Seruan agar masyarakat Iran tetap menyatu menjadi salah satu pesan utama Mojtaba Khamenei setelah serangan udara Amerika Serikat. Pemimpin Tertinggi Iran itu menilai persatuan diperlukan ketika eskalasi konflik berpotensi menimbulkan kerugian yang lebih besar.
Pernyataan Khamenei disampaikan melalui akun X pada Sabtu (18/7) waktu setempat. Ia mengarahkan pesannya bukan hanya kepada Washington, melainkan juga kepada masyarakat dan pemerintahan Iran di tengah tekanan dari luar negeri.
Seruan tersebut muncul setelah dua personel militer Amerika Serikat tewas dalam serangan rudal balistik dan drone Iran yang menyasar Yordania. Satu personel lain dilaporkan hilang dalam peristiwa yang terjadi pada Jumat (17/7) itu.
1. Menolak Kepercayaan pada Kesepakatan dengan AS
Dalam pesan pertama, Khamenei menyinggung nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding antara Iran dan Amerika Serikat. Ia menilai pelanggaran yang disebut berulang dilakukan Washington telah merusak kredibilitas komitmen negara tersebut.
“Pelanggaran yang berulang kali dilakukan oleh Setan Besar (Amerika Serikat) terhadap nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) yang ditandatangani oleh Presiden Iran dan Presiden Amerika Serikat kembali menyingkap satu kenyataan mendasar: tanda tangan Presiden Amerika Serikat sama sekali tidak bernilai dan tidak memiliki kredibilitas,” ujar Khamenei.
Khamenei juga menyatakan akan memberi pelajaran yang tidak terlupakan kepada Amerika Serikat. Pernyataan itu mencerminkan sikap Teheran yang semakin konfrontatif sesudah serangan udara terbaru dari Washington.
2. Menegaskan Risiko bagi Washington Jika Perang Berlanjut
Pesan kedua berisi peringatan bahwa Amerika Serikat akan menghadapi konsekuensi jika meneruskan perang. Khamenei menggambarkan Poros Perlawanan sebagai kekuatan Iran untuk menjawab tekanan yang datang dari pihak luar.
Menurut Al Jazeera yang dikutip CNN Indonesia, ia menilai paksaan, hegemoni, dan kekejaman merupakan bagian dari doktrin serta cara pandang Amerika Serikat. “Hari ini, Setan Besar kembali memperlihatkan wajah aslinya tanpa topeng,” kata Khamenei.
Ia menyebut konflik tersebut memperlihatkan ketidakjujuran, ketidakrasionalan, ketidakdapatdipercayaan, dan watak jahat Amerika Serikat. Penilaian itu disampaikan ketika serangan dan respons militer dari kedua pihak terus berlanjut.
3. Menempatkan Persatuan sebagai Kebutuhan Utama
Pesan ketiga menekankan pentingnya persatuan seluruh lapisan masyarakat Iran dan unsur pemerintahan. Khamenei menghubungkan sikap tersebut dengan upaya mempertahankan martabat serta kemerdekaan Iran menghadapi Amerika Serikat.
Situasi meningkatnya dukungan publik saat negara menghadapi ancaman eksternal dikenal sebagai rally around the flag. Khamenei juga menyinggung keberanian para pejuang Islam dan rakyat di wilayah selatan sebagai contoh respons Iran dalam beberapa hari terakhir.
“Kini, ketika musuh Amerika berupaya meningkatkan eskalasi konflik sehingga menimbulkan kerugian yang lebih besar dan penghinaan yang lebih dalam, mereka harus mengetahui bahwa bangsa Iran yang mulia dan Front Perlawanan telah menyiapkan pelajaran yang tak akan pernah mereka lupakan,” ucapnya.
| Peristiwa | Lokasi/Waktu | Informasi Utama |
|---|---|---|
| Serangan Iran | Yordania, Jumat (17/7) | Dua tentara AS tewas saat menghadang rudal balistik dan drone Iran, sementara satu personel hilang. |
| Operasi militer AS | Sabtu (18/7) | CENTCOM menyatakan operasi dimaksudkan untuk menghukum Iran dan melemahkan ancaman terhadap pelayaran komersial. |
| Lokasi serangan yang dilaporkan | Sirik, Iran selatan | Fars dan Tasnim melaporkan kota pelabuhan di pesisir Selat Hormuz menjadi sasaran serangan AS. |
CENTCOM menyatakan serangan pada malam kedelapan berturut-turut diarahkan untuk mengurangi kemampuan Iran mengancam pelayaran komersial di Selat Hormuz. Operasi itu juga disebut sebagai hukuman cepat terhadap Garda Revolusi Iran atau IRGC setelah serangan terhadap personel militer AS di Yordania.
Fars dan Tasnim melaporkan serangan Amerika Serikat menghantam Sirik, kota pelabuhan Iran di pesisir Selat Hormuz. Dengan tambahan korban di Yordania, jumlah personel militer AS yang tewas sejak konflik pecah pada 28 Februari mencapai 16 orang.






