RTX Pro 6000 96GB Tembus USD 16.000, Biaya Komputasi Berat Makin Menekan

Harga Nvidia RTX Pro 6000 96GB Blackwell kini mencapai USD 16.000, atau sekitar Rp 285 juta. Banderol GPU workstation ini melonjak sekitar 110% dibandingkan harga pre-order awal yang sedikit di atas USD 7.600.

Kenaikan tersebut memperlihatkan bahwa tekanan biaya komponen telah menjangkau perangkat untuk grafis profesional dan komputasi berat. Pengguna yang membutuhkan GPU berkapasitas memori besar kini menghadapi biaya investasi perangkat yang jauh lebih tinggi.

Lonjakan Terjadi dalam Beberapa Tahap

RTX Pro 6000 semula ditawarkan melalui pre-order pada awal 2025 dengan harga sedikit di atas USD 7.600. Pada bulan berikutnya, harga yang tercatat telah berada di sekitar USD 8.500.

Memasuki Juni 2026, harga GPU enterprise tersebut telah mencapai USD 13.000. Kenaikan terbaru ke USD 16.000 membuat harganya lebih dari dua kali lipat dibandingkan penawaran awal.

Model GPUHarga Awal/RilisHarga Tercatat TerbaruPerubahan
RTX Pro 6000 96GB BlackwellSedikit di atas USD 7.600USD 16.000Naik sekitar 110%
RTX 5090USD 2.000USD 4.000Naik dua kali lipat
RTX 5070USD 549Sekitar USD 900Naik hampir 65%
RTX 5050USD 249Lebih dari USD 300Di atas MSRP

Tekanan Harga Menjalar ke GPU Konsumen

Lonjakan tidak hanya terjadi pada lini workstation Nvidia. Jajaran GPU konsumen juga dilaporkan mengalami kenaikan harga hingga 150% dalam beberapa bulan terakhir.

RTX 5090 menjadi salah satu model yang paling terdampak di segmen konsumen kelas atas. Hingga Agustus 2026, harganya menembus USD 4.000, padahal harga peluncurannya pada awal tahun berada di USD 2.000.

Tekanan serupa juga terlihat pada RTX 5070 yang dijual sekitar USD 900 di Newegg dan Amazon. Angka itu terpaut jauh dari harga rilis USD 549.

Pada kelas yang lebih terjangkau, RTX 5050 dijual lebih dari USD 300. Nilai tersebut telah melampaui MSRP awalnya yang ditetapkan pada USD 249.

Memori Menjadi Titik Tekanan Utama

Menurut laporan inet.detik.com, perubahan harga GPU berkaitan dengan krisis pasokan memori di industri teknologi. Permintaan untuk kebutuhan komputasi AI disebut menjadi salah satu faktor utama yang mempersempit ketersediaan komponen.

GPU modern membutuhkan memori berkapasitas besar, terutama untuk pekerjaan workstation dan pemrosesan AI. Pasokan yang terbatas di tengah kenaikan permintaan dapat menaikkan biaya produksi kartu grafis.

CEO SK Hynix Kwak Noh-Jung bulan lalu memperingatkan bahwa 2027 diproyeksikan menjadi tahun terburuk bagi industri memori. Ia menilai permintaan masih berpotensi melampaui ketersediaan pasokan bahkan hingga melewati 2030.

Peneliti ilmu komputer dan pakar performa perangkat lunak Daniel Lemire menyebut lonjakan harga memori sebagai sebuah “anomali sejarah”. Menurutnya, kondisi itu secara efektif menghapus tren penurunan biaya komponen secara eksponensial yang telah berlangsung stabil selama puluhan tahun.

Dampak Berpotensi Meluas ke Perangkat Lain

Keterbatasan memori dapat memengaruhi lebih banyak perangkat daripada kartu grafis. Laptop, desktop, smartphone, konsol video game, serta elektronik konsumen lain memakai rantai pasokan komponen yang saling terhubung.

Bagi perakit PC, kondisi ini membuat rencana peningkatan perangkat menjadi lebih mahal, terutama pada GPU kelas tinggi. Profesional grafis dan pengguna komputasi berat juga harus memperhitungkan kenaikan biaya ketika kebutuhan memori terus bertambah.

Baca Juga