Rasio dana murah atau CASA Bank Mandiri turun menjadi 69,2% pada Juni 2026 dari 76,6% pada periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan komposisi dana murah ini terjadi ketika deposito tumbuh jauh lebih cepat dan menambah tekanan terhadap biaya pendanaan.
Deposito Bank Mandiri melonjak 54,4% secara tahunan menjadi Rp543,26 triliun. Kondisi tersebut menunjukkan pertumbuhan simpanan perseroan semakin banyak berasal dari dana berbiaya lebih tinggi.
Likuiditas Menjadi Perhatian
Dana pihak ketiga Bank Mandiri secara keseluruhan tumbuh 17,1% secara tahunan menjadi Rp1.763,17 triliun pada Juni 2026. Namun, perubahan komposisi pendanaan membuat pengendalian harga dana menjadi semakin penting.
Persaingan penghimpunan dana di sektor perbankan mendorong risiko likuiditas yang lebih ketat. Ketika porsi deposito meningkat, beban bunga berpotensi membesar dan memengaruhi kemampuan bank menjaga margin.
Biaya dana deposito pada tingkat bank saja naik menjadi 2,04% pada kuartal II/2026. Angka itu lebih tinggi dibandingkan 1,97% pada kuartal I/2026.
| Indikator Pendanaan | Periode Pembanding | Posisi 2026 |
|---|---|---|
| CASA | 76,6% | 69,2% |
| Deposito | – | Rp543,26 triliun |
| Pertumbuhan deposito | – | 54,4% tahunan |
| Biaya dana deposito | 1,97% | 2,04% |
Proyeksi Margin Dipangkas
Di tengah tekanan tersebut, Bank Mandiri menurunkan target adjusted NIM 2026 menjadi 4,3% hingga 4,5%. Panduan sebelumnya berada pada kisaran 4,5% hingga 4,7%.
NIM konsolidasi perseroan juga telah menunjukkan penurunan pada paruh pertama tahun ini. Margin tercatat 4,56% pada semester I/2026, setelah berada di level 4,70% pada kuartal I/2026.
Penurunan target mencerminkan perhatian Bank Mandiri terhadap profitabilitas bunga pada sisa tahun berjalan. Risiko likuiditas, kenaikan biaya dana, persaingan kredit, dan permintaan kredit yang lebih lunak dapat menekan imbal hasil penyaluran dana.
Kredit Tetap Menjadi Sasaran
Bank Mandiri tidak mengubah sasaran pertumbuhan kredit konsolidasi 2026 sebesar 7% hingga 9%. Penyaluran kredit akan diselaraskan dengan pertumbuhan dana pihak ketiga untuk menjaga keseimbangan likuiditas.
Hingga semester I/2026, kredit konsolidasi tumbuh 6,43% secara tahun berjalan. Segmen wholesale menjadi penopang utama, sementara pertumbuhan kredit ritel masih terbatas.
Perseroan tetap menjaga komposisi pembiayaan wholesale dan ritel sebagai bagian dari pengelolaan kualitas aset. Rasio kredit bermasalah konsolidasi membaik menjadi 1,01% pada semester I/2026 dari 1,10% setahun sebelumnya.
Pendapatan Selain Bunga Menguat
Dalam paparan kinerja kuartal II/2026 yang dikutip Bisnis Finansial, pendapatan nonbunga Bank Mandiri meningkat 14,9% secara tahunan pada semester I/2026. Kontribusinya mencapai 32% dari total pendapatan perseroan.
Pendapatan berulang berbasis komisi tumbuh 24% dengan dukungan transaksi digital, layanan perbankan, dan aktivitas treasury. Bank Mandiri juga mempertahankan target biaya kredit 2026 pada rentang 0,6% hingga 0,8%.
Pendapatan nonbunga dan kualitas aset menjadi penyeimbang penting di tengah ruang penguatan margin yang menyempit. Kinerja kedua unsur tersebut akan mendukung Bank Mandiri dalam mengejar pertumbuhan kredit tanpa menambah tekanan biaya dana.






