Masa kehamilan hingga anak berusia 2 tahun menjadi periode yang sangat penting bagi perkembangan otak. Dalam 1.000 hari pertama kehidupan, ukuran otak manusia disebut telah mencapai sekitar 80 persen dari ukuran otak saat dewasa.
Perkembangan yang cepat itu membuat dukungan terhadap anak tidak dapat hanya bertumpu pada faktor keturunan. Dokter spesialis anak dr Kanya Ayu, SpA, menekankan perlunya keseimbangan antara asah, asih, dan asuh.
Tiga Kebutuhan yang Saling Melengkapi
Asah berkaitan dengan kebutuhan nutrisi yang menunjang pertumbuhan anak. Asih berfokus pada kasih sayang serta respons emosional, sedangkan asuh mencakup stimulasi dalam kehidupan sehari-hari.
Ketiga unsur tersebut perlu dijalankan secara beriringan. Salah satu unsur tidak dapat menggantikan unsur lainnya dalam mendukung perkembangan anak.
| Aspek | Fokus | Contoh Pendukung |
|---|---|---|
| Asah | Nutrisi | Protein, makronutrien, mikronutrien, zat besi, DHA |
| Asih | Emosi | Kasih sayang serta respons terhadap stres dan teguran |
| Asuh | Stimulasi | Mengajak berbicara dan bermain cilukba |
Dalam unsur asah, dr Kanya menyoroti pentingnya kecukupan protein, makronutrien, mikronutrien, zat besi, DHA, dan nutrisi lain. Kebutuhan tersebut menjadi bagian dari perhatian yang perlu diberikan kepada anak sejak awal kehidupannya.
Unsur asih berkaitan dengan cara anak memperoleh kasih sayang dan membangun respons emosional. Aspek ini juga mencakup situasi ketika anak menghadapi stres atau menerima teguran.
Sementara itu, asuh dapat dilakukan melalui kegiatan sederhana di rumah. Mengajak anak berbicara dan memperkenalkan permainan cilukba disebut sebagai contoh stimulasi yang dapat diberikan dalam keseharian.
Genetik Bukan Satu-Satunya Penjelasan
Kecerdasan anak sering dikaitkan dengan faktor keturunan dari orang tua. Namun, dr Kanya menyatakan pembentukan kecerdasan merupakan proses panjang yang tidak semata-mata bergantung pada genetik.
“Kecerdasan anak biasanya diturunkan dari ibunya,” ujar dr Kanya Ayu, SpA. “Tapi betul tidak hanya dari genetik saja.”
Penjelasan itu disampaikan dalam Talkshow Early Life Nutrition – Next Gen(Re) Parenting oleh Morinaga di Jakarta Pusat. health.detik.com melaporkan bahwa perhatian terhadap tumbuh kembang anak perlu dimulai sejak anak masih berada dalam kandungan.
Interaksi Tidak Kalah Penting dari Makanan
Dr Kanya mengingatkan bahwa anak tidak cukup hanya diberi makanan bernutrisi. Anak juga memerlukan interaksi, komunikasi, dan permainan yang menjadi bagian dari stimulasi.
“Percuma kalau ibunya pintar terus anak dikasih makan daging, tapi cuma dikasih makan, nggak diajak ngomong nggak pernah diajarin bermain cilukba dan seterusnya semuanya harus balance,” tandasnya. Pernyataan itu menggambarkan pentingnya keterlibatan orang tua dalam memenuhi kebutuhan anak secara utuh.
Pemenuhan nutrisi mendukung kebutuhan fisik anak, sementara kasih sayang membantu sisi emosionalnya. Stimulasi melalui interaksi sehari-hari melengkapi dua kebutuhan tersebut pada masa perkembangan otak yang pesat.
Karena itu, kecerdasan anak tidak tepat dipandang sebagai hasil genetik semata. Perhatian yang konsisten terhadap asah, asih, dan asuh menjadi bagian penting selama 1.000 hari pertama kehidupan.






