Kebutuhan Air Bersih Meningkat, 119 Hotspot Perburuk Tekanan di Mamuju Tengah

Meningkatnya kebutuhan air bersih menjadi tekanan serius bagi Mamuju Tengah di tengah kondisi kering yang berlangsung. Situasi itu terjadi bersamaan dengan temuan 119 titik panas yang meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan.

Pemerintah Kabupaten Mamuju Tengah merencanakan perpanjangan masa penanganan darurat selama 14 hari. Keputusan final masih menunggu penerbitan Surat Keputusan baru pada 16 Agustus.

Dampak Kekeringan Meluas

Minimnya air bersih tidak hanya memengaruhi kebutuhan warga di daerah terdampak. Kondisi tersebut juga mengancam produktivitas lahan pertanian lokal yang memerlukan pasokan air.

Penurunan kualitas udara dan keterbatasan air bersih turut memunculkan sejumlah penyakit di masyarakat. Dampak ini menambah kebutuhan penanganan ketika ancaman kekeringan terus berkembang.

Koordinator Satgas El Nino, Sigit Dwihastono, menyebut indikator ancaman bencana di wilayah operasionalnya mengalami kenaikan. Ia menyoroti peningkatan hotspot dan permintaan air sebagai persoalan yang harus direspons bersamaan.

“Ancaman kritis semua naik, titik hotspot juga naik. Kemudian permintaan air juga meningkat,” ujar Sigit Dwihastono.

Aspek TerdampakKondisiRisiko Utama
Air bersihPermintaan meningkatKebutuhan warga terdampak
Titik panas119 titik pada Jumat (14/8/2026)Kebakaran hutan dan lahan
PertanianMembutuhkan ketersediaan airProduktivitas lahan terancam

Status Darurat Direncanakan Bertambah

Rencana perpanjangan masa darurat muncul setelah tim penanganan mengevaluasi kondisi yang memburuk di Mamuju Tengah, Sulawesi Barat. Status Darurat El Nino sendiri disebut belum dinaikkan.

Sigit mengatakan rencana penambahan masa penanganan selama dua pekan telah disepakati dalam rapat tim Satgas. Surat Keputusan baru nantinya akan memuat perpanjangan status sekaligus langkah operasional penanganan El Nino.

“Status ceritanya belum naik, tapi pertambahkan status darurat 14 hari ke depan. Rencana begitu, berdasarkan hasil rapat tim Satgas malam ini,” tutur Sigit Dwihastono.

Respons Terkendala Kesiapan Alat

Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan dan krisis air bersih masih menghadapi kendala teknis di lapangan. Sarana pendukung, perlengkapan pemadam, serta akses logistik menuju daerah terdampak menjadi tantangan dalam operasi penanganan.

Menurut Sigit, kemampuan pengendalian tidak merata di seluruh lokasi. Sebagian wilayah dapat dikendalikan, sedangkan wilayah lain terkendala kekurangan alat.

“Ada sebagian memang mampu, ada sebagian tidak mampu. Artinya ada terkendali, ada yang tidak terkendali atas alasan kekurangan alat,” kata Sigit Dwihastono. Satgas menyiapkan langkah operasional lanjutan untuk merespons kebakaran lahan dan kebutuhan air bersih sambil menunggu keputusan baru.

Baca Juga