sesak napas yang semakin berat saat melakukan aktivitas fisik.

Pemeriksaan menemukan ventrikel kiri pasien melemah dan membesar secara sementara. Temuan itu mengarah pada diagnosis takotsubo syndrome yang dipicu emosi positif.

Penanganan kondisi ini memerlukan pemeriksaan untuk membedakannya dari penyebab nyeri dada lain yang lebih umum. Pada pasien tersebut, pemeriksaan mendesak tidak menemukan penyakit arteri koroner obstruktif.

Dokter juga menyingkirkan pheochromocytoma dan miokarditis sebelum memastikan diagnosis. Langkah tersebut diperlukan karena penanda pada elektrokardiogram dan pemeriksaan lain dapat tampak serupa dengan sindrom koroner akut.

Jarang Terjadi dan Berpotensi Terlewatkan

Broken heart syndrome mencakup sekitar 1–2 persen dari seluruh dugaan kasus sindrom koroner akut. Sementara itu, bentuk yang dipicu perasaan bahagia merupakan bagian yang jauh lebih langka.

Kelangkaan tersebut dapat membuat happy heart syndrome terlewatkan saat seseorang datang dengan keluhan nyeri dada atau sesak napas. Pengenalan yang tepat dapat membantu tenaga medis menghindari intervensi yang tidak diperlukan.

Menurut laporan dalam Oxford Medical Case Reports, pasien pernah menjalani rawat jalan akibat nyeri dada pada bulan-bulan sebelum peristiwa tersebut. Fungsi jantungnya membaik setelah evaluasi dan pemantauan lanjutan.

Bentuk yang dipicu emosi positif cenderung memiliki gejala lebih ringan dan hasil jangka pendek yang lebih baik. Meski umumnya sementara, takotsubo syndrome tetap dapat berkaitan dengan risiko henti jantung mendadak setelah peristiwa traumatis.

Baca Juga