Peluang Federal Reserve mempertahankan suku bunga pada rapat September kini mencapai 70 persen, menurut perangkat CME FedWatch. Kenaikan probabilitas tersebut langsung menekan dolar AS hingga ke level terendah sejak pertengahan Juni.
Indeks dolar AS berjangka turun 0,1 persen menjadi 99,52 pada perdagangan Senin, 17 Agustus 2026. Pada sesi sebelumnya, indeks ini sudah ditutup melemah 0,3 persen.
Pasar mengubah pandangan setelah penjualan ritel Amerika Serikat pada Juli justru berkontraksi 0,6 persen. Konsensus awal sebelumnya memperkirakan penjualan ritel masih tumbuh 0,1 persen.
Kontraksi konsumsi memperkuat kekhawatiran bahwa ekonomi AS sedang kehilangan momentum. Investor juga mencermati indikator lain yang melemah, termasuk data penggajian nonpertanian serta inflasi konsumen dan produsen.
Perkiraan pengetatan semakin berkurang
Analis BNY menyatakan data ekonomi AS yang melemah dalam beberapa pekan terakhir telah menurunkan ekspektasi kenaikan suku bunga. Pasar saat ini memperhitungkan kenaikan kurang dari satu kali kenaikan penuh sampai Desember.
Perubahan ini penting karena suku bunga menentukan imbal hasil relatif aset berdenominasi dolar. Ketika pasar memperkirakan bank sentral tidak segera mengetatkan kebijakan, daya tarik mata uang AS cenderung berkurang.
Namun, sinyal dari pasar obligasi menunjukkan ketidakpastian yang lebih kompleks. Imbal hasil US Treasury bertenor panjang tetap tinggi meskipun pasar memperbesar taruhan suku bunga akan ditahan.
Menurut Analis BNY, sebagian pengamat menghubungkan kenaikan imbal hasil jangka panjang dengan kekhawatiran atas kredibilitas The Fed. “Yield pada obligasi US Treasury bertenor panjang tetap tinggi, dengan sejumlah pengamat mengaitkan kenaikan yield tersebut dengan kekhawatiran mengenai kredibilitas (The Fed),” kata analis tersebut.
Penguatan tidak merata di Asia
Pelemahan dolar memberi dukungan bagi sejumlah mata uang di Asia dan kawasan Antipodean. Namun, rupee India tetap melemah karena dipengaruhi langkah Reserve Bank of India.
| Mata uang | Pergerakan | Pendorong |
|---|---|---|
| Won Korea Selatan | Menguat 0,2 persen | Pelemahan dolar AS |
| Dolar Singapura | Menguat 0,1 persen | Pelemahan dolar AS |
| Dolar Australia dan pasangan Antipodean | Menguat hingga 0,5 persen | Pelemahan dolar AS |
| Rupee India | Melemah 0,2 persen | Fasilitas swap valuta asing diperpendek |
Won Korea Selatan naik 0,2 persen, sedangkan dolar Singapura menguat 0,1 persen. Dolar Australia dan pasangan mata uang Antipodean mencatat penguatan hingga 0,5 persen.
Di India, rupee turun 0,2 persen setelah Reserve Bank of India memperpendek fasilitas swap valuta asing. Pergerakan itu menunjukkan sentimen dolar global belum selalu menjadi faktor dominan bagi seluruh mata uang regional.
Risiko energi masih membayangi
Fokus investor tidak hanya tertuju pada data ekonomi dan kebijakan moneter AS. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta hambatan arus kapal tanker di Selat Hormuz masih menjadi sumber ketidakpastian global.
Risiko tersebut menahan reli harga minyak mentah dunia di sekitar 90 dolar AS per barel. Pasar menunggu risalah rapat The Fed dan simposium Jackson Hole pada akhir Agustus untuk menilai arah dolar berikutnya.






