Pertambahan investasi tidak selalu berbanding lurus dengan penciptaan pekerjaan bagi tenaga kerja terdidik. Ketika investasi tumbuh di sektor padat modal, ruang untuk menyerap lulusan perguruan tinggi dapat tetap terbatas.
Kondisi tersebut menjadi salah satu persoalan struktural yang disoroti di tengah 1,03 juta lulusan D4, S1, S2, dan S3 yang menganggur. Jumlah itu setara 14,31 persen dari keseluruhan pengangguran berdasarkan pendidikan tertinggi yang ditamatkan.
Wakil Rektor Bidang Riset, Kerjasama, dan Digitalisasi Universitas Muhammadiyah Surabaya, Dr. Radius Setiyawan, M.A., menilai pertanyaan pentingnya bukan hanya alasan sarjana belum memperoleh pekerjaan. Struktur ekonomi juga perlu dilihat dari kemampuannya menciptakan pekerjaan berkualitas dalam jumlah memadai.
“Ketika pekerjaan berkualitas tidak tumbuh sebanding dengan jumlah tenaga kerja terdidik, modal pendidikan semakin sulit dikonversikan menjadi modal ekonomi,” kata Radius. Pernyataan itu disampaikan dalam keterangan yang dimuat situs Universitas Muhammadiyah Surabaya pada Agustus 2026.
Menurut Radius, deindustrialisasi ikut relevan dalam membaca persoalan pengangguran terdidik. Investasi yang semakin banyak masuk ke sektor padat modal tidak selalu menghasilkan kesempatan kerja dalam jumlah sebanding.
“Kalau investasi semakin banyak masuk ke sektor padat modal, tetapi penciptaan pekerjaan tidak sebanding, kita menghadapi persoalan struktural,” ujarnya. Dalam situasi itu, jumlah lulusan perguruan tinggi terus bertambah, sedangkan jalur menuju penghasilan tetap tetap terbatas.
Data Survei Angkatan Kerja Nasional atau Sakernas Mei 2026 dari Badan Pusat Statistik menggambarkan sebaran pengangguran berdasarkan latar pendidikan. Lulusan SMA tercatat sebagai kelompok dengan porsi terbesar, diikuti lulusan SMK.
| Pendidikan Tertinggi | Porsi Pengangguran | Keterangan |
|---|---|---|
| SMA | 28 persen | Kelompok tertinggi |
| SMK | 22,39 persen | Kelompok kedua tertinggi |
| D4, S1, S2, dan S3 | 14,31 persen | Setara 1,03 juta orang |
Ijazah Hanya Salah Satu Modal
Besarnya jumlah lulusan terdidik yang belum bekerja memperlihatkan bahwa ijazah belum otomatis menjamin akses setara ke pasar kerja. Radius menjelaskan hal ini melalui pemikiran sosiolog Pierre Bourdieu tentang modal budaya.
Dalam kerangka tersebut, ijazah merupakan modal budaya yang tidak selalu langsung berubah menjadi modal ekonomi berupa pekerjaan dan pendapatan. “Ijazah itu modal budaya. Tetapi modal budaya tidak otomatis berubah menjadi modal ekonomi,” kata Radius.
Peralihan dari pendidikan ke pekerjaan juga dipengaruhi oleh modal sosial yang dibawa seorang lulusan. Jaringan, relasi, pengalaman kerja, kemampuan bahasa, akses teknologi, serta dukungan ekonomi keluarga dapat membuka peluang yang berbeda.
“Orang bisa sama-sama sarjana, tetapi kapital yang dimiliki berbeda,” ujar Radius. Karena itu, tingkat pendidikan yang sama tidak otomatis menghasilkan posisi tawar yang setara dalam persaingan mencari kerja.
Garis Awal Karier yang Berbeda
Radius menekankan bahwa generasi muda tidak memulai dari garis awal yang sama. Sebagian lulusan telah memiliki jaringan dan pengalaman, sementara sebagian lain harus memasuki pasar kerja dengan ijazah sebagai modal utama.
Perbedaan privilege itu membuat pengalaman lulusan yang berhasil memperoleh pekerjaan tidak dapat diterapkan sebagai gambaran bagi seluruh sarjana. Ketimpangan sosial dan ekonomi dapat menentukan siapa yang lebih mudah mengubah pendidikan menjadi pekerjaan.
Persoalan pengangguran sarjana karena itu tidak tepat jika hanya dibebankan kepada individu atau perguruan tinggi. Ketersediaan lapangan kerja berkualitas dan pemerataan akses terhadap modal sosial menjadi bagian penting dari konteks yang lebih luas.






