Awal kepemimpinan Andoni Iraola di Liverpool dibayangi pertanyaan mengenai keseimbangan permainan tim. Jamie Carragher menilai kecenderungan menyerang berlebihan pada pramusim membuat Liverpool rentan ketika harus melakukan transisi bertahan.
Sorotan itu penting karena Iraola memasuki periode pembentukan pendekatan baru di klub. Liverpool memang tetap mampu mencetak gol, tetapi perlindungan terhadap lini belakang belum terlihat meyakinkan.
Modal dan Tugas Manajer Baru
Iraola ditunjuk menggantikan Arno Slot sebagai manajer Liverpool. Harapan terhadapnya cukup besar setelah ia membawa Bournemouth menempati posisi keenam Liga Inggris.
Slot dipecat setelah Liverpool gagal meraih gelar dan menutup musim Liga Inggris di peringkat kelima. Sebelumnya, ia sempat mengantarkan Liverpool menjadi juara Liga Inggris 2024/2025.
Pergantian di kursi manajer membuat pramusim menjadi tahap penting untuk menguji cara bermain yang baru. Pada fase inilah Carragher melihat masalah yang perlu segera dibenahi, terutama saat tim kehilangan penguasaan bola.
Ruang Kosong Setelah Kehilangan Bola
Menurut Carragher, Liverpool terlalu banyak menurunkan pemain dengan karakter menyerang. Para pemain itu cenderung terus bergerak maju, sehingga area pertahanan dapat ditinggalkan ketika serangan tidak berhasil.
“Liverpool memiliki terlalu banyak pemain menyerang di lapangan; mereka hanya ingin terus merangsek maju,” ujar Carragher dalam kutipan yang dimuat Detik Sport. Baginya, persoalan tersebut bukan sekadar pilihan menyerang, melainkan pengaturan posisi yang tidak seimbang.
Ia menilai tempo permainan Liverpool pada pramusim terlalu liar dan terbuka. Carragher bahkan menyamakannya dengan pertandingan bola basket yang terus berpindah cepat antara menyerang dan bertahan.
“Hal yang sama juga terjadi pada masa pramusim Liverpool kali ini-permainannya mirip bola basket,” kata Carragher. Ia menegaskan bahwa tim papan atas umumnya tidak mempertahankan pola sepak bola terbuka seperti itu secara konsisten.
“Tidak ada tim papan atas yang bermain sepak bola seperti itu. Saya tidak habis pikir,” ucap Carragher. Pernyataan tersebut menjadi peringatan mengenai risiko permainan agresif tanpa kontrol yang memadai.
Angka Pramusim yang Berimbang
Hasil pramusim Liverpool menunjukkan alasan kekhawatiran tersebut muncul. Tim memperoleh tiga kemenangan dan dua kekalahan, dengan jumlah gol yang dicetak sama dengan gol yang kebobolan.
| Catatan | Jumlah |
|---|---|
| Kemenangan | 3 |
| Kekalahan | 2 |
| Gol dicetak | 9 |
| Gol kebobolan | 9 |
Sembilan gol yang dibuat menegaskan bahwa potensi serangan Liverpool tetap ada. Namun, sembilan gol kebobolan menunjukkan bahwa keberanian maju belum diikuti konsistensi dalam mengamankan fase bertahan.
Evaluasi atas transisi menjadi salah satu pekerjaan utama pada perjalanan awal Liverpool bersama Iraola. Tim perlu menemukan cara menjaga daya dobrak tanpa membiarkan terlalu banyak ruang terbuka di belakang.






