Penyesuaian indeks MSCI diperkirakan tidak menekan IHSG secara luas, tetapi risikonya dapat terkonsentrasi pada saham tertentu. GOTO dan CPIN menjadi dua emiten yang paling diperhatikan menjelang berlakunya susunan indeks baru pada 1 September 2026.
Mirae Asset Sekuritas Indonesia memperkirakan dana pasif yang keluar dari pasar saham Indonesia berada pada kisaran Rp500 miliar hingga Rp1 triliun. Arus penyesuaian itu diproyeksikan muncul setelah penutupan perdagangan 31 Agustus 2026.
Bobot Indonesia Hanya Turun Tipis
Research Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Wilbert Arifin, menilai dampak perubahan indeks lebih terarah pada emiten yang statusnya berubah. Ia memperkirakan sentimen pasar dapat melemah untuk sementara karena tinjauan kali ini hanya menghasilkan pengurangan konstituen.
Bobot Indonesia dalam indeks pasar berkembang diproyeksikan turun dari sekitar 0,49% menjadi 0,46%. Angka tersebut menunjukkan perubahan bobot yang relatif terbatas bagi pasar saham Indonesia secara keseluruhan.
“Dalam jangka pendek mungkin ada dampak terhadap sentimen karena memang tidak ada penambahan saham dan hanya terjadi pengurangan,” ujar Wilbert seperti dikutip market.bisnis.com. Menurutnya, tekanan pasar diperkirakan lebih terpusat pada saham seperti CPIN.
GOTO Keluar, CPIN Berpindah Indeks
Hasil MSCI August 2026 Index Review yang diumumkan pada 12 Agustus 2026 menetapkan GOTO keluar dari MSCI Indonesia Investable Market Index. Pada saat yang sama, CPIN turun dari MSCI Global Standard Index ke MSCI Global Small Cap Index.
Perubahan itu mengharuskan dana pasif yang mengikuti indeks melakukan penyesuaian kepemilikan sesuai komposisi baru. Karena tidak ada saham Indonesia yang masuk ke Global Standard Index, potensi arus beli dinilai tidak tersedia untuk menahan arus keluar.
| Kode Saham | Perubahan MSCI | Perhatian Pasar |
|---|---|---|
| GOTO | Dihapus dari MSCI Indonesia Investable Market Index | Potensi penjualan dana pasif |
| CPIN | Turun ke MSCI Global Small Cap Index | Tekanan diperkirakan terkonsentrasi |
Harga Minimum Menekan Likuiditas GOTO
Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, menilai penghapusan GOTO berkaitan dengan rendahnya likuiditas saham. GOTO bertahan pada harga minimum Rp50 sejak Mei 2026, sehingga kemampuan investor pasif untuk mereplikasi indeks dinilai terganggu.
“MSCI secara spesifik menyebut rendahnya likuiditas akibat GOTO bertahan di harga minimum Rp50 sejak Mei sebagai penyebab index replicability issues,” kata Rully dalam keterangan resmi. Penjelasan tersebut menempatkan persoalan likuiditas sebagai faktor penting dalam keputusan penghapusan saham itu.
Sembilan Emiten Keluar dari Small Cap
Selain perubahan GOTO dan CPIN, sembilan emiten juga dikeluarkan dari MSCI Global Small Cap Indexes. CPIN memang masuk ke indeks ini, namun komposisi bersih hasil tinjauan tetap memperlihatkan pengurangan konstituen Indonesia.
| Emiten | Kode Saham | Status |
|---|---|---|
| PT Bank Jago Tbk. | ARTO | Keluar dari Global Small Cap |
| PT Bukalapak.com Tbk. | BUKA | Keluar dari Global Small Cap |
| PT ESSA Industries Indonesia Tbk. | ESSA | Keluar dari Global Small Cap |
| PT MD Entertainment Tbk. | FILM | Keluar dari Global Small Cap |
| PT Medikaloka Hermina Tbk. | HEAL | Keluar dari Global Small Cap |
| PT MNC Tourism Indonesia Tbk. | KPIG | Keluar dari Global Small Cap |
| PT Raharja Energi Cepu Tbk. | RATU | Keluar dari Global Small Cap |
| PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. | SMGR | Keluar dari Global Small Cap |
| PT Transcoal Pacific Tbk. | TCPI | Keluar dari Global Small Cap |
Pasar kini akan mencermati aktivitas transaksi pada saham terdampak hingga pelaksanaan rebalancing. Menjelang tinjauan MSCI pada November 2026, Mirae Asset menilai kredibilitas pasar dan komunikasi regulator dengan MSCI perlu diperkuat untuk mendukung peluang perbaikan hasil peninjauan.






