Pikap Menabrak Rumah dan Menewaskan 2 Santri, Kebiasaan Ini Simpan Risiko Fatal

Sebuah pikap milik Pondok Pesantren Miftahul Huda 606 menabrak rumah warga di Kecamatan Kalianda, Lampung Selatan. Kecelakaan itu menewaskan dua santri dan menyebabkan lima santri lainnya mengalami luka-luka.

Tragedi tersebut menempatkan kembali penggunaan pikap sebagai angkutan penumpang dalam perhatian. Kendaraan bak terbuka tidak memberikan perlindungan kabin bagi orang yang berada di bagian belakang saat terjadi benturan atau kendaraan keluar jalur.

Awal Dugaan dari Lokasi Kecelakaan

Polres Lampung Selatan masih menyelidiki penyebab kecelakaan yang berujung tabrakan dengan rumah warga itu. Kasatlantas Polres Lampung Selatan AKP M Erza Trisyahputra Nasution menyebut hasil awal pemeriksaan mengarah pada dugaan sopir kehilangan kendali.

“Penyelidikan sampai saat ini masih terus kami lakukan. Namun dari olah TKP awal dan keterangan saksi bahwa diduga sopir hilang kendali hingga akhirnya keluar jalur dan menabrak rumah warga,” kata Erza pada Kamis (23/7/2026).

Dugaan tersebut masih menjadi bagian dari proses penyelidikan yang berjalan. Meski demikian, kecelakaan ini memperlihatkan besarnya ancaman bagi penumpang yang berada di bak tanpa pengaman saat kendaraan mengalami situasi darurat.

Mengapa Bak Terbuka Lebih Rentan

Pengamat transportasi dan Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia Pusat, Djoko Setijowarno, menegaskan mobil pikap dibuat untuk mengangkut barang. Rancangan pusat gravitasi serta sistem suspensinya tidak ditujukan untuk membawa penumpang.

Penumpang di bak dapat berada dalam posisi duduk atau berdiri tanpa sabuk pengaman dan tanpa pelindung kabin. Saat pengemudi mengerem mendadak atau kendaraan terguling, kondisi itu meningkatkan risiko cedera berat dan kematian.

“Secara teknis, pikap dirancang dengan pusat gravitasi dan sistem suspensi untuk barang. Ketika diisi manusia dalam posisi berdiri atau duduk tanpa sabuk pengaman dan pelindung kabin, risiko fatalitas (kematian) saat terjadi rem mendadak atau kendaraan terguling meningkat berkali-kali lipat,” ujar Djoko.

Rangkaian Risiko dalam Dua Kasus

WilayahPeristiwaInformasi Korban
Kalianda, Lampung SelatanPikap menabrak rumah warga2 santri meninggal dan 5 terluka
Indramayu, Jawa BaratPikap membawa 17 orang bertabrakan dengan trukBelasan penumpang terlempar ke badan jalan

Kerawanan penumpang pikap juga terlihat pada kecelakaan sebelumnya di Indramayu, Jawa Barat. Sebuah pikap yang membawa 17 orang bertabrakan dengan truk dan membuat belasan penumpang terlempar ke jalan.

Peristiwa di Indramayu dan Kalianda sama-sama menunjukkan posisi penumpang yang sangat terbuka terhadap dampak benturan. Ketika kendaraan tidak lagi dapat dikendalikan atau bertabrakan, tidak ada struktur kabin yang melindungi mereka.

Kebiasaan yang Dianggap Lumrah

Mobil pikap masih digunakan untuk membawa penumpang dalam berbagai kebutuhan, mulai dari mudik hingga perjalanan wisata. Praktik itu juga kerap muncul pada kegiatan adat, Lebaran, hajatan, atau perjalanan warga dalam satu kampung.

Djoko menilai kondisi ekonomi dan kebiasaan sosial menjadi tantangan dalam penertiban. Perjalanan bersama menggunakan pikap kerap dimaknai sebagai kebersamaan, sehingga bahaya yang menyertainya tidak selalu disadari.

“Tindakan ini dianggap wajar dan tidak dirasa sebagai sebuah pelanggaran hukum atau bahaya serius oleh masyarakat setempat,” kata Djoko kepada oto.detik.com. Upaya mengurangi kecelakaan serupa membutuhkan penegakan aturan sekaligus pemahaman yang lebih kuat mengenai keselamatan jalan.

Baca Juga