IP 2,39 pada masa awal kuliah tidak menghentikan M Fauzan Adhiima untuk menekuni fisika eksperimen. Mahasiswa angkatan 2022 di Institut Teknologi Bandung itu kini tercatat sebagai penulis riset yang terbit dalam publikasi Q1 Elsevier.
Capaian tersebut lahir setelah kegagalan material, kalibrasi yang berulang kali tidak berhasil, serta revisi manuskrip dengan keterbatasan fasilitas laboratorium. Fauzan menemukan arah minatnya ketika pembelajaran fisika mulai berhubungan dengan proses yang dapat dibangun dan diukur langsung.
Perubahan Arah pada Semester 4
ITB merupakan pilihan kedua Fauzan saat ia masuk ke Program Studi Fisika FMIPA. Ia mengakui kemampuan dasar sainsnya tertinggal, sehingga Tahap Persiapan Bersama pada tahun pertama menjadi masa untuk bertahan mengikuti ritme kuliah.
Ketertarikannya terhadap bidang eksperimen menguat saat mengambil mata kuliah Sistem Instrumentasi dan Eksperimen Fisika pada semester 4. Ia menyukai sisi fisika yang berkaitan dengan objek dan proses yang dapat dipegang, diukur, serta dibuat sendiri.
Menurut unggahan FMIPA ITB yang dikutip detik.com, Fauzan menikmati proses pencarian jawaban lewat percobaan. “Kesenangannya bukan pada rumus yang elegan, tetapi pada proses mencoba, gagal, mencoba lagi-sampai solusi ditemukan,” kata Fauzan.
Gagal Data, Berganti Material
Risetnya dimulai dengan pengujian material pada Mei 2025 yang menghasilkan data tidak konsisten. Atas saran pembimbing Prof Dr Eng Muhammad Miftahul Munir, SSi, MSi, ia beralih menggunakan sistem bubuk Fe-Zn.
Pengukuran setelah itu dilakukan manual selama Juni hingga November 2025. Fauzan harus menimbang dan menekan sampel, mengukur ketebalan, kemudian mencatat hasilnya dengan tangan.
Pada Desember 2025, ia merancang dan merakit CAAI 2013 sebagai alat ukur resistivitas bubuk otomatis. Pembuatan alat tersebut menjadi bagian dari upayanya menata proses pengukuran yang sebelumnya dikerjakan manual.
| Periode | Fokus Pekerjaan | Kendala atau Hasil |
|---|---|---|
| Mei 2025 | Material awal | Data tidak konsisten, kemudian beralih ke bubuk Fe-Zn. |
| Juni–November 2025 | Pengukuran manual | Sampel diproses dan hasilnya dicatat secara manual. |
| Desember 2025 | CAAI 2013 | Alat pengukuran resistivitas bubuk otomatis dirancang. |
| Januari–Maret 2026 | Kalibrasi ketebalan | Koreksi matematis digunakan setelah kalibrasi gagal berulang kali. |
| Maret–Mei 2026 | Analisis resistivitas | Perbedaan sampai 56 kali lipat ditemukan pada komposisi identik. |
| Mei–Agustus 2026 | Revisi manuskrip | Bukti alternatif diterima sebagai pengganti XPS dan TEM. |
Temuan dan Revisi yang Menentukan
Kalibrasi ketebalan berlangsung dari Januari sampai Maret 2026 dan berulang kali gagal. Fauzan akhirnya menggunakan koreksi matematis pascapengukuran sebagai solusi untuk melanjutkan penelitian.
Analisis dari Maret hingga Mei 2026 menghasilkan temuan perbedaan resistivitas hingga 56 kali lipat. Dua konfigurasi sampel yang dibandingkan memiliki komposisi identik, sehingga hasil itu mengarah pada peran topologi kontak.
Pada tahap revisi, reviewer meminta pengujian XPS dan TEM yang tidak tersedia di laboratorium. Fauzan mencari bukti alternatif selama tiga pekan dan reviewer menerima validitas bukti tersebut.
Artikel Configuration-dependent in-situ electrical resistivity in Fe-Zn binary powder compacts: Sandwich asymmetry and the role of punch-contact topology kemudian terbit pada 4 Agustus 2026 dalam Volume 485 Part 1. Publikasi itu menjadi hasil dari proses riset yang berulang kali menghadapi jalan buntu.
Memahami Proses Akademik
Fauzan memandang IP rendah bukan sebagai akhir perjalanan akademik, melainkan awal untuk memahami bidang yang ingin ditekuni. Ia menyarankan agar setiap kegiatan dihubungkan dengan hal yang disukai, terutama ketika hasil percobaan harus diulang.
“Anggap semuanya sebagai perjalanan dari ceritamu sendiri. Nikmati perjalanannya. Ada kalanya kita tertawa, ada kalanya kita bersedih. Keduanya bagian dari cerita yang sama,” ujarnya.
Ia juga menekankan keberanian menerima keadaan dan berani salah dalam proses belajar. Mengenali emosi serta mengevaluasi kegiatan yang telah, sedang, dan akan dikerjakan juga menjadi pelajaran yang ia bagikan.






