Penjualan Mobil Bensin Merosot, Armada EV China dan Eropa Kian Mendominasi

Mobil bensin dan diesel mulai kehilangan ruang di dua pasar besar ketika kendaraan listrik memperkuat posisinya pada armada komersial dan penjualan mobil baru. Pergeseran itu tampak jelas di China serta Eropa, meski harga minyak dunia meningkat akibat konflik di Timur Tengah.

Di Eropa, registrasi mobil listrik baterai pada Juni 2026 melonjak 51% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, pendaftaran mobil bensin turun 12,2% dan kendaraan diesel merosot 16,9%.

Elektrifikasi Menguasai Pasar Mobil Baru Eropa

Asosiasi Produsen Otomotif Eropa atau ACEA mencatat total registrasi mobil baru di Uni Eropa, Inggris, dan EFTA mencapai 1.407.332 unit pada Juni 2026. Angka itu tumbuh 13,1%, dengan kendaraan listrik baterai, plug-in hybrid, dan hybrid menyumbang hampir 70% dari seluruh pendaftaran baru.

Jenis KendaraanPerubahan RegistrasiPeriode
Mobil listrik bateraiNaik 51%Juni 2026
Plug-in hybridNaik 22,7%Juni 2026
HybridNaik 17,1%Juni 2026
BensinTurun 12,2%Juni 2026
DieselTurun 16,9%Juni 2026

Kenaikan permintaan tersebut juga memperluas peluang produsen China di pasar Eropa. BYD, Chery, dan Leapmotor mencatat pertumbuhan penjualan tiga hingga enam kali lipat dibandingkan setahun sebelumnya.

SAIC membukukan kenaikan penjualan 50%, sedangkan Geely tumbuh 11%. Perkembangan ini menunjukkan pergeseran pasar Eropa tidak hanya ditopang merek lama, tetapi juga oleh makin kuatnya kehadiran produsen asal China.

Armada Taksi China Mengurangi Kebutuhan BBM

Di China, perubahan paling besar terlihat pada kendaraan yang beroperasi sepanjang hari, seperti taksi dan layanan berbagi tumpangan. Kementerian Transportasi China menyebut sekitar separuh dari 1,3 juta armada taksi nasional telah menggunakan EV.

Di sejumlah kota besar, proporsi penggunaan kendaraan listrik pada armada taksi bahkan mendekati 100%. Kondisi itu membuat pertumbuhan mobilitas perkotaan tidak lagi otomatis meningkatkan konsumsi bensin dan solar.

Warga China mencatat sekitar 3,05 miliar perjalanan menggunakan layanan transportasi daring sepanjang periode yang disebutkan. Jumlah tersebut meningkat 6% sejak perang Iran dimulai pada akhir Februari, jika dibandingkan Maret hingga Mei 2025.

Didi turut memperbesar peran kendaraan nonbahan bakar dengan menambah 2 juta mobil hybrid atau listrik pada tahun lalu. Total armada nonbahan bakar perusahaan itu mencapai 8 juta unit, sementara EV menempuh 75% dari total jarak perjalanan.

Indikator ChinaPerubahanPeriode
Konsumsi bensinTurun 10%Mei 2026 tahunan
Konsumsi solarTurun 14%Mei 2026 tahunan
Angkutan barang jalan rayaNaik 2%Mei 2026
Perjalanan berbagi tumpanganNaik 6%Maret-Mei

Data tersebut memperlihatkan konsumsi bensin China turun 10% dan penggunaan solar menyusut 14% pada Mei 2026 dibandingkan setahun sebelumnya. Penurunan terjadi ketika angkutan barang melalui jalan raya justru naik 2% dan perjalanan darat saat libur May Day mencetak rekor.

Ketergantungan Minyak Dinilai Berkurang

CNBC Indonesia melaporkan impor minyak China turun 41% pada Juni 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan itu berlangsung tanpa banyak mengandalkan cadangan minyak, sehingga lebih banyak kargo tersedia di pasar global yang terdampak perang.

Analis J.P. Morgan Natasha Kaneva menilai konflik dapat mempercepat perubahan perilaku yang telah berlangsung. Menurutnya, China secara struktural semakin tidak bergantung pada minyak dibandingkan perkiraan pasar pada masa lalu.

Direktur Asia Timur Institute for Transportation & Development Policy di China, Daizong Liu, menilai kenaikan harga BBM ikut mengubah pilihan masyarakat. “Seiring naiknya harga BBM, masyarakat makin jarang menggunakan mobil berbahan bakar bensin milik pribadi,” ujarnya.

Greenpeace memproyeksikan 90% dari total jarak tempuh taksi dan layanan berbagi tumpangan akan menggunakan kendaraan listrik pada 2035. Proyeksi ini menempatkan armada komersial sebagai salah satu faktor utama dalam penurunan konsumsi bensin di kawasan perkotaan.

Baca Juga