Rupiah di pasar spot bertahan pada Rp17.877 per dolar AS pada Kamis, 13 Agustus 2026. Di saat yang sama, JISDOR Bank Indonesia bergerak melemah tipis dari Rp17.876 menjadi Rp17.882 per dolar AS.
Perbedaan arah kedua indikator itu muncul ketika pasar masih menahan langkah. Investor menunggu kejelasan agenda pimpinan Bank Indonesia sambil memantau risiko geopolitik dari Timur Tengah.
| Indikator | Posisi Sebelumnya | Posisi Terbaru |
|---|---|---|
| Kurs rupiah pasar spot | Rp17.877 per dolar AS | Rp17.877 per dolar AS |
| JISDOR Bank Indonesia | Rp17.876 per dolar AS | Rp17.882 per dolar AS |
Stabilnya kurs spot belum berarti sentimen pasar telah pulih sepenuhnya. Pelaku pasar masih memperhitungkan arah kebijakan moneter, perubahan indeks global, serta perkembangan hubungan Amerika Serikat dan Iran.
Ketidakpastian Timur Tengah Masih Diperhitungkan
Konflik di Timur Tengah tetap menjadi perhatian investor global, terutama terkait negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran. Belum adanya terobosan berarti dalam perundingan kedua negara membuat pasar mempertahankan sikap hati-hati.
Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, menyebut indeks telah stabil di bawah 100 dan harga minyak mulai melandai. Namun, perkembangan negosiasi AS dan Iran tetap dipantau karena dapat memengaruhi sentimen terhadap aset berisiko dan nilai tukar.
Faktor eksternal tersebut datang bersamaan dengan agenda domestik yang penting. Pasar kini menaruh perhatian pada proses pengisian posisi di jajaran pimpinan Bank Indonesia.
Calon Deputi Gubernur Menjadi Perhatian Baru
Pemerintah telah mengirim Surat Presiden untuk mengisi jabatan Deputi Gubernur Senior BI. Aida S Budiman diajukan sebagai calon untuk posisi itu.
Untuk jabatan Deputi Gubernur BI, pemerintah mengusulkan Solikin M Juhro dan M Anwar Bashori. Susunan pimpinan bank sentral dinilai relevan bagi investor karena berkaitan dengan pembacaan arah kebijakan moneter pada periode selanjutnya.
Rully menilai fokus pasar terhadap calon Deputi Gubernur BI ikut menjelaskan pergerakan rupiah yang terbatas. Kepastian mengenai kebijakan domestik menjadi kebutuhan pasar di tengah ketidakpastian eksternal.
“Rupiah pada perdagangan hari ini yang ditutup stabil lebih dipengaruhi oleh memudarnya euforia rilis MSCI dan fokus pelaku pasar mencermati calon Deputi Gubernur BI,” ujar Rully. Penilaian itu memperlihatkan sentimen domestik kembali menjadi pusat perhatian setelah pengumuman indeks global.
Dampak Awal MSCI Mulai Mereda
MSCI mengumumkan hasil MSCI Equity Indexes August 2026 Index Review pada 12 Agustus 2026 waktu Central European Summer Time. Penyesuaian tersebut akan berlaku pada penutupan perdagangan 31 Agustus 2026 dan efektif mulai 1 September 2026.
Pengumuman itu mencatat tidak ada saham Indonesia yang masuk ke MSCI Global Standard Index. Sebanyak dua saham Indonesia justru dikeluarkan dari indeks tersebut.
| Indeks MSCI | Saham Indonesia Masuk | Saham Indonesia Keluar |
|---|---|---|
| MSCI Global Standard Index | Tidak ada | 2 saham |
| MSCI Global Small Cap Index | 1 saham | 9 saham |
Pada MSCI Global Small Cap Index, satu saham Indonesia masuk dan sembilan saham lainnya keluar. Perubahan komposisi ini sempat menekan sentimen terhadap pasar saham domestik serta aset keuangan Indonesia.
Meski demikian, euforia awal terkait MSCI dinilai mulai pudar. Pergerakan rupiah berikutnya akan dipengaruhi oleh kepastian kebijakan dari Bank Indonesia serta dinamika ekonomi dan konflik global.






