Dua Gajah Mati di Aceh, Hilangnya Habitat Mempersempit Harapan Populasi Liar

Kematian dua gajah di Aceh dalam waktu berdekatan kembali menyoroti rapuhnya masa depan gajah Sumatera di alam liar. Populasi satwa terancam kritis ini diperkirakan hanya sekitar 1.100 ekor per Juli 2026 menurut catatan Kementerian Kehutanan.

Seekor gajah jantan ditemukan mati di Aceh Tamiang pada 9 Agustus 2026, lalu anak gajah betina bernama Yuna mati di Saree pada 11 Agustus 2026. Kedua kejadian berlangsung tepat menjelang peringatan Hari Gajah Sedunia pada 12 Agustus.

Ruang Jelajah Terus Menyempit

Gajah Sumatera menghadapi tekanan besar akibat hilangnya dan terpecahnya habitat. Pembangunan jalan, perubahan hutan menjadi perkebunan maupun pertambangan, serta perluasan permukiman membatasi ruang hidup satwa tersebut.

Pecahnya habitat juga dapat mengganggu jalur jelajah dan memperbesar peluang pertemuan gajah dengan aktivitas manusia. Kondisi ini meningkatkan risiko konflik di sekitar kawasan yang sebelumnya menjadi ruang hidup gajah.

Pakar konservasi IPB University Prof. Burhanuddin memperkirakan populasi gajah Sumatera telah merosot lebih dari 70 persen dalam tiga generasi. Estimasi populasi pada 2007 masih berkisar 2.400 hingga 2.800 ekor, sedangkan kini berada pada kisaran 900 sampai 1.350 individu.

GajahTempat KejadianWaktuStatus Pemeriksaan
Gajah jantanPerkebunan sawit PT MPLI, Aceh Tamiang9 Agustus 2026Nekropsi dilakukan, penyebab belum pasti
YunaPusat Latihan Gajah Saree, Aceh11 Agustus 2026Diduga kuat terinfeksi EEHV

Gajah Jantan Ditemukan Tanpa Luka Luar

Gajah jantan ditemukan di jalan perkebunan Afdeling B Blok 34, Kampung Kaloy, Kecamatan Tamiang Hulu. Tubuhnya dilaporkan tergeletak di antara tumpukan pohon sawit.

Datuk Penghulu Kaloy, Andi, menyebut akses jalan menuju lokasi dalam kondisi rusak. Pekerja yang menemukan bangkai gajah lalu melapor kepada polisi dan BKSDA Aceh.

Petugas mendapati kedua gading gajah masih utuh dan tidak melihat luka pada bagian luar tubuh. Tim dokter hewan BKSDA Aceh kemudian melakukan nekropsi di lapangan untuk mengetahui penyebab kematian.

Kepala BKSDA Aceh Ujang Wisnu Barata mengatakan hasil pemeriksaan belum diterima. “Tim melakukan bedah bangkai atau nekropsi di lapangan. Jadi, kami belum menerima hasilnya dan kami belum bisa memastikan penyebab kematiannya,” ujarnya, seperti dikutip Kompas.com dari Antara pada 10 Agustus 2026.

Yuna Sakit Mendadak

Yuna, anak gajah betina berusia di bawah tiga tahun, masih aktif pada pagi hari sebelum kesehatannya menurun. Sekitar pukul 16.00 WIB, ia mulai lemas dengan mata dan wajah membengkak serta lidah membiru.

Yuna mati pada pukul 20.48 WIB di Pusat Latihan Gajah Saree. Kementerian Kehutanan menyatakan kondisinya “drop sangat cepat”.

Anak gajah itu diduga kuat terinfeksi Virus EEHV, singkatan dari Elephant Endotheliotropic Herpesvirus. Virus tersebut diketahui dapat merusak lapisan dalam pembuluh darah dan rentan menyerang anak gajah.

Kematian Menambah Beban Konservasi

Kementerian Kehutanan mencatat sedikitnya enam gajah mati pada periode November 2025 hingga Juni 2026. Dua kematian terbaru di Aceh menambah perhatian terhadap perlindungan individu sekaligus perlindungan habitat.

Penanganan kesehatan, pemeriksaan penyebab kematian, dan pengawasan di lapangan tetap penting bagi kelangsungan gajah. Namun, penyelamatan Gajah Sumatera juga bergantung pada tersedianya habitat yang cukup dan ruang jelajah yang tidak terputus.

Baca Juga