Setelah Setahun Dikembangkan, Aksara Nusantara Mulai Didorong ke Masyarakat

Sosialisasi masif Aksara Nusantara mulai didorong pemerintah setelah sistem tulisan nasional baru itu dikembangkan selama sekitar satu tahun. Menteri Kebudayaan RI menginstruksikan percepatan pengenalannya pada 12 Agustus 2026.

Dorongan tersebut menempatkan Aksara Nusantara sebagai proyek kebudayaan yang ditujukan untuk ruang publik. Sistem ini dirancang untuk memperkuat identitas Indonesia melalui bentuk tulisan yang berakar pada warisan aksara lokal.

Kehadiran tulisan baru itu tidak menggantikan posisi Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Bahasa Indonesia selama ini menggunakan alfabet Latin, sedangkan Aksara Nusantara dikembangkan sebagai fondasi visual kebudayaan nasional.

Proyek ini dibangun dengan perhatian pada kegunaan, bukan hanya nilai representasi. Tim pengembang menguji keterbacaan dan kemudahan penulisan agar sistem tersebut dapat dipelajari oleh masyarakat.

Uji Coba Sebelum Sosialisasi

Pada Juni 2025, pengujian melibatkan 20 guru dan pegiat aksara. Kegiatan itu menjadi bagian dari upaya melihat apakah karakter dan aturan penulisan Aksara Nusantara dapat digunakan secara praktis.

Hasil pengembangan juga telah diarahkan ke perangkat komputer dan laptop. Namun, sistem ketik serta pembacaan teks pada ponsel pintar dan tablet masih menjalani tahap penyempurnaan.

Penyediaan dukungan digital dipandang penting karena penggunaan tulisan kini tidak terlepas dari perangkat elektronik. Kemampuan beradaptasi dengan teknologi akan memengaruhi jangkauan penerapan sistem tersebut di masa mendatang.

Berangkat dari Tiga Pilar

Rancangan Aksara Nusantara disusun melalui pendekatan filologi, linguistik, dan abugida. Ketiga pilar itu dipakai untuk menghubungkan unsur sejarah dengan kebutuhan penulisan modern.

Pilar PerancanganFokus KajianPenerapan pada Aksara Nusantara
FilologiManuskrip dan aksara kunoMengambil karakteristik, estetika, dan nilai historis dari berbagai wilayah.
LinguistikBunyi dan pembelajaranMembentuk penulisan fonetik, logis, dan sesuai penggunaan sehari-hari.
AbugidaKonsonan dengan vokal bawaanMenggunakan bunyi /a/ pada karakter dasar yang dapat diubah dengan diakritik.

Filologi digunakan untuk menelaah naskah serta ciri aksara kuno dari banyak daerah di Indonesia. Pendekatan ini menjaga agar nilai estetika dan sejarah lokal tetap hadir dalam sistem yang baru dibentuk.

Linguistik dipakai untuk membangun hubungan bunyi yang konsisten dan mudah dipelajari. Adapun sistem abugida menjadikan konsonan sebagai karakter dasar dengan vokal bawaan /a/.

Bunyi dasar tersebut dapat berubah melalui penambahan tanda atau diakritik khusus. Pola ini menjadi unsur utama dalam struktur penulisan Aksara Nusantara.

Berawal dari Arahan Kebudayaan

Gagasan pengembangan sistem tulisan ini bermula dari arahan Menteri Kebudayaan RI kepada Keraton Majapahit Jakarta pada 11 Januari 2025. Arahan tersebut menekankan pelestarian dan pengembangan seni, musik, serta sistem tulisan asli Indonesia.

Pengembangan proyek juga terkait dengan pengangkatan Pangeran Cevi Yusuf Isnendar sebagai Raja Warisan Budaya di Banjar, Kalimantan Selatan. Ia memperoleh gelar Sultan Yusuf Al-Banjari pada 6 Mei 2025.

Di bawah Sultan Yusuf Al-Banjari, dibentuk tim khusus untuk merumuskan sistem tulisan baru itu. Menurut CNN Indonesia, Keraton Majapahit Jakarta melibatkan ahli aksara, pegiat aksara, dan pemangku adat dalam proses perancangannya.

Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Universitas Negeri Jakarta, Universitas Diponegoro, serta UIN Alauddin turut berada dalam jejaring akademik proyek tersebut. Keterlibatan mereka diarahkan untuk membuat Aksara Nusantara memiliki landasan ilmiah dan peluang penggunaan nyata.

Sosialisasi yang lebih luas akan menjadi ujian berikutnya bagi penerimaan sistem tulisan ini. Pengembangan teknologi dan kemudahan belajar menjadi dua faktor yang akan menentukan sejauh mana Aksara Nusantara dapat digunakan masyarakat.

Baca Juga