Jorge Martin pernah menghadapi anggapan bahwa kepindahannya ke Aprilia akan menjadi kesalahan besar. Kini, saat memimpin klasemen MotoGP 2026, ia membawa pengalaman itu menuju keputusan baru untuk bergabung dengan Yamaha pada 2027.
Perpindahan Martin ke Yamaha kembali memancing kritik karena pabrikan Jepang tersebut belum meraih kemenangan grand prix dalam lebih dari tiga tahun. Namun, pebalap Spanyol itu menilai rekam jejaknya bersama Aprilia menunjukkan bahwa keraguan awal tidak selalu menjadi penentu hasil.
Dari Pramac ke Aprilia
Martin meninggalkan Pramac setelah meraih gelar juara dunia 2024 untuk bergabung dengan Aprilia. Pilihan tersebut pada saat itu dinilai berisiko karena Aprilia disebut sebagai tim yang belum pernah menang.
Respons negatif itu tidak menghentikan langkah Martin. Pada MotoGP 2026, ia justru tampil sebagai pemimpin klasemen dan menjadi salah satu favorit dalam perebutan gelar juara dunia.
Martin menyampaikan bahwa kritik saat bergabung dengan Aprilia terdengar sangat tajam. “Saat aku bergabung dengan Aprilia, rasanya seperti bencana: ‘Kemana kamu akan pergi dengan Aprilia, sebuah tim yang tidak pernah menang?’ Tapi, sekarang aku memimpin kejuaraan ini,” ujar Martin.
Prestasi bersama Aprilia menjadi dasar pandangannya dalam menyikapi komentar mengenai kepindahan ke Yamaha. Martin tidak menganggap situasi kompetitif sebuah tim pada saat ini sebagai gambaran pasti bagi hasil beberapa musim mendatang.
Langkah Baru bersama Yamaha
Martin dipastikan meninggalkan Aprilia setelah musim MotoGP 2026 berakhir. Ia akan membela Yamaha selama dua musim, yakni pada 2027 dan 2028, dengan Ai Ogura sebagai rekan setim.
| Periode | Tim | Posisi Martin |
|---|---|---|
| Hingga akhir 2026 | Aprilia | Memimpin klasemen MotoGP 2026 |
| 2027-2028 | Yamaha | Rekan setim Ai Ogura |
Proyek Yamaha menghadirkan tantangan tersendiri. Yamaha belum kembali naik ke podium tertinggi sejak Fabio Quartararo memenangi grand prix di Sachsenring pada 2022.
Catatan itu berarti Yamaha telah menjalani puasa kemenangan lebih dari tiga tahun. Situasi tersebut menjadi alasan utama mengapa keputusan Martin dinilai berisiko oleh sebagian pengamat.
Pertimbangan untuk Keluarga
Martin menegaskan bahwa pilihannya tidak dibuat hanya berdasarkan opini yang berkembang di luar lintasan. Ia menyebut terdapat keputusan hidup yang perlu diambil berdasarkan pertimbangan yang lebih personal.
“Aku percaya ada keputusan-keputusan di dalam hidup yang sekadar harus dibuat,” kata Martin dalam pernyataan yang dikutip GPOne. Pernyataan itu disampaikan saat sorotan terhadap rencananya pindah ke Yamaha terus muncul.
Martin juga menekankan peran keluarga dalam menentukan arah kariernya. “Aku selalu membuat keputusan dengan mempertimbangkan yang terbaik untukku dan keluargaku, dan aku percaya ini adalah pilihan terbaik,” lanjutnya.
Menurut Martin, penilaian terhadap kepindahan tersebut baru relevan setelah Yamaha dan dirinya menjalani kompetisi bersama. “Musim depan, atau dalam dua tahun, dunia dan semua orang lain bisa mengatakan apa yang mereka mau,” ceplosnya.
Musim 2026 bersama Aprilia masih menjadi bagian penting dari perjalanan Martin sebelum era Yamaha dimulai. Hasilnya dalam perburuan gelar dunia akan menjadi penanda terakhir dari masa singkatnya bersama Aprilia, sebelum mencoba tantangan baru di pabrikan Jepang.






