Dekat Resistance US$4.385, Reli Emas Terancam Aksi Ambil Untung ke Area 4.220

Reli emas memasuki titik krusial setelah harga spot ditutup di US$4.375,89 per troy ons pada Jumat, 14 Agustus 2026. Harga kini hanya berada sedikit di bawah resistance US$4.385, sementara peluang aksi ambil untung mulai diperhitungkan.

Dupoin Futures memproyeksikan koreksi jangka pendek dapat mengarahkan harga menuju area 4.220. Proyeksi itu muncul setelah emas mencapai level tertinggi dalam dua bulan.

Emas masih diperdagangkan di atas Moving Average 100-hari. Posisi tersebut menjaga gambaran teknikal tetap positif, meski pasar perlu melihat apakah resistance dapat ditembus atau justru memicu konsolidasi.

Geraldo Kofit, analis Dupoin Futures, menilai terbentuknya swing high patut menjadi perhatian pelaku pasar. Menurutnya, kondisi tersebut sering menjadi petunjuk bahwa pasar mulai memasuki fase konsolidasi atau koreksi sebelum menentukan arah pergerakan berikutnya.

Level dan IndikatorNilaiKeterangan
Harga penutupan emas spotUS$4.375,89 per troy ons14 Agustus 2026
ResistanceUS$4.385 per troy onsLevel teknikal terdekat
Area support4.220Potensi koreksi jangka pendek
Kenaikan harian0,59 persenPenutupan akhir pekan

Penguatan Dua Pekan Beruntun

Harga emas spot naik 0,59 persen dalam perdagangan harian pada akhir pekan. Dalam sepekan, kenaikannya mencapai 0,79 persen dan memperpanjang tren positif selama dua pekan berturut-turut.

Penguatan tersebut didukung pelemahan indeks dolar AS. Jim Wyckoff, analis pasar American Gold Exchange, menyatakan dolar yang lebih rendah menjadi faktor eksternal yang membantu harga emas.

“Indeks dolar AS yang lebih rendah menjadi faktor eksternal yang mendukung harga emas hari ini,” kata Wyckoff. Dukungan dolar datang ketika pasar menilai arah kebijakan moneter AS dapat menjadi lebih longgar dibandingkan perkiraan sebelumnya.

CME FedWatch Tool menunjukkan peluang kenaikan suku bunga The Federal Reserve pada September 2026 tersisa 33 persen. Peluang itu turun dari 55 persen pada pekan sebelumnya.

Data tenaga kerja nonpertanian AS untuk Juli yang menurun di luar perkiraan ikut meredam ekspektasi kenaikan bunga. Rilis data inflasi AS yang sejalan dengan perkiraan pasar juga membantu menjaga minat terhadap emas.

Inflasi Minyak Menjadi Ancaman

Sebagian besar analis memproyeksikan suku bunga acuan berada pada kisaran 3,50 persen hingga 3,75 persen. Commerzbank menilai emas masih berpotensi kembali naik jika The Fed tidak menaikkan suku bunga.

Namun, kenaikan harga minyak dapat mengubah perhitungan pasar. Minyak yang lebih mahal berpotensi mendorong inflasi dan meningkatkan kemungkinan bank sentral mengambil kebijakan suku bunga lebih ketat.

Wyckoff mengingatkan kenaikan minyak dapat menjadi faktor negatif bagi pasar logam jika memicu kenaikan suku bunga. Risiko ini menjadi lebih relevan saat pasar mencermati ketegangan geopolitik di Selat Hormuz.

Ketegangan di Selat Hormuz memunculkan kekhawatiran atas gangguan pasokan minyak mentah global. Situasi geopolitik tersebut turut menopang harga emas di level tinggi, tetapi juga menambah risiko inflasi.

Pergerakan berikutnya akan dipengaruhi oleh kemampuan emas melewati resistance US$4.385 serta perkembangan ekspektasi suku bunga dan harga minyak. Jika tekanan ambil untung meningkat, area 4.220 menjadi level teknikal yang perlu diperhatikan pasar.

Baca Juga