Minyak Jadi Penentu Reli Emas, Harga Pulih 9 Persen di Tengah Risiko Timur Tengah

Penurunan harga minyak dunia memberi ruang bagi emas untuk pulih 9 persen ke sekitar 4.400 dolar AS per troy ounce pada Selasa, 18 Agustus 2026. Namun, kelanjutan kenaikan logam mulia ini masih sangat bergantung pada apakah ketegangan Timur Tengah kembali mengerek harga energi.

Pasar menilai minyak sebagai faktor utama yang dapat mengubah perhitungan investor dalam waktu dekat. Lonjakan harga energi berpotensi membatasi ruang penguatan emas meski minat beli institusi kembali terlihat.

Stabilitas Energi Menopang Prospek Emas

James Steel, Kepala Analis Logam Mulia di HSBC, menyatakan arah emas akan lebih kondusif apabila minyak tidak kembali menjadi fokus utama pasar. Kondisi tersebut menandakan situasi Timur Tengah tidak berkembang hingga memicu lonjakan harga minyak.

“Jika harga minyak tidak kembali menjadi pusat perhatian, artinya situasi di Timur Tengah tidak memanas hingga memicu lonjakan harga minyak maka tampaknya arah pergerakan emas yang paling mungkin terjadi adalah kenaikan,” ungkap Steel. Pandangan itu menempatkan perkembangan energi sebagai penentu penting bagi sentimen emas.

Kejutan awal konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran mulai mereda, sehingga tekanan terhadap pasar emas berkurang. Perlambatan inflasi Amerika Serikat juga ikut mendukung penguatan harga komoditas tersebut di pasar internasional.

Ross Norman, analis independen, menggambarkan perubahan kondisi pasar sebagai pelepasan hambatan yang lama menahan emas. “Rasanya seolah-olah ‘rem tangan’ yang selama ini menahan pergerakan emas akhirnya telah dilepaskan,” ujarnya.

Faktor PasarData atau KondisiDampak terhadap Emas
Pemulihan hargaNaik 9 persen ke sekitar 4.400 dolar ASSentimen beli menguat
Harga minyakMenurunMemberi ruang penguatan
ETF emasTambah 7 miliar dolar ASArus dana masih lambat
Rata-rata 200 hari4.504 dolar ASResistensi teknikal berikutnya

Permintaan Asia Menguat di Emas Batangan

Pembelian besar terlihat pada emas batangan berukuran besar di sejumlah pusat pasar Asia, termasuk China. Tingginya premi perdagangan mengindikasikan sovereign wealth funds dan bank sentral kembali mengumpulkan aset emas.

Pembelian institusional menjadi salah satu penopang pemulihan harga ketika permintaan fisik perhiasan masih lesu. Steel menilai institusi besar tengah berupaya membangun kembali posisi kepemilikan sebelum konflik Iran.

“Menurut saya, ini sebenarnya merupakan upaya institusi besar untuk membangun kembali posisi kepemilikan emas yang mereka miliki sebelum konflik di Iran terjadi,” ujar Steel. Aktivitas itu mencerminkan perbedaan antara permintaan institusional dan minat beli perhiasan yang belum pulih.

Arus masuk ke ETF berbasis emas juga belum bergerak secepat pembelian institusi. World Gold Council mencatat tambahan dana 7 miliar dolar AS pada paruh pertama Agustus 2026.

Total dana kelolaan ETF emas pada periode tersebut mencapai 582 miliar dolar AS. Data itu menunjukkan aliran dana tetap bertambah, tetapi lajunya masih relatif lambat.

Resistensi 4.504 Dolar AS Menanti

Harga emas telah menembus dua level resistensi utama sepanjang Agustus 2026. Kenaikan berikutnya kini akan menghadapi rata-rata pergerakan 200 hari pada 4.504 dolar AS.

Relative Strength Index atau RSI juga mendekati area jenuh beli dalam jangka pendek. Kondisi ini menandakan reli telah berlangsung cepat dan membuka peluang jeda teknikal.

Perundingan damai yang masih tertahan membuat pasar belum dapat mengabaikan risiko geopolitik. Selama konflik dan harga energi belum benar-benar stabil, emas akan bergerak di antara dukungan pembelian institusi dan kewaspadaan terhadap perubahan sentimen global.

Baca Juga