Trump Sambut Pakta Mekkah, Iran Nilai Blok Tiga Negara Bukan Ancaman

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyambut pakta pertahanan Arab Saudi, Turkiye, dan Pakistan sebagai langkah penting bagi keamanan kawasan. Namun, Iran menyatakan tidak melihat blok baru itu sebagai ancaman meski sejumlah analis mengaitkannya dengan upaya membendung pengaruh Teheran.

Kontras sikap tersebut muncul ketika Mecca Joint Defence Agreement dibentuk di tengah perang AS-Iran yang disebut telah berlangsung selama lima bulan. Kesepakatan ini menggabungkan komitmen pertahanan kolektif dengan agenda diplomatik untuk membantu penyelesaian konflik.

Dukungan Trump untuk Blok Baru

Melalui Truth Social, Trump mengatakan senang melihat tiga negara akhirnya menandatangani perjanjian itu pada Jumat, 7 Agustus 2026. Ia menyebut langkah tersebut besar, berani, dan penting untuk memperkuat kemampuan kawasan dalam mempertahankan diri.

Trump juga menilai negara-negara Timur Tengah makin bersatu dalam urusan keamanan. Menurutnya, kesepakatan itu dapat memperkuat kemampuan kawasan menjaga stabilitas tanpa terlalu bergantung kepada pihak luar.

Pakta itu ditandatangani di Mekkah oleh Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman, Presiden Turkiye Recep Tayyip Erdogan, dan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif. Kantor Perdana Menteri Pakistan merilis foto ketiganya setelah penandatanganan.

NegaraPerwakilanPeran dalam Pakta
Arab SaudiMohammed bin SalmanMemperkuat keamanan kolektif
TurkiyeRecep Tayyip ErdoganMemperkuat keamanan kolektif
PakistanShehbaz SharifMemperkuat keamanan kolektif

Serangan terhadap Satu Negara

Kementerian Luar Negeri Pakistan menyatakan serangan terhadap satu anggota akan dianggap sebagai serangan terhadap semua anggota. Ketentuan ini menjadi elemen utama dalam pembentukan daya tangkal bersama.

Ketiga negara juga berkomitmen memperkuat keamanan bersama, perdamaian, dan stabilitas. Perjanjian itu turut memuat kesiapan mereka berpartisipasi dalam upaya mengakhiri konflik Iran dan AS.

Ketidakstabilan kawasan menjadi salah satu latar pembentukan pakta tersebut. Konflik AS-Iran disebut turut memicu serangan dari kelompok Houthi yang didukung Iran.

Teheran Menepis Kekhawatiran

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei mengatakan Iran tidak memiliki alasan untuk merasa cemas. Ia menilai pakta itu lebih menunjukkan perubahan pandangan negara-negara kawasan terhadap AS.

“Negara-negara di kawasan telah menyadari bahwa keamanan bukanlah komoditas yang dapat dibeli dari perantara palsu,” kata Baghaei. Kutipan tersebut disampaikan dengan merujuk pada Amerika Serikat.

Baghaei mengatakan Iran memiliki hubungan keagamaan, sejarah, dan peradaban yang kuat dengan Arab Saudi, Turkiye, serta Pakistan. Karena itu, ia tidak menilai perjanjian tersebut ditujukan terhadap Teheran.

Ruang bagi Anggota Baru

Erdogan menyatakan kerja sama keamanan itu masih dapat diperluas. Ia menilai Mesir berpeluang bergabung dalam pengaturan tersebut pada masa mendatang.

“Perjanjian ini telah mengirimkan pesan penting kepada dunia,” kata Erdogan. Dampak pakta akan ditentukan oleh perluasan keanggotaan, pelaksanaan komitmen pertahanan, dan perannya dalam konflik AS-Iran.

Baca Juga