Dari HBM4 hingga Vera Rubin, Langkah Korsel Mengunci Peran di Ekosistem AI Global

Korea Selatan ingin memperkuat perannya di ekosistem AI global dengan mengandalkan dua bidang yang saling terkait, yakni chip komputasi dan memori berkecepatan tinggi. Arah itu terlihat dalam rencana penggunaan Vera Rubin dan HBM4 pada pusat data baru SK Telecom.

Memori HBM4 akan dipasok oleh SK Hynix, sedangkan chip Vera Rubin menjadi teknologi komputasi yang direncanakan untuk fasilitas tersebut. Pusat data berkapasitas 2 gigawatt itu ditargetkan mulai beroperasi pada 2027.

Memori dan Komputasi dalam Satu Proyek

Pembangunan fasilitas ini merupakan bagian dari inisiatif Nvidia dan SK Group dengan nilai lebih dari 500 miliar dollar AS. Pengumuman tersebut muncul ketika Korea Selatan mengintensifkan upayanya menjadi simpul penting dalam rantai pasok AI dunia.

UnsurKeterangan
Mitra proyekNvidia dan SK Group
Nilai inisiatifLebih dari 500 miliar dollar AS
FasilitasPusat data SK Telecom
Kapasitas fasilitas2 gigawatt
Target beroperasi2027

Rencana tersebut menggabungkan pembangunan infrastruktur data dengan pengembangan teknologi memori generasi berikutnya. Bagi Korea Selatan, penggabungan keduanya relevan dengan ambisi untuk mengambil posisi lebih besar di industri AI.

SK Group terlibat dalam proyek bersama Nvidia, sementara SK Telecom menyiapkan pembangunan pusat data. SK Hynix menyediakan HBM4 yang disebut akan digunakan bersama chip Vera Rubin di fasilitas itu.

Seoul Menggalang Dukungan Industri

Upaya memperluas peran di sektor AI dibawa Presiden Lee Jae Myung ke San Francisco, Amerika Serikat. Ia memimpin KTT AI yang didukung pemerintah Korea Selatan pada Jumat, 24 Juli 2026.

Forum tersebut mempertemukan perusahaan chip, pengembang model AI, operator telekomunikasi, investor, dan pengusaha teknologi Korea Selatan. Menurut Reuters yang dikutip Kompas.com, sekitar 150 eksekutif, investor, peneliti, serta pendiri startup menghadiri acara itu.

Lee juga melakukan pertemuan terpisah dengan sejumlah pemimpin teknologi sebelum KTT utama dimulai. Mereka adalah Jensen Huang dari Nvidia, Sam Altman dari OpenAI, Dario Amodei dari Anthropic, dan Hock Tan dari Broadcom.

TokohPerusahaanJabatan
Jensen HuangNvidiaCEO
Sam AltmanOpenAICEO
Dario AmodeiAnthropicCEO
Hock TanBroadcomCEO

Dari kalangan bisnis Korea Selatan, forum itu turut dihadiri Jay Y Lee dari Samsung Electronics dan Chey Tae-won dari SK Group. Euisun Chung dari Hyundai Motor Group serta pendiri Naver Lee Hae-jin juga hadir dalam pertemuan tersebut.

Visi Kerja Sama dengan Amerika Serikat

Dalam pidato utamanya, Lee memperkenalkan “Deklarasi AI San Francisco”. Deklarasi itu berisi ambisi Korea Selatan dalam pengembangan kecerdasan buatan dan visi kerja sama teknologi dengan Amerika Serikat.

“Saya ingin menyampaikan visi untuk masa depan AI dan mengusulkan kerja sama global untuk mewujudkannya,” kata Lee. Ia juga menyatakan Korea Selatan akan “melompat menjadi negara kunci dalam rantai pasok AI global.”

Kehadiran Nvidia, OpenAI, Anthropic, dan Broadcom menunjukkan fokus Seoul untuk membangun kemitraan dengan perusahaan teknologi Amerika Serikat. Di sisi lain, keterlibatan perusahaan Korea Selatan dari sejumlah sektor memperlihatkan bahwa agenda AI tidak hanya bertumpu pada industri chip.

Inisiatif bernilai lebih dari 500 miliar dollar AS memberi bentuk konkret pada agenda tersebut melalui pembangunan kapasitas komputasi dan penggunaan memori HBM4. Proyek itu menghubungkan ambisi kebijakan Korea Selatan dengan kebutuhan industri AI yang semakin bergantung pada pusat data dan teknologi semikonduktor.

Baca Juga