Pasar Menunggu Batas 6.230-6.370, IHSG Tertekan Rebalancing MSCI

Pergerakan IHSG pada Jumat (14/8/2026) diperkirakan tertahan di rentang 6.230 hingga 6.370 setelah indeks turun ke 6.301,7. Kisaran sideways tersebut menjadi perhatian utama pasar karena tekanan rebalancing MSCI dan aksi ambil untung belum sepenuhnya reda.

Phintraco Sekuritas menilai indeks masih mampu bertahan di atas MA20. Meski demikian, ruang gerak yang terbatas menunjukkan investor masih menunggu arah berikutnya setelah koreksi pada perdagangan Kamis (13/8/2026).

Dalam ulasannya pada Kamis, Phintraco Sekuritas menyatakan, “Sehingga diperkirakan IHSG akan bergerak sideways pada kisaran 6.230-6.370 pada perdagangan Jumat (14/8/2026).” Rentang itu menempatkan level 6.230 sebagai area bawah dan 6.370 sebagai area atas yang perlu diperhatikan.

Tekanan Muncul dari Penyesuaian Portofolio

IHSG menutup perdagangan Kamis dengan penurunan 1,13 persen ke level 6.301,7. Koreksi tersebut dikaitkan dengan pelepasan portofolio dalam rebalancing indeks MSCI Agustus 2026.

Aksi ambil untung ikut menekan saham domestik pada perdagangan sebelumnya. Investor juga mengantisipasi pidato kenegaraan Presiden Prabowo mengenai RAPBN 2027, sehingga pasar dihadapkan pada sejumlah faktor yang perlu dicermati secara bersamaan.

Secara teknikal, histogram positif MACD yang terus menyempit menjadi tanda bahwa momentum penguatan melemah. Kondisi ini membuka risiko terbentuknya pola Death Cross, walaupun IHSG masih berada di atas MA20.

Dua Skenario dari MNC Sekuritas

MNC Sekuritas melihat peluang rebound IHSG menuju area 6.440 hingga 6.544. Namun, proyeksi tersebut berdampingan dengan risiko koreksi menuju 5.890 sampai 6.192.

Dua skenario itu menggambarkan ketidakpastian arah indeks setelah penurunan Kamis. MNC Sekuritas memilih BMRI, INDF, RAJA, dan ULTJ untuk transaksi harian Jumat di tengah kondisi pasar tersebut.

Obligasi dan Rupiah Bergerak Berlawanan

Saat saham melemah, Rupiah menguat 0,03 persen ke Rp17.870 per dolar AS. Aksi beli di pasar obligasi domestik menjadi pendorong penguatan mata uang tersebut.

Melambatnya inflasi Amerika Serikat dan koreksi minyak mentah juga disebut menopang Rupiah. Minat terhadap obligasi tercermin pada penurunan yield Surat Utang Negara di tenor pendek hingga menengah.

Tenor SUNPerubahan YieldYield Terakhir
1 tahunTurun 2,9 bps6,87 persen
2 tahunTurun 4,5 bpsTidak disebutkan
3 tahunTurun 4,7 bpsTidak disebutkan
5 tahunTurun 3,9 bpsTidak disebutkan

Yield tenor tiga tahun mencatat penurunan terbesar sebesar 4,7 basis poin. Pergerakan obligasi dan Rupiah itu menjadi pembanding penting saat IHSG berusaha menjaga pergerakannya dalam rentang yang diproyeksikan.

Baca Juga