ITS Giuseppe Garibaldi berada di tengah dua rencana pemanfaatan yang berbeda antara Indonesia dan Taranto, Italia. DPR RI telah menyetujui penerimaan hibah kapal tersebut, tetapi sejumlah pihak di Taranto ingin menjadikannya museum terapung.
Perbedaan itu menempatkan kapal induk Garibaldi sebagai objek bernilai penting bagi dua kepentingan. Indonesia memasukkannya dalam kerja sama pertahanan, sedangkan Taranto melihatnya sebagai peluang wisata budaya.
Persetujuan di Tingkat Parlemen Indonesia
DPR RI memberikan persetujuan bulat terhadap penerimaan hibah alat peralatan pertahanan dan keamanan dari Pemerintah Italia. Dalam paket hibah itu terdapat satu unit ITS Giuseppe Garibaldi.
Keputusan tersebut diambil dalam Rapat Paripurna DPR RI setelah pembahasan di Komisi I DPR. Persetujuan ini menjadikan penerimaan kapal sebagai bagian dari agenda kerja sama pertahanan Indonesia dan Italia.
Pemerintah Italia disebut telah memproses hibah Garibaldi kepada Indonesia. Proses itu dikaitkan dengan kerja sama pertahanan dan strategi industri.
| Pihak | Kepentingan | Posisi terhadap Garibaldi |
|---|---|---|
| DPR RI | Penerimaan hibah Alpalhankam | Menyetujui penerimaan kapal dari Italia |
| Pemerintah Italia | Kerja sama pertahanan dan strategi industri | Memproses hibah kepada Indonesia |
| Kelompok di Taranto | Budaya dan pariwisata | Meminta kapal tetap berada di Italia |
| Federalberghi | Pariwisata dan perhotelan | Mendukung fungsi museum dan penginapan |
Penolakan dari Kota Pelabuhan Italia
Penolakan terhadap hibah datang dari kalangan yang menilai Garibaldi sebagai aset bersejarah bagi Taranto. Mereka meminta Pemerintah Italia membatalkan rencana pengalihan kapal kepada Indonesia dan memilih fungsi baru untuk kapal itu.
Taranto memiliki sejarah panjang sebagai pusat operasional militer laut Italia selama puluhan tahun. Kota pelabuhan tersebut juga masih menjadi lokasi strategis bagi fasilitas angkatan laut Italia.
Hubungan historis itu menjadi dasar keinginan agar Garibaldi kembali ke Taranto. Pendukung usulan museum menilai kapal tersebut dapat memperkuat daya tarik kota dalam sektor budaya dan pariwisata.
Francesco Caizzi, Wakil Presiden Federalberghi, termasuk tokoh yang menyuarakan penolakan tersebut. Ia menilai Garibaldi memiliki nilai sejarah tinggi yang bisa dimanfaatkan bagi pariwisata nasional Italia.
“Kapal Garibaldi sebaiknya dikembalikan ke Taranto,” tegas Caizzi. Pernyataan itu disampaikan dalam dorongan agar pemerintah tidak melihat kapal tersebut hanya sebagai objek hibah.
Usulan Museum dan Penginapan
Gagasan dari Taranto mengusulkan perubahan fungsi Garibaldi menjadi Museum Laut. Kapal itu juga direncanakan menjadi penginapan bagi wisatawan muda.
Konsep itu ditujukan untuk membuka ruang kunjungan bagi pelajar dan wisata budaya. Garibaldi diharapkan tetap memiliki aktivitas baru, alih-alih hanya menjadi peninggalan militer yang tidak digunakan.
Pengelolaan aspek budaya diusulkan melibatkan Museo Archeologico Nazionale di Taranto atau MarTa. Bagian penginapan akan diarahkan kepada pelaku usaha swasta di sektor perhotelan.
Caizzi menyatakan pelaku pariwisata siap memberikan dukungan bagi rencana tersebut. “Kami tidak akan menghemat energi dan sumber daya untuk meyakinkan pemerintah bahwa ini solusi terbaik,” ujarnya.
Usulan museum Taranto kini berhadapan langsung dengan kebijakan pemerintah pusat Italia yang telah memproses hibah. Di saat yang sama, keputusan DPR RI telah memberi persetujuan politik atas penerimaan kapal bagi Indonesia.
Nasib Garibaldi menjadi perhatian karena kedua pihak menawarkan fungsi yang berbeda bagi kapal itu. Pilihannya berada antara peran dalam agenda pertahanan Indonesia atau pemanfaatan sebagai aset wisata budaya di Taranto.






