Bukan Sekadar Mengejar IPK, Mahasiswa Perlu Siap Belajar Ulang saat Dunia Berubah

Mahasiswa perlu menyiapkan diri untuk belajar ulang ketika kebutuhan kompetensi berubah. IPK tetap penting, tetapi capaian akademik saja dinilai belum cukup untuk menghadapi kompetisi global yang semakin dinamis.

Perubahan teknologi dan pola bisnis dapat menggeser keahlian yang dibutuhkan di dunia kerja. Kondisi ini membuat kemampuan beradaptasi dan ketahanan mental menjadi bagian dari persiapan karier generasi muda.

Pandangan itu disampaikan BCA dalam kegiatan pembekalan akademik bagi lebih dari 1.000 mahasiswa Universitas Tanjungpura di Pontianak, Kalimantan Barat. Program BCA Berbagi Ilmu tersebut digelar pada Kamis, 13 Agustus 2026.

Kompetensi Tidak Bersifat Tetap

Direktur BCA Vera Eve Lim mengatakan masa depan tidak memiliki satu arah yang tunggal. Generasi muda, menurut dia, perlu menyadari bahwa relevansi suatu kemampuan dapat berubah dari waktu ke waktu.

“Masa depan itu tidak pernah tunggal, selalu ada pilihan dan kemungkinan. Apa yang saat ini relevan belum tentu demikian di masa depan,” ujar Vera.

Ia menjelaskan bahwa kesiapan masa depan berarti kesediaan untuk terus meningkatkan dan memperbarui kemampuan. Sikap fleksibel menjadi penting karena perjalanan kerja tidak selalu berjalan sesuai rencana yang telah disusun.

Kesiapan mental membantu mahasiswa menghadapi ketidakpastian tanpa kehilangan semangat untuk berkembang. Kemauan membuka diri terhadap pengetahuan dan pengalaman baru juga menjadi bagian dari proses tersebut.

Karakter dan Keterampilan Sosial

Selain penguasaan akademik, mahasiswa didorong mengasah kemampuan berpikir kritis, kolaborasi, dan jejaring. Kapasitas ini dinilai dapat memperkuat posisi individu saat menghadapi dinamika persaingan yang lebih luas.

Berpikir kritis memungkinkan mahasiswa mempertimbangkan perubahan secara lebih matang. Kolaborasi juga diperlukan agar mereka mampu bekerja bersama pihak lain dalam lingkungan yang terus berkembang.

Jejaring dapat memperluas pemahaman mahasiswa mengenai peluang dan kebutuhan di luar kampus. Ketiga kemampuan itu berjalan beriringan dengan karakter sebagai pembelajar sepanjang hayat.

Jembatan antara Kampus dan Industri

EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn menyebut pendidikan formal perlu mendapat pelengkap berupa wawasan dari praktisi industri. Pendekatan itu dapat membantu mahasiswa memahami kondisi kerja, kepemimpinan, dan transformasi digital secara lebih praktis.

“Melalui kolaborasi pembelajaran langsung dari praktisi industri, kami berharap mahasiswa tidak hanya memiliki bekal akademik, tetapi juga memahami kompetensi, karakter, dan pola pikir yang dibutuhkan di dunia kerja,” kata Hera.

Forum yang mengusung tema “Future-Ready: Thriving in a World of Constant Change” itu menyoroti perubahan sebagai kondisi yang perlu dihadapi, bukan dihindari. Mahasiswa didorong membangun kapasitas yang tetap relevan meski kebutuhan pekerjaan terus bergerak.

Menurut informasi BCA yang dilaporkan Kompas.com, penguatan karakter dan soft skills diposisikan sebagai bagian dari pembelajaran. Keterlibatan praktisi diharapkan dapat mempersempit kesenjangan antara fondasi teori di kampus dan tuntutan dunia kerja.

Melalui pengembangan kemampuan tersebut, talenta muda daerah diharapkan tidak berhenti pada pencapaian indeks prestasi. Mereka juga diharapkan mampu berkontribusi kepada masyarakat dengan kapasitas yang terus bertumbuh di era digital.

Baca Juga