Ketegangan Iran-AS Menjalar ke Teluk, Dari Hormuz hingga Ancaman terhadap Kuwait

Kekhawatiran negara-negara Teluk meningkat setelah muncul laporan mengenai kemungkinan operasi Iran yang menyasar kawasan mereka. Enam personel Korps Garda Revolusi Islam atau IRGC disebut telah menyusup ke sebuah pulau di Kuwait pada awal Mei.

Sejumlah opsi eskalasi juga dilaporkan telah dipertimbangkan, mulai dari sabotase kabel internet bawah laut di Teluk Persia hingga operasi darat ke wilayah Kuwait. Upaya memicu kerusuhan politik di Kuwait dan Bahrain turut disebut dalam daftar kemungkinan tersebut.

MoU Tidak Serta-Merta Menurunkan Risiko

Ketegangan itu terjadi setelah Presiden AS Donald Trump dan Iran menandatangani nota kesepahaman pada 17 Juni. Kesepakatan tersebut sebelumnya diharapkan dapat menurunkan ketegangan antara Teheran dan Washington.

Iran dijanjikan keringanan sanksi, peluang menjual minyak kembali, akses terhadap dana yang dibekukan, serta potensi dana rekonstruksi hingga US$300 miliar. Sebagai imbalannya, Teheran diwajibkan membuka kembali Selat Hormuz dan berunding serius mengenai program nuklirnya.

Namun, laporan yang dikutip CNBC Indonesia menyebut kelompok garis keras di Teheran tidak menganggap perundingan sebagai jaminan perdamaian. Mereka dilaporkan menilai kesepakatan itu dapat dimanfaatkan AS dan Israel untuk meredakan tekanan pada ekonomi global sambil menyiapkan langkah berikutnya.

Jaringan Konflik Regional

Iran disebut memperluas koordinasi militernya melalui pengiriman penasihat ke Irak, Yaman, dan Lebanon. Pengiriman rudal, senjata laut, serta peluncur drone ke kawasan Laut Merah juga dilaporkan berlangsung.

WilayahPerkembangan yang DilaporkanKonsekuensi yang Disebut
Yaman dan Bab al-MandebSerangan Houthi ke kapal Arab SaudiAkses selat ditutup
IrakSerangan drone ke fasilitas minyak SaudiRisiko gangguan energi
Laut MerahPengiriman persenjataan dan peluncur droneKoordinasi konflik meluas
YordaniaPenembakan lima rudal balistikSejumlah tentara AS dilaporkan tewas

Milisi Houthi di Yaman dilaporkan kembali menyerang kapal-kapal Arab Saudi dan menutup akses Selat Bab al-Mandeb. Milisi di Irak juga disebut menyerang fasilitas minyak Saudi dengan drone, yang memperbesar risiko gangguan terhadap jalur energi regional.

Di Selat Hormuz, laporan penembakan kapal muncul setelah kesepakatan ditandatangani. Perkembangan itu menegaskan bahwa kewajiban pembukaan jalur pelayaran dalam nota kesepahaman belum serta-merta menghilangkan ketegangan di laut.

Penguatan Komando dan Produksi Persenjataan

Di dalam negeri, Iran dikabarkan memperkuat kendali IRGC atas angkatan bersenjata reguler dalam dua bulan terakhir. Veteran perang Iran-Irak disebut mendapat posisi penting dalam struktur militer dan keamanan.

Teheran juga dilaporkan memperluas operasi kontra-intelijen serta meningkatkan produksi rudal dan drone. Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Khamenei disebut melakukan perombakan besar di tubuh militer dan aparat keamanan untuk memperketat rantai komando.

Mohammad Hassan Sangtarash, analis pertahanan asal Teheran yang dekat dengan pemerintah Iran, mengatakan terdapat pandangan bahwa perang belum benar-benar dimulai. Ia menyebut pola Iran sebagai strategi “salami-slicing”, yaitu eskalasi bertahap dan terukur untuk melemahkan lawan sebelum kemungkinan konflik lebih besar.

Sikap Washington dan Peringatan Teheran

Trump dilaporkan memilih menahan diri sambil menunggu tekanan ekonomi dan blokade Angkatan Laut AS melemahkan posisi Teheran. Pada saat yang sama, pendekatan Iran terhadap negara-negara Teluk disebut menjadi lebih ofensif karena wilayah tersebut menjadi basis militer AS.

Mehdi Mohammadi, penasihat strategis perunding utama Iran, memperingatkan bahwa jalur damai yang sedang ditempuh dapat menjadi jeda sementara. “Bangsa Iran masih punya banyak urusan yang belum selesai dengan Trump. Iran siap menghadapi konfrontasi besar,” kata Mohammadi.

Baca Juga