Pengakuan bahwa gurita mampu merasakan sakit menjadi latar penting kandasnya rencana tambak komersial raksasa di Las Palmas, Kepulauan Canary. Proyek Nueva Pescanova itu semula ditargetkan membudidayakan hingga 1 juta gurita setiap tahun.
Rencana tersebut memicu kritik karena gurita memiliki kompleksitas kognitif tinggi. Membesarkan hewan ini di ruang terbatas untuk konsumsi komersial dinilai menimbulkan persoalan etika yang melampaui pertimbangan efisiensi pangan.
Inggris pada 2021 telah mengakui gurita dan cumi-cumi sebagai makhluk sentient melalui undang-undang kesejahteraan hewan. Norwegia, Swedia, Selandia Baru, Kanada, dan Uni Eropa juga disebut memiliki aturan ketat terkait cephalopoda berdasarkan bukti kemampuan mereka merasakan sakit.
Izin Konsesi Ditarik
Nueva Pescanova sebelumnya mengajukan pembangunan kompleks akuakultur di dermaga Las Palmas. Fasilitas itu dirancang untuk menjalankan proses dari kelahiran hingga pengolahan gurita.
La Voz Canaria melaporkan perusahaan kemudian menarik permohonan izin konsesi pelabuhan tersebut. Perpanjangan tenggat administratif serta ketidakpastian penyelesaian prosedur lingkungan dan sektoral disebut sebagai alasan penarikan.
Penangguhan proyek tanpa batas waktu disambut sebagai perkembangan penting oleh kelompok yang menentangnya. Selama sekitar lima tahun, organisasi perlindungan hewan, ilmuwan, kelompok lingkungan, dan masyarakat umum menyampaikan keberatan.
Risiko dari Tangki hingga Laut
Kritik terhadap rencana Las Palmas tidak berhenti pada perlakuan terhadap gurita. Kepadatan pemeliharaan dalam tangki dikhawatirkan menciptakan kondisi yang rentan terhadap wabah penyakit.
Jika penyakit menyebar, penggunaan antibiotik intensif berpotensi menjadi pilihan pengendalian. Langkah tersebut dinilai dapat memperbesar persoalan resistensi antimikroba dan kemunculan superbug.
Aquatic Life Institute pada 2023 juga menyoroti risiko limbah dari fasilitas yang berada dekat laut. Pembuangan limbah dikhawatirkan mengganggu perairan Las Palmas dan membahayakan biota lokal.
| Aspek Proyek | Perkiraan | Isu yang Disorot |
|---|---|---|
| Hasil produksi | Hingga 1 juta gurita per tahun | Kesejahteraan dalam tangki |
| Kebutuhan pakan | Sekitar 28 ribu ton pada tahun pertama | Tekanan terhadap ikan liar |
| Setara tangkapan ikan | 2,1 miliar ekor ikan | Dampak biodiversitas laut |
Kebutuhan pakan menjadi kritik besar lain terhadap proyek itu. Penggunaan ikan tangkapan liar dalam skala tersebut dipandang dapat memperberat tekanan pada rantai makanan dan biodiversitas laut.
ALI menilai perusahaan lebih menekankan prospek keuntungan daripada risiko lingkungan dari proyek tersebut. Kekhawatiran itu menguat karena operasi ini akan jauh lebih besar dibanding budidaya gurita yang telah ada.
Perdebatan Belum Berakhir
Tessa Gonzalez, Direktur Riset dan Dampak ALI, mengatakan pembatalan proyek merupakan momen penting bagi perlindungan kehidupan laut, lingkungan, dan kesehatan masyarakat. Dalam pernyataannya kepada IFLScience, ia menilai keputusan itu membantu mencegah praktik yang berdampak buruk bagi hewan dan lingkungan.
“Terkadang, inovasi paling bertanggung jawab adalah menahan diri, dan keputusan hari ini mengingatkan kita bahwa kemajuan tidak hanya diukur dari apa yang kita bangun, tetapi juga dari apa yang kita pilih untuk tidak dibangun,” kata Gonzalez.
Minat memperluas produksi gurita tetap ada seiring meningkatnya permintaan makanan laut dan menyusutnya hasil tangkapan liar. Australia, Chili, Jepang, Meksiko, serta Spanyol disebut telah memiliki operasi skala kecil.
Meski demikian, pembiakan gurita secara massal masih menghadapi kendala praktis. Kegagalan proyek Las Palmas memperlihatkan bahwa kemampuan memproduksi dalam skala besar belum cukup untuk menjawab tuntutan etika, lingkungan, dan kesehatan publik.






