Industri kapal Indonesia dinilai tidak kekurangan kemampuan produksi untuk melayani kebutuhan pasar. Hambatan yang lebih mendesak adalah pembiayaan yang mampu bersaing, terutama melalui bunga rendah dan tenor kredit panjang.
Ketua Umum Institusi Perkapalan dan Sarana Lepas Pantai Indonesia, Anita Puji Utami, menyatakan galangan nasional telah memadai untuk membangun kapal baru serta melakukan perawatan dan reparasi. Ia menilai keberpihakan kebijakan dan dukungan pemerintah diperlukan agar kemampuan itu menghasilkan pertumbuhan industri.
Usulan utama dari pelaku industri adalah pembiayaan kapal berbunga single digit dengan tenor 10 hingga 15 tahun. Kemudahan menjadikan kapal yang masih dibangun sebagai agunan juga dipandang dapat memperlancar pendanaan proyek.
Kebutuhan pembiayaan tersebut berhadapan dengan peluang pasar yang datang dari banyak arah. Kementerian, lembaga, BUMN, dan sektor hulu maupun hilir migas termasuk pihak yang membutuhkan kapal.
Permintaan juga dapat muncul dari pertambangan mineral dan batu bara. Modernisasi armada perikanan serta peremajaan kapal yang berumur lebih dari 25 tahun menambah ruang pasar bagi produsen dalam negeri.
Kemampuan Galangan Nasional
Galangan di Indonesia disebut sanggup membangun sekitar 1.200 unit kapal per tahun. Kemampuan tersebut melengkapi layanan reparasi yang mencapai 36.000 dock space.
| Aspek Industri | Kapasitas | Peran |
|---|---|---|
| Pembangunan kapal | Sekitar 1.200 unit per tahun | Produksi kapal baru |
| Reparasi kapal | 36.000 dock space | Perawatan dan perbaikan |
| Anggota IPERINDO | 275 perusahaan | Galangan dan jasa pendukung maritim |
Kapasitas tersebut tidak berdiri sendiri karena industri penunjang di dalam negeri telah menghasilkan berbagai kebutuhan kapal. Pelat baja, pipa, kabel, cat, mesin diesel, dan genset termasuk produk yang telah tersedia.
Komponen lain yang diproduksi nasional mencakup crane, pompa, main switch board, steering gear, dan winch. Pintu, jendela, railing, serta furnitur kapal juga tersedia dari produsen dalam negeri.
IPERINDO menghimpun 275 anggota sejak berdiri pada 11 Maret 1968. Organisasi itu menaungi 143 galangan kapal, 122 industri penunjang, tiga biro klasifikasi, dan tujuh perusahaan konsultan jasa maritim.
Riset untuk Memperkuat Teknologi
Penguatan industri perkapalan juga diarahkan melalui riset dan penguasaan teknologi. Mediaindonesia.com melaporkan Presiden Prabowo Subianto meminta perguruan tinggi menyiapkan riset untuk memperkuat industri kapal.
Arahan tersebut disampaikan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto setelah rapat terbatas di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta. “Harapannya ke depan industri kapal kita tumbuh jadi kami, perguruan tinggi, diminta menyiapkan penguasaan teknologinya, riset-risetnya ke arah industri kapal kita,” kata Brian.
Brian menilai Kemendiktisaintek, perguruan tinggi, guru besar, dan PT PAL Indonesia dapat memanfaatkan riset serta kajian untuk mendukung kemajuan sektor ini. Penguasaan teknologi dipandang penting untuk menopang perkembangan industri kapal dalam jangka panjang.
IPERINDO turut membawa kemampuan anggotanya ke INAMARINE 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta. Booth bersama seluas 114 meter persegi itu diisi oleh 20 perusahaan anggota yang memperkenalkan industri kapal, sektor penunjang, dan teknologi maritim Indonesia.
Pengembangan sektor perkapalan diarahkan untuk memenuhi kebutuhan angkutan penumpang, barang, dan logistik. Karakter Indonesia yang banyak terhubung melalui laut dan sungai membuat produksi kapal dalam negeri juga berpotensi menciptakan lapangan kerja.
Dengan kapasitas galangan dan industri penunjang yang telah tersedia, akses pendanaan menjadi salah satu faktor penting dalam merealisasikan permintaan pasar. Regulasi yang konsisten dapat menentukan seberapa besar peluang tersebut diserap oleh industri nasional.






