Iran disebut belum menunjukkan tanda-tanda menyerah setelah hampir enam minggu pengeboman. Situasi itu membuat Donald Trump dinilai membutuhkan langkah yang memungkinkan dirinya menjauh dari konflik sambil tetap menyatakan kemenangan.
Ali Vaez, direktur program Iran di International Crisis Group, mengatakan Trump mungkin sedang mencari langkah besar untuk membangun narasi kemenangan. Menurut Vaez, presiden Amerika Serikat itu belum mendapatkan kemenangan telak dalam konflik tersebut.
Tekanan untuk membuka kembali Selat Hormuz dapat menjadi salah satu pilihan yang memberi Trump ruang manuver. Keberhasilan pada jalur laut penting secara ekonomi itu berpotensi menghindarkan Washington dari keputusan yang lebih berat, termasuk pengerahan pasukan darat.
Trump menuntut Iran membuka Selat Hormuz dalam unggahan yang disertai ancaman konsekuensi berat. Ia juga mengklaim Iran berjanji untuk “menggali dan menyingkirkan” material nuklir.
Citra Pemimpin yang Sulit Ditebak
Gaya komunikasi Trump yang meledak-ledak dalam konflik Iran dinilai bukan hanya luapan emosi. Sejumlah pengamat melihatnya sebagai penggunaan Madman Theory, strategi untuk membuat lawan percaya bahwa pemimpin dapat bertindak di luar perkiraan.
Dalam strategi tersebut, ancaman keras berfungsi membangun ketidakpastian atas batas tindakan yang mungkin diambil. Ketakutan akan langkah ekstrem diharapkan dapat mendorong lawan menerima perundingan atau memberi konsesi.
Daniel Drezner, Profesor Politik Internasional di The Fletcher School, menilai Trump beberapa kali sengaja membentuk reputasi sebagai sosok yang tidak terduga pada masa jabatan pertamanya. Pendekatan itu pernah terlihat jelas dalam kebijakan terhadap Korea Utara dan negosiasi dengan Korea Selatan.
| Fokus tekanan | Contoh tindakan | Tujuan yang terlihat |
|---|---|---|
| Iran dan perundingan damai | Ancaman terhadap peradaban serta infrastruktur | Mendorong keterlibatan Teheran |
| Selat Hormuz | Tuntutan pembukaan kembali jalur laut | Menekan Iran terkait akses ekonomi |
| Korea Utara | Ancaman kekuatan besar pada 2017 | Membangun citra tindakan ekstrem |
| Korea Selatan | Isyarat keluar dari perjanjian dagang | Mendapatkan konsesi negosiasi |
Ancaman 7 April dan Pertemuan di Pakistan
Pada 7 April, Trump mengatakan “seluruh peradaban Iran akan musnah malam ini” jika Teheran menolak ikut dalam perundingan damai. Ancaman itu mencakup kemungkinan penghancuran infrastruktur sipil dan pembangkit listrik Iran.
Langkah tersebut tidak jadi dilakukan setelah pembicaraan tatap muka dijadwalkan berlangsung di Pakistan. Peristiwa itu menjadi contoh bagaimana ancaman dapat dipakai untuk menaikkan tekanan menjelang pembukaan jalur diplomasi.
Meski dapat memperkuat posisi tawar, retorika apokaliptik juga berisiko mengurangi ruang kompromi. Strategi ini hanya efektif apabila pihak lawan menilai ancaman sebagai sinyal yang kredibel, bukan sekadar retorika politik.
Akar Strategi pada Era Nixon
Teori Orang Gila dikenal luas melalui Richard Nixon pada masa Perang Vietnam. Nixon disebut mengungkapkan gagasan itu kepada calon kepala staf Gedung Putih Bob Haldeman pada 1968, sebelum ia terpilih menjadi presiden.
Buku The Arrogance of Power karya Anthony Summers mengisahkan Nixon ingin Vietnam Utara percaya bahwa ia dapat melakukan apa saja untuk menghentikan perang. Nixon juga ingin membentuk kesan sebagai pemimpin yang terobsesi pada komunisme dan memegang kendali atas tombol nuklir.
CNN Indonesia melaporkan Trump diam-diam mengagumi pendekatan Nixon itu. Pada 2017, Trump meningkatkan retorika terhadap Korea Utara dengan ancaman “api, amarah, dan terus terang kekuatan yang belum pernah dilihat dunia sebelumnya.”
Di Majelis Umum PBB sebulan kemudian, Trump menyebut Kim Jong Un sebagai “Manusia Roket” dan mengatakan Amerika Serikat dapat “menghancurkan Korea Utara sepenuhnya.” Jonathan Swan dari Axios juga melaporkan Trump meminta Robert Lighthizer memberi tahu mitra Korea Selatan bahwa ia dapat menarik diri dari perjanjian perdagangan bebas kapan saja.






