Pemungutan suara kebijakan ganja di Massachusetts dan Idaho akan berlangsung ketika isu tersebut semakin menekan peta politik Amerika Serikat menjelang November 2026. Legalisasi juga menjadi salah satu bahan persaingan dalam pemilihan gubernur di Kansas dan Iowa.
Perkembangan di tingkat negara bagian membuat posisi kandidat terhadap ganja kian penting bagi pemilih. Isu ini kini tidak hanya berkaitan dengan kesehatan dan penegakan hukum, melainkan juga pajak, penelitian, serta kepentingan industri.
Ganja Masuk Perhitungan Elektoral
Data Gallup pada November mencatat 64% warga dewasa Amerika Serikat mendukung legalisasi ganja. Meski tetap mayoritas, angka tersebut turun dari 70% pada 2023 dan penurunan paling besar terlihat pada pemilih Partai Republik.
| Kelompok Pemilih | Dukungan Legalisasi Ganja |
|---|---|
| Warga dewasa AS | 64% |
| Pemilih Republik | 40% |
| Pemilih Demokrat | 85% |
| Pemilih independen | 66% |
Kesenjangan dukungan itu menunjukkan bahwa ganja dapat memecah basis suara antarpartai. Direktur Politik NORML Morgan Fox menilai regulasi ganja sangat populer di kalangan pemilih, namun angka tersebut tidak seragam pada setiap kelompok politik.
Kevin Sabet, CEO Smart Approaches to Marijuana, mengingatkan bahwa tingginya popularitas dalam survei belum tentu memberi keuntungan politik yang mudah. Ia menyebut isu ganja kerap mengecewakan politisi yang beranggapan dukungan kebijakan akan langsung mendatangkan suara.
Trump Mendorong Reklasifikasi
Pemerintahan Donald Trump memilih jalur reklasifikasi, bukan penghapusan penuh larangan federal. Trump pada Desember 2025 meminta Departemen Kehakiman mempercepat pemindahan ganja dari Golongan I ke Golongan III, menurut Investor Daily.
Pelaksana Tugas Jaksa Agung Todd Blanche kemudian menandatangani perintah pada April 2026 untuk mengklasifikasi ulang ganja medis berlisensi tingkat negara bagian. Kebijakan itu berpotensi mengurangi hambatan penelitian dan mengubah prospek bisnis ganja legal.
Langkah tersebut mendapat penolakan dari lebih dari 20 senator Republik serta sejumlah anggota DPR. Mereka mendesak Gedung Putih menghentikan proses reklasifikasi yang menjadi salah satu titik tarik ulur di Washington.
Demokrat menawarkan pendekatan berbeda melalui Cannabis Administration and Opportunity Act. Rancangan yang kembali diajukan oleh 17 senator, dipimpin Cory Booker, Chuck Schumer, dan Ron Wyden, bertujuan menghapus ganja sepenuhnya dari Controlled Substances Act.
Wyden menyatakan, “Pemilih di seluruh negeri telah memperjelas bahwa mereka ingin cannabis dilegalkan, dan langkah setengah hati Trump tidak menipu siapa pun.” Perbedaan strategi itu memperjelas bahwa perdebatan ganja berpotensi menjadi garis pembeda antarkandidat pada 2026.
Industri Mengejar Ruang Pajak
Bagi sektor ganja legal bernilai sekitar US$30 miliar, reklasifikasi membawa harapan perubahan aturan pajak federal 280E. Aturan ini membatasi perusahaan untuk mengurangi biaya penggajian, sewa, dan utilitas dari pendapatan kotor.
Presiden Sun Theory Matthew Merlander menilai penghapusan pembatasan itu dapat menaikkan keuntungan industri dengan segera. “Kami tahu jika aturan itu benar-benar dihapus, secara otomatis industri akan menjadi lebih menguntungkan,” kata Merlander.
Prospek tersebut juga memicu keberatan dari kelompok yang menolak perlakuan fiskal khusus bagi perusahaan ganja. Persoalan pajak pun menambah kepentingan ekonomi dalam debat yang semula lebih banyak berpusat pada status hukum ganja.
Beberapa perusahaan ganja telah menyalurkan sekitar US$11,5 juta kepada super PAC America First Agriculture Action Inc. yang berafiliasi dengan Trump. Trulieve, Curaleaf, Green Thumb Industries, dan Verano Holdings termasuk perusahaan yang disebut.
Hasil pemungutan suara negara bagian, arah kebijakan federal, dan pendanaan politik industri akan saling memengaruhi menjelang Pemilu Sela AS 2026. Ganja kini menjadi ujian bagi kandidat untuk menyeimbangkan tuntutan pemilih, kepentingan bisnis, dan penolakan politik.






