Pemerintah melaporkan pembangunan 3.000 titik air desa dalam delapan bulan pertama 2026. Langkah tersebut dilakukan ketika jutaan warga masih menghadapi kesulitan memperoleh air minum layak untuk kebutuhan sehari-hari.
Presiden Prabowo Subianto mengatakan pembangunan titik air itu dikerjakan oleh TNI. Infrastruktur tersebut ditujukan untuk menjangkau desa-desa yang belum memiliki sarana pasokan air memadai.
“Tahun ini, di delapan bulan pertama 2026, kita sudah membangun 3.000 titik air desa yang dibangun oleh TNI, terima kasih TNI,” ujar Prabowo. Pernyataan itu disampaikan dalam pidato kenegaraan pada Sidang Tahunan MPR dan Sidang Bersama DPD-DPR RI 2026 di Jakarta.
Kebutuhan Air Menyangkut Banyak Aktivitas
Bagi warga desa yang mengalami keterbatasan pasokan, air tidak semata-mata digunakan untuk minum. Air juga diperlukan untuk mandi, wudhu, peternakan, serta mengairi tanaman yang menopang aktivitas keluarga.
Prabowo menggambarkan adanya warga yang harus berjalan berkilo-kilometer untuk mengambil satu hingga dua jeriken air bersih. Jarak tempuh itu menunjukkan beratnya beban yang harus ditanggung sebagian masyarakat demi memenuhi kebutuhan dasar.
Keterbatasan pasokan dapat berpengaruh langsung terhadap kehidupan rumah tangga dan ekonomi perdesaan. Saat air harus dibagi untuk banyak keperluan, keluarga memiliki ruang yang lebih sempit untuk menjaga kebersihan secara memadai.
Data Menunjukkan Ketimpangan Wilayah
Menurut data BPS, BNPB, dan Kementerian PU per Maret 2025, sekitar 28 juta warga mengalami kesulitan mengakses air minum layak setiap hari. Cakupan akses menunjukkan perbedaan besar antara daerah dengan infrastruktur kuat dan wilayah yang masih tertinggal.
| Wilayah | Persentase Akses Air Minum Layak |
|---|---|
| DKI Jakarta | 99,96% |
| Perkotaan | 96,56% |
| Perdesaan | 87,06% |
| Papua Pegunungan | 30,64% |
DKI Jakarta mencatat akses air minum layak hampir menyeluruh, yakni 99,96%. Sebaliknya, Papua Pegunungan berada pada 30,64%, jauh di bawah rata-rata akses perdesaan yang tercatat 87,06%.
Perbedaan ini memperlihatkan tantangan distribusi layanan air yang belum selesai. Penambahan titik air desa dapat memperluas jangkauan, tetapi kebutuhan warga yang masih besar menuntut perhatian berkelanjutan.
Dampak Terasa pada Kesehatan Anak
Krisis air bersih dapat memperburuk sanitasi dan meningkatkan risiko infeksi pencernaan. Kementerian Kesehatan RI menyatakan krisis air pipanisasi dapat meningkatkan konsentrasi polutan serta bakteri E. coli.
Bakteri tersebut berisiko memicu diare kronis pada anak. Gangguan pencernaan yang berulang dapat menghambat penyerapan nutrisi dan berpotensi berkaitan dengan stunting.
Persoalan air dan sanitasi karena itu menjadi bagian penting dari perlindungan kesehatan keluarga. Pasokan yang aman dan cukup membantu warga memenuhi kebutuhan dasar secara lebih higienis.
Kemarau Panjang Menambah Kekhawatiran
Situasi pasokan air berpotensi menghadapi tekanan tambahan dari El Nino Pasifik. Water Indonesia 2026 dan BMKG memperkirakan fenomena itu berlangsung sejak pertengahan 2026 hingga kuartal pertama 2027.
El Nino dapat memicu kemarau panjang dan keterlambatan musim hujan. Produktivitas tanaman padi pada Desember 2026 hingga Februari 2027 berisiko terganggu, sementara ancaman kebakaran hutan juga meningkat.
Di tengah cuaca kering, kebutuhan air rumah tangga dan pertanian tetap harus dipenuhi. Pembangunan infrastruktur pasokan serta perbaikan sanitasi menjadi penopang penting bagi desa-desa yang masih mengalami keterbatasan layanan.






