Dari Ladang hingga Toko, Ekspansi Permukiman Israel Menekan Warga Tepi Barat

Ekspansi permukiman Israel di Tepi Barat kini dirasakan warga Palestina dari ladang keluarga hingga tempat usaha di sekitar Jenin. Jalan baru, pembongkaran bangunan, serta kehadiran pangkalan militer membuat akses fisik dan rasa aman mereka semakin menyusut.

Di luar Yerusalem Timur yang telah dianeksasi Israel, sekitar 500.000 pemukim Israel tinggal di Tepi Barat yang diduduki sejak 1967. Wilayah yang sama dihuni sekitar tiga juta warga Palestina.

Usaha di tepi jalan ikut terdampak

Pada Agustus, pasukan Israel menghancurkan sejumlah toko yang berjarak sekitar 30 meter dari jalan menuju Ganim dan Kadim. Di sekitar jalur itu, karavan pemukim mulai tersambung ke listrik dan ditempati warga Israel.

Bara al-Damaj, pemilik toko produk batu yang ikut dihancurkan, mengatakan ia diperintahkan segera mengosongkan bangunannya. “Mereka datang langsung kepada kami dan memberikan perintah resmi untuk segera mengosongkan toko, kemudian langsung menghancurkannya,” katanya.

Ia menggambarkan pembongkaran tersebut sebagai kehancuran mendadak atas usaha yang dibangunnya. “Dalam sekejap, mereka menghancurkan impian kami,” lanjut al-Damaj.

Faij Rawajbi, pemilik toko hasil pertanian di Desa Deir Abu Deif, juga mengalami penghancuran toko dekat jalan menuju permukiman. Ia mengatakan keberadaan tim keamanan bersenjata dari permukiman yang memeriksa identitas warga membuat penduduk merasa “dikepung dari segala arah”.

Jalan baru menghalangi mobilitas

Mohammed, warga setempat yang meminta nama belakangnya dirahasiakan demi keamanan, mengatakan keluarganya tidak lagi dapat mengakses lahan kedua di sisi lain jalan baru. Jalur pertanian menuju Jenin juga ditutup timbunan material yang dipasang buldoser militer.

Ia menyebut anaknya baru-baru ini ditahan dan dipukuli tentara saat berjalan di ladang. Warga juga melihat peningkatan kehadiran militer setelah pangkalan baru dibangun di pintu masuk Ganim.

Menurut pengaturan Kesepakatan Oslo, Area A berada di bawah kendali Palestina. Area B berada di bawah kendali militer Israel, dengan urusan sipil dikelola Palestina.

Warga sebelumnya menganggap kedua area itu relatif aman dari aktivitas pemukiman. Perluasan infrastruktur dan kehadiran pangkalan militer kini mengubah situasi tersebut.

Pengembangan kembali empat lokasi

Perluasan di Tepi Barat utara terjadi setelah lokasi-lokasi yang pernah dikosongkan pada 2005 kembali menjadi sasaran pengembangan. Pengosongan itu merupakan bagian dari rencana pelepasan diri pada masa mantan Perdana Menteri Israel Ariel Sharon.

LokasiStatus pada 2005Perkembangan terbaru
HomeshDikosongkanDikembangkan kembali
Sa-NurDikosongkanDikembangkan kembali
GanimDikosongkanDikembangkan kembali
KadimDikosongkanDikembangkan kembali

Rencana pada 2005 itu dimaksudkan untuk membuka ruang Palestina yang lebih menyatu di Tepi Barat. Pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu kini mendorong pengembangan kembali di empat lokasi tersebut.

Pada Desember, pemerintah Israel menyetujui rencana melegalkan 17 permukiman tambahan di Tepi Barat bagian utara. Rencana itu juga ditujukan untuk menghubungkan permukiman-permukiman tersebut.

Lahan keluarga sulit dijangkau

Amin Rahal, 31 tahun, dan tiga saudaranya sempat berhenti bekerja selama beberapa pekan untuk menjaga tanah keluarga di sebuah bukit. Mereka bergantian berjaga setelah rumah prefabrikasi pemukim berdiri sekitar 100 meter dari rumah mereka.

Rahal mengatakan keluarga itu mengalami pencurian ayam, kerusakan pohon zaitun, dan tanaman halaman yang terdampak kendaraan segala medan. Ternak milik pemukim juga disebut masuk ke pekarangan mereka.

Pemukim dari Emek Dotan memasang tali melintasi tanah keluarga dan melarang mereka melewatinya. Peternakan ayam serta pohon zaitun milik keluarga berada di balik batas itu, tetapi sulit dijangkau karena mereka takut terjadi kekerasan.

“Kami takut mereka akan menyerang anak-anak, membakar salah satu rumah, menyerang kami pada malam hari, dan masuk ke rumah,” kata Rahal kepada AFP. Kekhawatiran itu sejalan dengan catatan OCHA tentang rata-rata enam insiden terkait pemukim Israel setiap hari sepanjang 2026.

Insiden yang dicatat OCHA meliputi pencurian, perusakan, pembakaran, pemukulan, hingga pembunuhan. Warga Palestina juga mengeluhkan banyak kasus kekerasan terhadap mereka tidak berujung pada hukuman.

Baca Juga