914 Rumah Rusak akibat Gempa Flores, Bantuan Awal Masuk ke Lima Kabupaten

Sebanyak 914 rumah dilaporkan rusak akibat gempa magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur, pada Sabtu (15/8/2026). Kerusakan itu terjadi bersamaan dengan terganggunya puluhan fasilitas pendidikan dan kesehatan di kawasan terdampak.

Di tengah kerusakan tersebut, lebih dari 5.900 warga masih berada di pengungsian. Kebutuhan air minum, makanan, kebersihan, serta perlengkapan untuk beristirahat menjadi persoalan yang harus segera ditangani.

Fasilitas Dasar Terdampak di Tengah Masa Darurat

Data BNPB per 16 Agustus 2026 pukul 13.00 WIB menunjukkan gempa yang berpusat di Laut Flores itu diikuti 341 kali gempa susulan. Bencana tersebut juga menyebabkan 51 orang meninggal dunia dan 101 orang mengalami luka-luka.

Jenis DampakJumlah
Rumah rusak914 unit
Fasilitas pendidikan terdampak93 unit
Fasilitas kesehatan terdampak36 unit
Korban meninggal dunia51 orang
Korban luka-luka101 orang
Warga di pengungsianLebih dari 5.900 orang
Gempa susulan341 kali

Sebanyak 93 fasilitas pendidikan terdampak, sehingga aktivitas belajar anak-anak berpotensi terganggu. Sementara itu, 36 fasilitas kesehatan mengalami dampak ketika layanan medis dasar tetap dibutuhkan oleh warga pengungsian.

Pengungsian terutama dihuni warga dari Kabupaten Sikka, Manggarai, dan Nagekeo. Kondisi tersebut membuat kebutuhan pemulihan tidak hanya menyangkut bangunan rumah, tetapi juga keberlangsungan layanan dasar bagi keluarga terdampak.

Paket Awal untuk Lima Wilayah Terdampak

Plan Indonesia menyalurkan lebih dari 250 paket bantuan darurat ke lima titik pengungsian. Jangkauan distribusi mencakup Kabupaten Manggarai, Manggarai Timur, Nagekeo, Ngada, dan Sikka.

Isi bantuan meliputi paket kebersihan keluarga, perlengkapan kebersihan menstruasi, perlengkapan hunian sementara, air minum kemasan, serta makanan ringan. Organisasi tersebut juga menyediakan alat permainan edukatif untuk anak-anak yang terdampak bencana.

Bantuan kebersihan menstruasi diberikan untuk merespons kebutuhan perempuan dan remaja perempuan di lokasi pengungsian. Akses terhadap sanitasi dan perlengkapan yang layak menjadi penting agar kebutuhan mereka dapat dipenuhi secara bermartabat.

Alat permainan edukatif disiapkan karena anak-anak membutuhkan ruang bermain dan rasa aman ketika rutinitas mereka terganggu. Situasi gempa dapat menimbulkan tekanan psikologis bagi anak yang kehilangan lingkungan dan aktivitas sehari-hari.

Direktur Eksekutif Plan Indonesia Dini Widiastuti menyebut kebutuhan dasar menjadi prioritas utama saat keadaan darurat. Ia juga menegaskan bahwa respons kemanusiaan perlu tetap mempertimbangkan kebutuhan spesifik anak-anak dan perempuan.

“Dalam situasi darurat, kebutuhan dasar seperti air minum, kebersihan, tempat untuk beristirahat, dan makanan memang menjadi prioritas,” kata Dini Widiastuti. Menurut dia, anak-anak membutuhkan ruang bermain dan rasa aman, sedangkan perempuan serta remaja perempuan perlu mengakses kebutuhan kebersihan menstruasi secara layak.

Tim Menilai Kebutuhan Lanjutan

Plan Indonesia mengerahkan 16 anggota tim tanggap darurat bencana untuk melakukan kaji cepat di lima kabupaten terdampak. Langkah itu dilakukan untuk menentukan kebutuhan lanjutan berdasarkan kondisi nyata di masing-masing wilayah.

Kaji cepat memberi perhatian kepada anak-anak, anak dan remaja perempuan, perempuan, penyandang disabilitas, serta kelompok rentan lainnya. Perbedaan kondisi di tiap lokasi membuat penyaluran bantuan perlu disesuaikan, bukan disamaratakan.

Anak perempuan dapat menghadapi risiko tambahan selama tinggal di pengungsian, termasuk keterbatasan sanitasi dan kebutuhan menstruasi. Kehilangan ruang aman serta risiko kekerasan juga menjadi hal yang perlu diperhatikan dalam respons bencana.

Hasil penilaian lapangan akan digunakan untuk menyiapkan dukungan yang relevan dan tepat sasaran bagi penyintas. Bantuan awal di lima kabupaten menjadi bagian dari upaya menjaga kebutuhan keluarga terdampak Gempa Flores tetap terpenuhi selama masa darurat.

Baca Juga