Penanganan obesitas perlu dimulai dengan mencari penyebabnya, bukan sekadar langsung mengubah pola makan. Dokter menilai pendekatan ini penting karena faktor yang memengaruhi obesitas dapat berbeda pada setiap orang.
Diet dan aktivitas fisik tetap penting dalam perubahan gaya hidup. Namun, penggunaan obat hingga kondisi medis tertentu juga dapat menjadi bagian dari masalah yang perlu dinilai.
Spesialis gizi klinis Rumah Sakit Brawijaya, dr Prinindita Artiara Dewi, SpGK, menyatakan penyebab obesitas bersifat multifaktorial. Kondisi tersebut membuat tata laksana perlu disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing pasien.
Mengapa Diet Saja Tidak Selalu Cukup
Satu pola diet tidak dapat diterapkan sebagai jawaban tunggal bagi seluruh orang dengan obesitas. Arah penanganan perlu ditentukan setelah faktor yang mendasari kondisi tersebut diketahui.
Pola makan adalah salah satu aspek yang perlu dievaluasi, tetapi bukan satu-satunya. Aktivitas fisik harian juga penting, sementara penggunaan obat dan masalah medis dapat memengaruhi kondisi pada sebagian orang.
| Faktor yang Dinilai | Keterangan |
|---|---|
| Pola makan | Termasuk kebiasaan gaya hidup yang perlu diperhatikan. |
| Aktivitas fisik | Perlu dievaluasi dalam rutinitas sehari-hari. |
| Penggunaan obat | Dapat memengaruhi obesitas pada sebagian individu. |
| Kondisi medis | Hipotiroid dan Cushing syndrome dapat berpengaruh. |
Hipotiroid dan Cushing syndrome disebut sebagai contoh kelainan hormon yang dapat berpengaruh. Penilaian atas faktor-faktor tersebut membantu melihat persoalan di balik kenaikan atau sulitnya penurunan berat badan secara lebih lengkap.
Perubahan Harian Menjadi Dasar Penanganan
Modifikasi gaya hidup tetap menjadi bagian mendasar dalam tata laksana obesitas. Perubahan itu mencakup kebiasaan makan dan aktivitas fisik yang dilakukan secara berulang setiap hari.
Dr Prinindita mengatakan seseorang sebaiknya memahami terlebih dahulu alasan ingin menurunkan berat badan. Kejelasan tujuan dapat membantu menentukan perubahan yang akan dijalankan dalam pengelolaan obesitas.
“Jadi yang pertama memang harus modifikasi gaya hidup karena kan kita makan kali sehari, kita bergerak juga setiap hari,” ujar dr Prinindita. Menurutnya, pola pikir juga perlu diubah sebelum menjalani langkah penanganan berikutnya.
Perubahan gaya hidup tidak hanya dipahami sebagai pembatasan makan. Langkah tersebut perlu dilihat sebagai bagian dari pengelolaan jangka panjang yang mempertimbangkan kondisi personal.
Perlu Penanganan yang Menyeluruh
Penanganan obesitas dapat melibatkan tim multidisiplin karena masalah yang dihadapi pasien tidak selalu sama. Penilaian terhadap pola makan, aktivitas, obat, dan kemungkinan kondisi medis menjadi bagian dari pendekatan ini.
Dalam agenda Health Corner bertajuk Kelola Obesitas Secara Aman, Waspada Produk Obat Abal-abal, isu keamanan produk obat juga turut dibahas. Kegiatan tersebut digelar bersama BPOM.
“Jadi itu dulu yang harus dicari tahu sebenarnya obesitasnya itu karena apa. Makanya perlu memang dilakukan tata laksana oleh tim multidisiplin ya,” tegas dr Prinindita, seperti dikutip health.detik.com.
Pendekatan menyeluruh membuat perhatian tidak terpaku pada angka berat badan semata. Penelusuran penyebab dan perubahan gaya hidup dapat dijalankan bersama agar penanganan sesuai dengan kondisi tiap orang.






