Jangan Asal Pijat Perineum, Ibu Hamil dengan 3 Kondisi Ini Perlu Menunda

Pijat perineum tidak dianjurkan bagi ibu hamil yang mengalami perdarahan selama kehamilan, infeksi, atau luka di daerah vagina. Pada tiga kondisi tersebut, keputusan untuk melakukan pijatan perlu terlebih dahulu dikonsultasikan kepada dokter spesialis kebidanan dan kandungan yang merawat.

Langkah ini diperlukan agar persiapan menjelang persalinan sesuai dengan kondisi kehamilan masing-masing. Pijat perineum bukan tindakan yang wajib dilakukan dalam setiap kehamilan.

Bagi ibu hamil tanpa kondisi tersebut, pijat perineum dapat menjadi bagian dari persiapan persalinan pada trimester ketiga. Dokter spesialis obstetri dan ginekologi RS Pondok Indah–Pondok Indah, dr. Mario Krishna, Sp. O.G, menyebut pijatan biasanya dapat dimulai saat usia kehamilan 34 hingga 35 minggu.

Tujuan dan Teknik Dasar

Pijatan ditujukan untuk melenturkan otot-otot dasar panggul dan dinding perineum. Jaringan yang lebih lentur diharapkan dapat membantu mengurangi risiko robekan dinding perineum ketika persalinan berlangsung.

Pijat dapat dilakukan sendiri oleh ibu hamil maupun oleh suami. Tangan serta pelumas atau minyak pijat secukupnya digunakan dalam teknik dasar ini.

Telunjuk dan jari tengah dimasukkan ke dalam vagina hingga kedalaman sekitar 3 sampai 4 sentimeter. Ibu jari lalu digunakan untuk memijat dengan mempertemukannya dengan kedua jari di antara dinding vagina.

BagianPetunjuk Pijat
Waktu mulaiTrimester ketiga, sekitar 34–35 minggu.
Jari yang digunakanTelunjuk dan jari tengah, dibantu ibu jari.
Area pijatSetengah bagian bawah vagina.
Gerakan dan frekuensiMembentuk huruf U, 2 kali sehari selama 10–15 menit.

Gerakan diarahkan pada setengah bagian bawah vagina hingga membentuk huruf U. Pijatan dapat dilakukan dua kali sehari dengan durasi sekitar 10 hingga 15 menit.

Cairan Bening Tidak Selalu Menandakan Masalah

Di sisi lain, munculnya cairan vagina selama kehamilan kerap menimbulkan kekhawatiran, terutama pada trimester kedua dan ketiga. Cairan yang tidak berwarna atau bening pada umumnya dapat ditangani melalui perawatan kebersihan area intim yang tepat.

Dr. Mario Krishna menjelaskan area intim perempuan pada usia reproduktif umumnya lebih lembap. Kondisi ini berfungsi membantu menghambat bakteri masuk ke area vagina.

Keputihan saat hamil karena itu perlu dinilai berdasarkan karakter cairannya, bukan semata-mata dari keberadaan cairan vagina. Ibu hamil yang mengalami cairan bening dapat membersihkannya secara mandiri.

Aturan Pembersihan yang Tepat

Pembersihan vagina yang benar dapat membantu mengurangi risiko infeksi pada saluran reproduksi. Arah pembersihan menjadi bagian penting dalam menjaga kebersihan area tersebut.

Area intim dianjurkan dibersihkan satu arah dari depan ke belakang. Tisu yang telah digunakan tidak dipakai ulang, baik untuk gerakan dari belakang ke depan maupun untuk kembali membersihkan bagian depan.

Perhatian terhadap kebersihan area intim dan karakter cairan vagina dapat membantu ibu hamil menjalani masa kehamilan dengan lebih tepat. Bila terdapat kondisi lain yang menyertai, penanganannya perlu mengikuti pemeriksaan tenaga medis yang merawat.

Baca Juga