Baterai Makin Murah, EV Melampaui Hybrid dalam Perebutan Harga Kendaraan Baru

Turunnya biaya baterai mengubah salah satu hambatan terbesar mobil listrik untuk bersaing di pasar kendaraan baru. Rata-rata harga EV global pada 2025 kini sekitar US$37.000, lebih rendah daripada mobil hybrid yang mencapai sekitar US$39.000.

Baterai menyumbang sekitar 30% hingga 40% dari total biaya produksi mobil listrik. Karena itu, penurunan biaya baterai dapat langsung membuka ruang bagi produsen untuk memangkas harga jual kendaraan.

BloombergNEF mencatat biaya baterai lithium-ion menurun sekitar 37% sepanjang 2020 sampai 2025. Salah satu pemicunya adalah kelebihan kapasitas produksi baterai di China.

Dominasi Produksi Baterai

China saat ini menguasai sekitar 80% pasar baterai kendaraan listrik global. Skala produksi tersebut menjadikan industri baterai China sebagai salah satu penentu penting biaya EV di pasar dunia.

Produsen kendaraan juga semakin banyak memilih baterai LFP atau lithium iron phosphate. Baterai ini tidak menggunakan kobalt, sehingga biaya produksinya dipandang relatif lebih stabil.

LFP sebelumnya dikenal memiliki kepadatan energi yang lebih rendah daripada sejumlah teknologi baterai lain. Namun, pengembangannya berlanjut dan Renault serta Volkswagen telah menyatakan akan mengadopsi teknologi tersebut.

Teknologi baterai yang makin murah juga ikut memengaruhi harga plug-in hybrid. Meski demikian, pergeseran harga paling jelas terlihat pada mobil listrik murni yang makin dekat ke segmen kendaraan massal.

Jenis KendaraanRata-rata Harga 2025Perubahan sejak 2020
Mobil listrikUS$37.000Turun 9%
Mobil hybridUS$39.000Naik 16%
Mobil bensin/dieselTidak disebutkanSedikit naik

Data Mobility Global yang dikutip Nikkei Asia menunjukkan harga mobil listrik turun 9% dibandingkan 2020. Pada saat yang sama, rata-rata harga mobil hybrid justru meningkat 16%.

Harga kendaraan bensin dan diesel atau ICE juga disebut naik sedikit dalam lima tahun terakhir. Pergerakan ini membuat perbandingan harga antara teknologi kendaraan berubah cukup tajam.

Kompetisi EV China Menguat

Penurunan biaya produksi bertemu dengan ekspansi kendaraan listrik China ke pasar internasional. Ekspor EV China bertumbuh dari di bawah 100.000 unit pada 2020 menjadi sekitar 1,64 juta unit dalam laporan tahun lalu.

Masuknya model-model China meningkatkan persaingan harga, khususnya di Asia Tenggara dan Amerika Selatan. Di beberapa pasar berkembang, mobil listrik sudah dijual lebih murah daripada rata-rata mobil hybrid.

Thailand menunjukkan cepatnya perubahan peta persaingan tersebut. Merek China kini menyumbang hampir 30% dari penjualan mobil baru di negara itu.

Harga beli yang makin kompetitif membuat keunggulan EV tidak lagi hanya berkaitan dengan ongkos penggunaan dan isu lingkungan. Kenaikan harga minyak akibat konflik di Timur Tengah juga berpotensi meningkatkan biaya memakai kendaraan bensin dan diesel.

Bagi konsumen, perubahan ini memperluas pertimbangan saat memilih kendaraan baru. Biaya baterai yang turun, kapasitas produksi China, dan kompetisi produsen bersama-sama menggeser posisi hybrid sebagai opsi elektrifikasi yang sebelumnya dianggap lebih mudah dijangkau.

Baca Juga