IHSG telah melampaui level 6.480, tetapi pasar belum lepas dari risiko perubahan arah. Agenda BI Rate dan publikasi FOMC Minutes menjadi dua faktor yang akan menentukan apakah penguatan indeks dapat berlanjut.
Indeks berada di 6.476,61 pada pukul 14.22 WIB, Selasa, 18 Agustus 2026, atau naik 1,17%. Sebelumnya, pada akhir sesi I, IHSG sempat menyentuh 6.482,57 setelah naik 1,26% atau 80,68 poin.
Pasar Menilai Kekuatan Kenaikan di Atas Resistance
Level 6.455 kini menjadi area penting karena telah dilewati oleh indeks. Technical Analyst BRI Danareksa Sekuritas Reza Diofanda melihat kondisi itu dalam kerangka struktur bullish jangka pendek.
Menurut Reza, IHSG bertahan di atas rata-rata pergerakan 20 hari atau MA20. Posisi tersebut mendukung peluang pengujian area 6.455 dan menjadi dasar untuk menilai kelanjutan penguatan.
“Secara teknikal, IHSG masih berada dalam short-term bullish structure dan bertahan di atas MA20, sehingga peluang menguji 6.455 masih terbuka,” kata Reza dalam risetnya. Apabila breakout di atas level tersebut terkonfirmasi, target kenaikan berikutnya berada pada 6.568 hingga 6.716.
Area support yang dipantau berada di rentang 6.200–6.280. Sementara resistance penting yang menjadi perhatian pasar sebelumnya berada pada kisaran 6.400–6.455.
| Titik Perdagangan | Level IHSG | Perubahan |
|---|---|---|
| Penutupan 14 Agustus 2026 | 6.401,89 | Naik 1,59% |
| Pukul 09.02 WIB | 6.470,45 | Naik 1,07% |
| Akhir sesi I | 6.482,57 | Naik 1,26% |
| Pukul 14.22 WIB | 6.476,61 | Naik 1,17% |
Optimisme Tetap Disertai Skenario Koreksi
MNC Sekuritas memandang indeks masih berpeluang menguat dalam rentang 6.440–6.544. Kenaikan volume pembelian dan posisi IHSG di atas MA20 menjadi dua faktor teknikal yang mendukung proyeksi itu.
Meski begitu, MNC Sekuritas juga menyiapkan skenario yang berlawanan. Dalam kondisi terburuk, indeks berpotensi terkoreksi menuju 5.890–6.192 untuk membentuk wave (b).
Data perdagangan sesi I menunjukkan sentimen positif masih cukup luas. Sebanyak 413 saham menguat, sedangkan 235 saham melemah dan 315 saham stagnan.
Perhatian Beralih ke Kebijakan Domestik dan Global
Pasar menantikan hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang diperkirakan mempertahankan BI Rate pada 5,75%. Hasil rapat akan diperhatikan untuk melihat konsistensi arah kebijakan moneter domestik.
Di Amerika Serikat, investor akan mencermati FOMC Minutes untuk mencari petunjuk langkah suku bunga The Fed. Dokumen itu menjadi penting karena perubahan ekspektasi kebijakan global dapat memengaruhi sentimen terhadap aset pasar berkembang.
Di dalam negeri, pidato Presiden Prabowo Subianto mengenai RAPBN 2027 sebelumnya memberi dukungan sentimen. Pasar merespons target defisit anggaran 2,40% dari produk domestik bruto serta optimisme pertumbuhan ekonomi hingga 6% pada 2026.
Tim Riset Phintraco Sekuritas menilai prospek pertumbuhan ekonomi dapat memperkuat persepsi terhadap kinerja korporasi domestik. Presiden menyebut pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,45% hingga semester I-2026, yang disebut sebagai tertinggi dalam 13 tahun terakhir.
Rupiah juga menguat 0,28% menjadi Rp17.827 per dolar AS pada 14 Agustus 2026. Penguatan ini dikaitkan dengan target asumsi nilai tukar RAPBN 2027 sebesar Rp17.500 per dolar AS.
Penguatan IHSG setelah menembus resistance awal membuat reaksi pasar terhadap agenda moneter menjadi semakin penting. Investor akan memantau apakah sentimen dari Bank Indonesia dan The Fed mampu menjaga indeks di atas area teknikal yang kini menjadi penopang.






