Setelah Naik 100 Basis Poin, BI Rate Berpeluang Kembali Menyentuh 6% pada Juli

Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga acuan secara kumulatif 100 basis poin sepanjang semester I-2026. Menjelang keputusan berikutnya, mayoritas ekonom dan analis memandang BI Rate masih berpeluang naik 25 basis poin menjadi 6%.

Jika proyeksi itu terwujud, suku bunga acuan akan kembali menyentuh level yang sama dengan Desember 2024. Keputusan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia dijadwalkan diumumkan pada 22 Juli 2026.

Ekspektasi Kebijakan Ketat Masih Dominan

Survei BIG Consensus Insights menunjukkan 77,78% responden menilai arah kebijakan moneter Bank Indonesia masih cenderung hawkish. Penilaian ini mencerminkan kemungkinan tingkat bunga tinggi dipertahankan lebih lama untuk meredakan tekanan makroekonomi.

Langkah pengetatan sebelumnya menjadi konteks penting bagi pasar saat menunggu keputusan Juli. Kebijakan bunga dinilai berkaitan dengan upaya menjaga stabilitas makroekonomi, terutama ketika tekanan terhadap rupiah masih diperhatikan.

Kelompok yang memproyeksikan kenaikan menilai suku bunga 6% dapat mendukung penguatan stabilitas nilai tukar dan menjaga ekspektasi inflasi. Namun, sebagian responden tetap melihat suku bunga 5,75% dapat dipertahankan.

Mayoritas Ada, Tetapi Tidak Jauh

DataIndonesia, bagian dari Bisnis Indonesia Group, menghimpun pandangan 18 ekonom dan analis dalam survei tersebut. Sebanyak 10 responden atau 55,56% memperkirakan kenaikan suku bunga pada RDG Juli 2026.

Delapan responden lain atau 44,44% memilih skenario suku bunga tetap di 5,75%. Nilai tengah dari proyeksi yang terkumpul berada pada level 6%.

Perkiraan Keputusan RDGJumlahPersentase
BI Rate menjadi 6%1055,56%
BI Rate tetap 5,75%844,44%

Perbedaan yang tidak lebar itu menunjukkan hasil RDG masih dipandang bergantung pada perkembangan sejumlah indikator. Pasar akan menilai keputusan tersebut sebagai respons terhadap kombinasi risiko domestik dan eksternal.

Nilai Tukar Menjadi Pertaruhan Utama

Stabilitas rupiah memperoleh bobot 32,61% sebagai faktor yang paling banyak dipertimbangkan responden. Posisi ini jauh di atas arus modal asing yang berada di urutan kedua dengan bobot 19,57%.

Inflasi domestik dan kebijakan suku bunga The Fed masing-masing berbobot 15,22%. Risiko geopolitik menyumbang bobot 8,7% dalam pembentukan proyeksi kebijakan.

Dasar PertimbanganBobot Survei
Stabilitas nilai tukar rupiah32,61%
Arus modal asing19,57%
Inflasi domestik15,22%
Kebijakan suku bunga The Fed15,22%
Risiko geopolitik8,7%

Pertumbuhan ekonomi domestik, harga komoditas, dan likuiditas perbankan juga masuk dalam perhatian responden. Faktor-faktor tersebut memperlihatkan bahwa keputusan bank sentral tidak semata-mata dibaca melalui angka inflasi.

RDG Juli akan menjadi momen penting untuk melihat apakah Bank Indonesia melanjutkan pengetatan atau mempertahankan suku bunga saat ini. Kenaikan ke 6% menjadi proyeksi mayoritas, tetapi dukungan terhadap skenario penahanan bunga tetap cukup besar.

Baca Juga