Samudra Pasifik saat ini menunjukkan dua dampak yang berlawanan dari penguatan El Nino 2026. Ketika sistem badai bertambah di sejumlah kawasan, Indonesia justru berpotensi masuk wilayah bayangan hujan yang memicu kekeringan lebih luas.
Satelit Himawari mendeteksi lima sistem badai di Pasifik, dengan dua di antaranya telah berkembang menjadi siklon tropis. Badai yang lebih sering dan intens berpotensi meningkatkan ancaman banjir di Amerika, Filipina, dan negara-negara lintang menengah di belahan bumi utara.
Risiko Kering bagi Indonesia
Pakar klimatologi BRIN Prof. Dr. Erma Yulihastin menyebut Indonesia dapat berada pada sisi kering dari perubahan sirkulasi atmosfer di Pasifik. Kondisi itu dapat membuat kekeringan meluas dari hari ke hari dan menimbulkan perhatian terhadap cuaca ekstrem serta sektor pangan.
Dalam unggahan akun X pada 24 Juli 2026, Erma menyampaikan bahwa lembaga cuaca ekstrem Eropa juga menyoroti potensi Super El Nino. Fenomena itu diperkirakan disertai perubahan sirkulasi atmosfer yang menghasilkan dampak berbeda di tiap kawasan.
Ancaman tersebut muncul ketika indeks El Nino telah mencapai 1,74 derajat Celsius pada pembaruan 19 Juli 2026. Nilai ini masuk kategori El Nino kuat serta sudah melampaui puncak El Nino 2023.
| Indikator | Kondisi Terkini | Waktu |
|---|---|---|
| Indeks El Nino | 1,74°C | 19 Juli 2026 |
| Penguatan intensitas | Sekitar 0,2°C per pekan | Sejak Februari 2026 |
| Sistem badai Pasifik | 5 sistem, 2 menjadi siklon tropis | Hasil deteksi Himawari |
Penguatan Melaju Tanpa Jeda
Erma menilai El Nino tahun ini berkembang sangat cepat dibandingkan kejadian 2023. Sejak Februari 2026, intensitasnya disebut bertambah sekitar 0,2 derajat Celsius setiap pekan tanpa fase stagnasi atau pelemahan.
Ia menyatakan El Nino 2026 masih belum berada pada puncaknya. “Sudah dapat dipastikan El Nino 2026 akan jauh lebih kuat dibandingkan 2023, begitu pula dampak yang ditimbulkannya,” jelas Erma.
Proyeksi saat ini menunjukkan peluang menuju kategori Super El Nino pada Agustus 2026. Acuan proyeksi itu berasal dari data Bureau of Meteorology Australia dan Japan Agency for Marine-Earth Science and Technology.
Panas Bawah Laut Menjadi Penopang
Selain indeks di permukaan, panas di bawah permukaan laut menjadi faktor yang diperhatikan dalam penguatan El Nino. Suhu tertinggi pada lapisan tersebut disebut mencapai 9 derajat Celsius, atau dua hingga tiga kali lebih panas daripada lapisan permukaan.
Volume panas di bawah laut dinilai jauh lebih besar daripada pemanasan yang terlihat dari permukaan. Ketika panas itu bergerak naik, energi dapat dilepas ke atmosfer dan mendukung penguatan El Nino secara bertahap.
Pemanasan laut saat ini juga disebut tampak lebih luas dibandingkan ketika El Nino besar pada 1997. Meski demikian, proyeksi iklim dapat berubah sejalan dengan pembaruan hasil pengamatan atmosfer dan lautan.
Indeks El Nino, suhu laut, serta perkembangan badai di Pasifik akan menjadi indikator penting untuk memantau perubahan risiko. Bagi Indonesia, kesiapan menghadapi kemungkinan berkurangnya hujan perlu menjadi perhatian selama tren penguatan masih berlangsung.






