Kuesioner dari Buku Zodiak Buatan GPT-4 Ternyata Bisa Membaca Sinyal Responden

Pertanyaan kepribadian yang dirumuskan GPT-4 dari sebuah buku astrologi populer mampu memprediksi tingkat pendidikan responden. Dalam ukuran tersebut, performanya bahkan disebut melampaui Big Five Inventory, salah satu kuesioner psikologi yang umum digunakan.

Temuan ini tidak berarti zodiak dapat dijadikan metode ilmiah untuk menentukan karakter seseorang. Penelitian justru menunjukkan bahwa kalimat-kalimat tentang sifat manusia dapat memuat sinyal statistik, meski kerangka yang menjadi asal kalimat itu tidak tervalidasi secara ilmiah.

Riset tersebut diterbitkan dalam jurnal iScience oleh Rotem Monsa, Aviv Zohar, dan Shahar Arzy dari Hebrew University of Jerusalem. Mereka menguji apakah GPT-4 yang dilatih dengan teks manusia dalam skala besar telah mempelajari pola umum saat manusia merespons pertanyaan kepribadian.

Sebanyak 588 responden dewasa dari Amerika Serikat dan Inggris menjawab pernyataan yang dibuat model AI tersebut. Respons mereka kemudian dibandingkan dengan sejumlah kondisi kehidupan, termasuk kesejahteraan hidup, pendapatan, dan pendidikan.

Kinerja pada Ukuran Kehidupan Responden

Menurut laporan Media Indonesia, kuesioner buatan GPT-4 dapat memprediksi kesejahteraan hidup, pendapatan, serta pendidikan dengan kemampuan yang setara dengan Big Five Inventory pada sejumlah ukuran. Hasil itu mengarahkan perhatian peneliti pada kegunaan bahasa kepribadian yang selama ini tersebar dalam banyak jenis teks.

Model AI tidak diberi tugas untuk mendiagnosis kondisi psikologis setiap peserta. Pengujian diarahkan pada tingkat kelompok, yakni melihat apakah rumusan pertanyaan dapat menangkap hubungan antara respons kepribadian dan karakteristik kehidupan populasi responden.

Sumber materiJumlah kategoriJumlah pernyataan GPT-4
DSM-510 gangguan kepribadian50
Buku astrologi12 zodiak60

Dua bahan yang diberikan kepada GPT-4 memiliki kedudukan yang sangat berbeda. DSM-5 merupakan manual diagnostik gangguan jiwa yang digunakan psikiater, sedangkan The Only Astrology Book You’ll Ever Need memuat deskripsi kepribadian berdasarkan zodiak.

Perbedaan itu penting karena DSM-5 didukung pengembangan dan penelitian klinis, sementara astrologi bukan kerangka ilmiah untuk penilaian karakter. Namun, keduanya sama-sama menggunakan uraian sifat manusia yang cukup rinci untuk diolah menjadi pernyataan kuesioner.

Bahasa Sifat yang Membawa Sinyal

Monsa mengatakan kepada Earth.com bahwa hasil dari materi astrologi merupakan kejutan terbesar dalam penelitian itu. “Deskripsi astrologi telah disempurnakan secara kultural selama berabad-abad dan sangat tumpang tindih dengan bahasa sifat sehari-hari, itulah sebabnya pertanyaan-pertanyaan individunya membawa sinyal. Kerangka kerja yang mengaturnya yang tidak.”

Pernyataan tersebut membedakan kualitas sebuah pertanyaan dari validitas sistem yang melahirkannya. Satu kalimat mengenai kecenderungan perilaku dapat berkaitan dengan pola respons manusia tanpa membuktikan bahwa kategori zodiak mampu menjelaskan kepribadian secara ilmiah.

Selain menyusun pernyataan, GPT-4 diminta memperkirakan nilai rata-rata jawaban publik hanya dari rumusan pertanyaannya. Prediksi model itu sangat dekat dengan jawaban nyata para responden, walaupun masih terdapat selisih kecil.

Kedekatan pada nilai rata-rata menunjukkan model kemungkinan telah menyerap pola respons populasi dari teks yang dipelajarinya. Ketepatan tersebut tidak dapat dipindahkan begitu saja menjadi penilaian yang akurat terhadap satu individu.

Validasi Tetap Menjadi Syarat

Para peneliti menegaskan bahwa kuesioner hasil AI belum dapat dipakai sebagai alat diagnosis medis perorangan. Setiap instrumen tetap memerlukan pengujian dan validasi sebelum digunakan untuk tujuan penilaian yang sensitif.

“Saya tidak akan menilai kuesioner dari siapa, atau apa, yang menulisnya. Saya akan menilainya dari apakah kuesioner tersebut telah divalidasi,” kata Monsa.

Baca Juga