Dua titik kebakaran di Bantul pada 26 Juli menghanguskan lahan sekitar delapan hektare. Bukit Putat di Kalurahan Selopamioro menjadi lokasi dengan dampak terluas, mencapai sekitar lima hektare.
Kebakaran lain terjadi di Kelurahan Wukirsari dengan luas area terbakar sekitar tiga hektare. Peristiwa tersebut muncul saat ancaman kebakaran hutan dan lahan di DI Yogyakarta meningkat menjelang puncak kemarau Agustus 2026.
Area Terbakar di Akhir Juli
| Wilayah | Lokasi | Waktu Kejadian | Area Terdampak |
|---|---|---|---|
| Bantul | Bukit Putat, Kalurahan Selopamioro | 26 Juli | Sekitar 5 hektare |
| Bantul | Kelurahan Wukirsari | 26 Juli | Sekitar 3 hektare |
| Kulonprogo | Kecamatan Pengasih | 25 dan 26 Juli | Sekitar 1 hektare |
Data tersebut menempatkan Bukit Putat sebagai kejadian dengan area terdampak paling luas dalam rangkaian kebakaran yang dilaporkan. Kebakaran di Wukirsari juga memperpanjang catatan insiden di Bantul pada periode akhir Juli.
Kepala Bidang Damkarmat BPBD Bantul, Kristanto Kurniawan, meminta warga meningkatkan kewaspadaan terhadap Karhutla Bantul. Kondisi kemarau dinilai dapat memperbesar kemungkinan kebakaran pada lahan yang rawan terbakar.
Ancaman Tidak Hanya di Bantul
Kebakaran lahan juga terjadi di Kecamatan Pengasih, Kulonprogo, pada 25 dan 26 Juli. Dua kejadian itu menyebabkan sekitar satu hektare lahan terbakar.
Kepala Pelaksana BPBD Kulonprogo, Setiawan Tri Widada, mengingatkan masyarakat untuk tidak membakar sampah secara sembarangan. Imbauan tersebut ditujukan untuk mencegah munculnya Karhutla Kulonprogo pada wilayah yang berpotensi terbakar.
“Kami imbau lebih waspada dan tidak membakar sampah sembarangan agar terhindar dari kejadian kebakaran,” kata Setiawan Tri Widada. Warga juga perlu menghindari aktivitas pembakaran di area rawan selama cuaca kering berlangsung.
Jumlah Kejadian di Bantul Meningkat
Hingga 22 Juli, Bantul telah mencatat 17 kejadian kebakaran hutan dan lahan. Angka itu lebih tinggi dibandingkan delapan kejadian yang tercatat sepanjang Juni 2026.
Peningkatan tersebut terjadi sebelum puncak Musim Kemarau DIY yang diprakirakan berlangsung pada Agustus. Karena itu, pencegahan dan identifikasi titik rawan menjadi langkah yang semakin diperlukan.
BNPB Minta Pemantauan Diperkuat
BNPB meminta pemerintah daerah dan masyarakat meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi bencana hidrometeorologi selama musim kemarau, khususnya karhutla. Pemantauan dan deteksi dini perlu diperkuat agar potensi kebakaran dapat segera ditangani.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, mengatakan pemerintah daerah perlu memastikan kesiapan sarana pemadaman. Ketersediaan prasarana dinilai penting untuk mendukung respons cepat ketika api ditemukan.
“Pemerintah daerah diharapkan terus memperkuat kesiapsiagaan, pemantauan, serta deteksi dini terhadap potensi karhutla dan memastikan ketersediaan sarana prasarana pemadaman,” terang Abdul. Masyarakat yang mengetahui adanya kebakaran diminta segera melapor kepada otoritas daerah setempat.






