Pencalonan Destry dan Status MSCI Meredam Tekanan Rupiah di Akhir Sesi

Pencalonan Destry Damayanti sebagai Gubernur Bank Indonesia dan status Indonesia dalam kelompok emerging market MSCI menjadi sentimen yang diperhatikan pasar pada Kamis (13/8/2026). Di tengah dua faktor internal tersebut, rupiah menutup perdagangan stagnan di Rp 17.877 per dolar AS.

Nilai tukar itu sempat berada di bawah tekanan saat pembukaan perdagangan. Rupiah dibuka melemah 2 poin atau 0,01 persen ke posisi Rp 17.879 per dolar AS sebelum kembali ke level penutupan sebelumnya.

Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi menyebut respons pasar terhadap pencalonan Destry bersifat positif. Menurutnya, respons itu datang dari pasar domestik maupun luar negeri dan membantu rupiah kembali stagnan pada penutupan.

“(Berita) tentang PLT Gubernur Bank Indonesia (Destry Damayanti) yang dipilih kembali oleh Presiden Prabowo juga direspon positif oleh pasar baik dalam negeri maupun luar negeri, sehingga membuat rupiah kembali stagnan dalam penutupannya,” ujar Ibrahim Assuaibi.

PerdaganganPosisi RupiahPerubahan
PembukaanRp 17.879 per dolar ASMelemah 2 poin atau 0,01 persen
PenutupanRp 17.877 per dolar ASStagnan

Proses Pencalonan Gubernur Bank Indonesia

Presiden Prabowo mencalonkan Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur Bank Indonesia. Destry dijadwalkan mengikuti uji kelayakan dan kepatutan sebagai bagian dari proses pencalonan tersebut.

Pasar menaruh perhatian terhadap kabar itu karena berkaitan dengan arah kebijakan Bank Indonesia. Dalam perdagangan hari itu, pencalonan Destry menjadi salah satu sentimen internal yang dikaitkan dengan ketahanan rupiah.

Dukungan terhadap mata uang domestik juga datang dari pergerakan pasar modal dalam negeri sepanjang sesi. Kondisi tersebut membantu rupiah pulih dari pelemahan tipis yang terjadi saat perdagangan dibuka.

MSCI Masih Pertahankan Indonesia

Ibrahim juga menyoroti keputusan MSCI yang masih mempertahankan pasar modal Indonesia di kelompok emerging market. Keputusan itu tetap menjadi perhatian meski terdapat penurunan peringkat Indonesia.

Ia menilai penurunan peringkat tersebut belum membuat rupiah mengalami pelemahan. Keberadaan Indonesia dalam kelompok emerging market dinilai memberi konteks positif bagi pergerakan aset domestik.

“Dari sisi internal, kita melihat bahwa MSCI masih mempertahankan pasar modal Indonesia di emerging market. Walaupun ada penurunan peringkat, tetapi hal itu pun juga masih belum membuat rupiah mengalami pelemahan,” kata Ibrahim Assuaibi.

Sentimen MSCI dan pencalonan Destry hadir saat pasar juga memantau faktor dari luar negeri. Pelaku pasar menimbang kabar domestik itu bersama risiko geopolitik dan perkembangan inflasi Amerika Serikat.

Ketegangan Timur Tengah dan Inflasi Amerika

Ketegangan Amerika Serikat dan Iran di Timur Tengah menjadi salah satu risiko eksternal yang membayangi pasar. Ketegangan tersebut berkaitan dengan hak pengawasan atas jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Di sisi lain, inflasi Amerika Serikat disebut mengalami penurunan baik secara bulanan maupun tahunan. Ibrahim menilai perkembangan itu dapat membuka kemungkinan bank sentral Amerika mempertahankan suku bunga dalam pertemuan Agustus.

“Kemudian yang kedua kita melihat bahwa inflasi Amerika baik secara bulanan maupun tahunan mengalami penurunan, yang kemungkinan besar akan membuat bank sentral Amerika dalam pertemuan di bulan Agustus mempertahankan sebuah bunga,” kata Ibrahim Assuaibi.

Rupiah akhirnya bertahan di Rp 17.877 per dolar AS setelah pasar menyerap seluruh sentimen tersebut. Perdagangan hari itu memperlihatkan tekanan global masih ada, tetapi belum menggeser dukungan dari faktor domestik.

Baca Juga