4 Wilayah Selatan Paling Rentan, Super El Nino 2026 Ancam Air dan Pangan

Intensitas El Nino yang dipantau melalui satelit telah mencapai 1,74 derajat Celsius, melampaui puncak El Nino 2023 yang berada pada level 1,6 derajat Celsius. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran terhadap ancaman kekeringan yang lebih berat di sejumlah wilayah Indonesia pada 2026.

Profesor riset Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional, Erma Yulihastin, memperkirakan intensitasnya dapat menembus 2 derajat Celsius pada Agustus. Jika ambang tersebut tercapai atau terlampaui, fenomena itu masuk kategori super El Nino.

Tekanan paling besar diproyeksikan terjadi di wilayah selatan garis khatulistiwa yang cenderung menghadapi udara lebih kering dan suhu lebih panas. Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur menjadi empat kawasan yang perlu meningkatkan kesiapsiagaan.

Peta wilayah paling rentan

WilayahPotensi dampak
Pulau JawaKekeringan, suhu lebih panas, dan udara lebih kering
BaliKekeringan, suhu lebih panas, dan udara lebih kering
Nusa Tenggara BaratKekeringan, suhu lebih panas, dan udara lebih kering
Nusa Tenggara TimurKekeringan, suhu lebih panas, dan udara lebih kering

1. Pulau Jawa

Pulau Jawa diperkirakan menerima dampak besar, terutama kawasan selatan yang disebut sebagai salah satu titik rawan kekeringan. Kondisi kering yang lebih dahulu terjadi di kawasan tenggara berpotensi diikuti wilayah Jawa saat musim kemarau mencapai puncak.

Gangguan pasokan air dapat memengaruhi kebutuhan rumah tangga dan kegiatan pertanian di wilayah ini. Pengelolaan cadangan air menjadi penting ketika hujan berkurang dan suhu meningkat.

2. Bali

Bali turut masuk wilayah yang berisiko mengalami penurunan curah hujan akibat penguatan El Nino. Udara yang lebih kering serta cuaca lebih panas dapat memperbesar tekanan terhadap ketersediaan air.

Daerah di selatan khatulistiwa memang lebih rentan menghadapi dampak pengurangan hujan selama periode ini. Karena itu, pemanfaatan air secara efisien menjadi langkah yang relevan dilakukan sejak dini.

3. Nusa Tenggara Barat

Nusa Tenggara Barat diproyeksikan menghadapi risiko kekeringan parah bersamaan dengan cuaca panas yang lebih dominan. Wilayah ini termasuk kawasan selatan ekuator yang diperkirakan mengalami kondisi lebih kering dibandingkan keadaan normal.

Erma memperkirakan lebih dari 70 persen wilayah Indonesia dapat mengalami kondisi panas dan kering secara statistik. Namun, tingkat dampak di setiap daerah tetap dapat berbeda.

4. Nusa Tenggara Timur

Nusa Tenggara Timur melengkapi daftar wilayah yang paling rentan terhadap dampak super El Nino. Berkurangnya curah hujan pada musim kemarau dapat memperbesar risiko defisit air di kawasan tersebut.

Super El Nino sebelumnya tercatat terjadi pada 1997 dan 2015. Menurut Erma, fenomena yang dipantau pada tahun ini berpotensi lebih kuat dibandingkan dua peristiwa tersebut.

Dampak yang perlu diantisipasi

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika menyatakan El Nino telah berada pada kategori kuat dengan peluang mencapai 98 persen. BMKG menilai fenomena global ini dapat menurunkan curah hujan, terutama di bagian selatan garis khatulistiwa ketika kemarau memuncak.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengingatkan bahwa El Nino tidak sama dengan musim kemarau. Meski begitu, El Nino dapat memengaruhi distribusi hujan di Indonesia dan memperberat kondisi kering di sejumlah daerah.

Sektor pertanian menghadapi risiko terganggunya fase pertumbuhan tanaman, penurunan produktivitas, hingga potensi puso akibat defisit air. Kondisi kering juga dapat meningkatkan ancaman kebakaran hutan dan lahan, termasuk di wilayah seperti Kalimantan.

Asap kebakaran dan peningkatan konsentrasi polutan berpotensi menurunkan kualitas udara serta menambah risiko ISPA dan gangguan kesehatan akibat suhu panas. Penyesuaian pola tanam, irigasi yang lebih efisien, dan penggunaan informasi iklim dapat membantu menekan dampaknya.

Baca Juga