Bekicot Cepat Berkembang Biak, BRIN Ingatkan Bedanya dengan Keong Asli Jawa

Kemampuan berkembang biak yang tinggi membuat bekicot perlu dibedakan dari keong lain yang hidup di Indonesia. Bekicot Lissachatina fulica merupakan spesies asing invasif, bukan keong asli Jawa.

Spesies tersebut bersifat hermafrodit atau memiliki dua organ kelamin dalam satu tubuh. Karakter ini menjadi salah satu faktor yang berkaitan dengan laju reproduksi bekicot.

Bekicot juga masuk daftar 100 spesies invasif paling membahayakan di dunia. Karena itu, pengenalan spesies tidak dapat hanya didasarkan pada anggapan bahwa seluruh hewan bercangkang adalah bekicot.

Periset Biosistematika dan Evolusi BRIN, Ayu Savitri Nurinsiyah, menyatakan bahwa bekicot hanyalah salah satu jenis keong. “Bekicot adalah keong, tapi keong belum tentu bekicot,” kata Ayu.

Bekicot Datang dari Luar, Keong Jawa Bersifat Endemik

Menurut pemaparan Ayu yang dikutip Kompas.com, bekicot pertama kali didatangkan ke Indonesia sekitar tahun 1900-an. Penyebarannya kemudian lebih masif sekitar 1940-an pada masa penjajahan Jepang untuk tujuan budidaya.

Keong Amphidromus javanicus memiliki kedudukan yang berbeda. Spesies ini merupakan keong endemik Pulau Jawa dan terkait secara alami dengan wilayah tersebut.

Perbedaan asal dan status ini menunjukkan bahwa istilah keong memiliki cakupan lebih luas daripada bekicot. Ketelitian dalam menyebut spesies juga penting bagi pencatatan keanekaragaman hayati.

AspekBekicotKeong Jawa
Nama ilmiahLissachatina fulicaAmphidromus javanicus
StatusSpesies asing invasifEndemik Pulau Jawa
KeteranganBereproduksi cepat dan bersifat hermafroditBagian dari kekayaan hayati Jawa

Spesimen Museum Membantu Mengenali Keong

BRIN membahas pengumpulan, pengawetan, dan identifikasi gastropoda melalui pelatihan yang digelar secara daring pada Selasa (22/7/2026). Pembahasan juga meliputi peran ekologis gastropoda serta karakter morfologi yang digunakan untuk mengenali spesies.

Identifikasi tidak hanya bertumpu pada kegiatan lapangan. Peneliti juga memanfaatkan spesimen museum dan literatur terdahulu yang dapat memuat deskripsi, ukuran, dan data lokasi.

Koleksi ilmiah yang disimpan dengan baik dapat digunakan kembali dalam penelitian jangka panjang. Nilainya menjadi penting apabila habitat keong mengalami kerusakan atau tidak lagi ditemukan di masa mendatang.

“Kita tidak tahu 50 atau 100 tahun kemudian habitat keong sudah punah. Karena itu, museumlah tempat menyimpan spesimen secara baik,” ujar Ayu.

Tiga Metode Pengoleksian Gastropoda

Pengumpulan gastropoda dapat memakai metode time-search, visual search, dan direct collection. Spesimen dapat diambil dengan pinset maupun langsung menggunakan tangan.

Ayu menyarankan penggabungan beberapa metode ketika kegiatan dilakukan di lapangan. Cara itu mempertimbangkan persediaan waktu dan dana yang terbatas.

Penanganan setelah pengambilan perlu menyesuaikan kondisi spesimen. Koleksi mati dan koleksi hidup tidak diproses dengan cara yang sama.

Jenis KoleksiKondisiPerlakuan
Koleksi matiCangkang tanpa tubuhCangkang besar dibersihkan memakai air dan sikat gigi berbulu halus, sedangkan cangkang kecil dibantu ultrasonografi.
Koleksi hidupCangkang lengkap dengan tubuhKeong perlu segera dimatikan dengan merebusnya dalam air mendidih sebelum proses berikutnya.

Cangkang yang telah bersih harus diberi label dengan informasi yang mudah dibaca. Nomor koleksi, lokasi, dan nama spesies menjadi data yang perlu dicantumkan.

Dokumentasi yang rapi membantu menjaga bahan kajian taksonomi pada masa depan. Pengelolaan spesimen secara profesional juga mendukung peningkatan kualitas data keanekaragaman hayati Indonesia.

Baca Juga