Dugaan bocornya 45 lagu belum rilis pada 2023 mendorong Ariana Grande membawa perkara peretasan ke pengadilan. Gugatan itu menyasar pihak anonim yang diduga memperoleh dan menyebarkan materi miliknya tanpa izin.
Para tergugat sementara disebut sebagai John Does karena identitas mereka belum diketahui. Perkara yang diajukan di Los Angeles pada Senin, 27 Juli 2026, bertujuan membuka jalan untuk mengidentifikasi pihak-pihak tersebut.
Materi yang dipersoalkan tidak terbatas pada lagu yang belum dirilis secara resmi. Gugatan juga mencakup dugaan akses terhadap master rekaman, demo, rekaman sesi studio, video musik, serta foto yang belum dipublikasikan.
Dugaan Kebocoran Menjangkau Lingkaran Kerja
Akun dan perangkat milik rekan kerja disebut menjadi titik yang diduga ditembus para pelaku. Fotografer, produser, dan pihak lain yang pernah bekerja dengan Grande termasuk dalam kelompok target yang disebut dalam dokumen perkara.
Situasi itu menunjukkan kebocoran tidak harus bermula dari perangkat milik artis secara langsung. Penyimpanan materi kreatif di akun kolaborator dapat memperbesar titik rawan apabila keamanan digital tidak terlindungi.
Dokumen gugatan menuding para pelaku memakai phishing dan metode peretasan lain untuk mengakses data. Setelah masuk tanpa izin, materi yang diambil diduga diperjualbelikan dengan nilai uang yang signifikan.
| Periode | Dugaan Cara atau Target | Materi yang Disebut Bocor atau Diakses |
|---|---|---|
| 2019 | Akun Dropbox fotografer | Materi terkait Ariana Grande |
| 2020 | Perangkat seluler produser | Master, demo, dan sesi studio |
| 2023 | Materi musik belum rilis | 45 lagu Ariana Grande |
| 2024 | Identitas palsu kepada teknisi digital | Foto yang belum dipublikasikan |
Rangkaian Peristiwa yang Dicantumkan
Menurut dokumen gugatan, dugaan kebocoran materi musik Ariana Grande telah berlangsung ratusan kali sejak ia memulai karier pada 2011. Rangkaian yang disebut dalam perkara mencatat beberapa bentuk akses ilegal dalam periode berbeda.
Pada 2019, seorang peretas diduga masuk ke akun Dropbox milik fotografer yang pernah bekerja dengan Grande. Materi terkait penyanyi tersebut disebut ikut terakses dari akun itu.
Pada 2020, perangkat seluler seorang produser yang pernah berkolaborasi dengan Grande diduga menjadi sasaran berikutnya. Pelaku disebut mendapatkan master rekaman, demo lagu yang belum dirilis, dan rekaman sesi studio.
Master dan demo merupakan materi penting karena merekam karya dalam tahap sebelum peluncuran resmi. Kebocoran 45 Lagu Belum Rilis pada 2023 menjadi tuduhan yang paling menarik perhatian dalam perkara ini.
Penyamaran untuk Mengakses Foto
Perkara itu juga menguraikan dugaan tindakan pada 2024 yang menargetkan materi visual. Para pelaku disebut membuat akun Gmail serta nama domain yang menyamar sebagai fotografer Ariana Grande.
Identitas palsu tersebut diduga digunakan untuk meminta seorang teknisi digital mengirimkan foto Grande yang belum pernah dipublikasikan. Cara ini diduga menjadi bagian dari upaya memperoleh konten melalui manipulasi identitas.
Tim hukum Grande menyatakan gugatan dimaksudkan untuk mengungkap individu yang dinilai bertindak mengganggu, merugikan, dan tercela. Perkara ini juga ditujukan untuk meminta pertanggungjawaban dan mencegah dugaan kejadian serupa berulang.
Variety meninjau dokumen yang memuat tuduhan tersebut, sementara perwakilan Grande belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar hingga laporan ini beredar. Proses John Does kini berpusat pada pengungkapan identitas pihak yang diduga terlibat dalam kebocoran musik dan materi visual itu.






