Pembangunan kompleks perkantoran yudikatif di Ibu Kota Nusantara tetap ditargetkan rampung pada 25 Desember 2027, meski biaya energi dan material konstruksi meningkat tajam. Otorita Ibu Kota Nusantara menargetkan capaian fisik kawasan tersebut sebesar 40 persen hingga akhir 2026.
Tekanan biaya paling terlihat pada solar industri yang sempat melonjak ke kisaran Rp28.000 sampai Rp30.000 per liter. Bahan bakar itu merupakan salah satu kebutuhan penting bagi aktivitas konstruksi di lapangan.
Struktur Bangunan Menjadi Fokus
Kawasan yudikatif mencakup gedung Mahkamah Konstitusi, Mahkamah Agung, Komisi Yudisial, Plaza Keadilan, dan Masjid Kawasan. Pekerjaan pada tahun ini diarahkan untuk penyelesaian struktur serta topping off sebelum masuk ke tahap arsitektur, lanskap, dan interior.
Paket pembangunan Gedung Mahkamah Agung dikerjakan PT Hutama Karya (Persero) dengan nilai kontrak Rp1,4 triliun. Setelah delapan bulan pelaksanaan, progres pekerjaan paket tersebut mencapai 12,5 persen.
KSO ADHI-Deta Decon mengerjakan paket Mahkamah Konstitusi, Komisi Yudisial, dan Masjid Kawasan dengan nilai Rp1,65 triliun. Progres paket itu tercatat 12,41 persen.
| Paket Yudikatif | Nilai Kontrak | Progres |
|---|---|---|
| Gedung Mahkamah Agung | Rp1,4 triliun | 12,5 persen |
| Mahkamah Konstitusi, Komisi Yudisial, dan Masjid Kawasan | Rp1,65 triliun | 12,41 persen |
Pejabat Pembuat Komitmen E.4 OIKN Sony Alisa menyebut penyedia sempat mengeluhkan kenaikan harga solar. “Ini memang dari penyedia sempat mengeluh juga ya, terkait kenaikan solar ya. Ada geopolitik gitu kan kemarin,” kata Sony Alisa.
Lonjakan Harga Menjangkau Material Utama
Data Asosiasi Kontraktor Indonesia yang dilansir Detik Finance memperlihatkan kenaikan pada berbagai komponen konstruksi antara 28 Februari hingga 1 Juli 2026. Solar industri mencatat kenaikan tertinggi sebesar 41,52 persen, disusul minyak bumi sebesar 37,41 persen.
| Komponen | Kenaikan Harga | Periode |
|---|---|---|
| Solar industri | 41,52 persen | 28 Februari-1 Juli 2026 |
| Minyak bumi | 37,41 persen | 28 Februari-1 Juli 2026 |
| Besi beton | 27,78 persen | 28 Februari-1 Juli 2026 |
| Aspal | 23,85 persen | 28 Februari-1 Juli 2026 |
Harga solar industri sebelumnya berada di sekitar Rp12.500 per liter dan kemudian naik menjadi Rp20.000 per liter. Pada periode tertentu, harganya melompat lebih tinggi hingga Rp28.000-Rp30.000 per liter dalam konteks konflik geopolitik Amerika Serikat dan Iran.
Paket Legislatif Tetap Berjalan
Tekanan biaya yang sama juga membayangi lima paket pembangunan kawasan legislatif dengan total nilai kontrak Rp8,24 triliun. Paket tersebut mencakup Gedung Sidang Paripurna, Gedung DPR 1, Gedung DPR 2, Gedung DPD, dan Gedung MPR.
Progres Gedung Sidang Paripurna mencapai 12,147 persen, sementara Gedung DPR 1 berada di angka 11,029 persen. Gedung DPR 2 tercatat 9,927 persen, Gedung DPD 9,404 persen, dan Gedung MPR 10,559 persen.
PPK-E.3 OIKN Alfrits Steeve Willy Makalew menyatakan seluruh pekerjaan legislatif ditargetkan selesai pada 23 Desember 2027. Di sisi lain, bangunan kawasan yudikatif yang ditujukan untuk penggunaan jangka panjang juga memerlukan pemanfaatan dan perawatan berkelanjutan agar tidak cepat rusak saat tidak ditempati.






