Membaca berita negatif secara terus-menerus dapat membuat seseorang merasa tidak mampu mengubah keadaan di sekitarnya. Perasaan itu berisiko berkembang menjadi learned helplessness, ketika peluang untuk bertindak sebenarnya masih ada tetapi seseorang merasa tidak berdaya.
Psikolog klinis Universitas Gadjah Mada, Pamela Andari Priyudha, M Psi, Psikolog, mengingatkan bahwa kondisi tersebut dapat memicu apatisme, frustrasi, dan depresi secara kolektif. Paparan informasi yang menekan juga dapat menumpuk menjadi ketegangan psikologis yang kronis.
3 Penangkal Saat Arus Informasi Terasa Menyesakkan
Pencegahan dapat dimulai dari cara seseorang mengatur hubungan dengan informasi digital. Tujuannya bukan menolak berita, melainkan menghindari siklus kecemasan yang membuat pikiran terus mencari kabar buruk.
1. Kurangi Paparan ketika Emosi Sedang Rentan
Langkah awalnya adalah mengenali informasi yang paling sering memicu kegelisahan. Pengurangan paparan isu yang mengusik emosi, seperti konflik politik atau persoalan sosial, dapat dilakukan saat kondisi psikologis sedang tidak stabil.
Jeda tersebut membantu seseorang tidak terus berada dalam pola membaca berita, merasa cemas, lalu kembali memeriksa kabar berikutnya. Pembatasan konsumsi bukan berarti mengabaikan situasi yang sedang berlangsung.
2. Bangun Penilaian dari Informasi Pembanding
Satu unggahan atau satu kabar yang beredar cepat belum tentu menyajikan konteks secara menyeluruh. Pencarian informasi dari berbagai sumber kredibel diperlukan sebelum seseorang mengambil sikap atau bereaksi.
Pamela menyarankan masyarakat mengedepankan logika dan sikap objektif dalam menghadapi arus informasi. Kebiasaan tersebut dapat membantu menghindari ketergantungan pada satu sudut pandang yang belum tentu lengkap.
3. Beri Ruang untuk Konten yang Membangun
Konten positif dan inspiratif dapat menjadi penyeimbang bagi ruang digital yang dipenuhi informasi menguras emosi. Pilihan ini membantu menjaga suasana hati serta mendorong pandangan yang lebih optimistis.
Fokus dapat pula dipindahkan kepada hal-hal yang masih berada dalam kendali pribadi. Memusatkan perhatian pada peran dan tanggung jawab yang dapat dijalankan membantu mempertahankan semangat.
| Risiko Paparan Berulang | Dampak yang Disebutkan | Respons yang Dapat Dilakukan |
|---|---|---|
| Ketegangan dan kecemasan | Sulit lepas dari rasa gelisah | Membatasi berita pemicu |
| Gangguan fisik | Sakit kepala, nyeri leher dan bahu | Mengurangi waktu menatap layar |
| Gangguan tidur dan aktivitas | Sulit tidur serta kurang terlibat saat bekerja | Memilih informasi secara lebih terukur |
Dampak yang Tidak Hanya Bersifat Emosional
Kebiasaan doomscrolling dapat memengaruhi kondisi tubuh dan rutinitas sehari-hari. Para ahli Harvard mengaitkan paparan berita buruk berulang dengan sakit kepala, nyeri leher dan bahu, turunnya nafsu makan, sulit tidur, serta tekanan darah tinggi.
Dr Aditi Nerurkar dari Divisi Kesehatan Global dan Kedokteran Sosial menyoroti waktu panjang yang dihabiskan untuk menyimak berita negatif di media sosial. Kebiasaan tersebut juga membuat seseorang kurang bergerak sehingga dampaknya dapat meluas ke kesehatan fisik.
Temuan dalam Computers in Human Behavior Reports pada Agustus 2024 memperlihatkan kaitan antara pencarian berita buruk di internet dan kecemasan eksistensial yang lebih tinggi. Studi yang melibatkan 800 orang dewasa itu dikutip Harvard Health.
Kecemasan eksistensial dapat berupa rasa takut atau panik saat menghadapi keterbatasan hidup. Sementara itu, studi dalam Computers in Human Behavior pada April 2024 menemukan pekerja yang melakukan doomscrolling saat bekerja cenderung kurang terlibat dalam tugas profesionalnya.
Literasi Digital dan Regulasi Emosi
Orang tua dan lansia termasuk kelompok yang perlu lebih memperhatikan dampak paparan informasi negatif. Remaja dan anak muda yang berlebihan mengonsumsi media sosial juga disebut rentan mengalami dampak serupa.
Kerentanan dapat meningkat pada orang dengan literasi digital rendah dan akses terbatas terhadap informasi kredibel. Edukasi literasi digital serta keterampilan regulasi emosi perlu diberikan berkelanjutan oleh individu, institusi pendidikan, dan komunitas sosial.






