Perbedaan cara berkomunikasi antara generasi lama dan generasi muda mendorong Tri Prasetiyowati kembali ke perguruan tinggi. Ia ingin memahami mengapa anak-anak masa kini lebih terbuka menyampaikan pendapat dibandingkan pola komunikasi yang dikenalnya saat muda.
Pencarian pemahaman itu membawanya meraih S2 Bimbingan dan Konseling pada usia 72 tahun. Tri tercatat sebagai wisudawan tertua dalam wisuda ke-121 Universitas Negeri Surabaya yang berlangsung pada Rabu, 12 Agustus 2026.
Sebagai ibu dari dua anak, Tri merasakan langsung perubahan tersebut dalam kehidupan keluarga. Ia terbiasa memahami arahan orang tua melalui isyarat, sedangkan anak-anaknya tumbuh dengan kebiasaan menyampaikan pandangan secara lebih terbuka.
Perbedaan itu tidak dipandangnya sebagai jarak yang harus dipertentangkan. Tri memilih pendidikan sebagai cara untuk melihat perubahan zaman dari sudut pandang yang lebih memahami.
Kampus sebagai ruang bertemu generasi
Lingkungan perkuliahan memberi Tri pengalaman berinteraksi dengan mahasiswa yang usianya jauh lebih muda. Interaksi tersebut membantunya mengenali cara berpikir dan persoalan yang muncul pada generasi baru.
Pengalaman itu juga berhubungan dengan tesis magisternya mengenai prokrastinasi akademik mahasiswa tahun pertama. Tri meneliti pengaruh mekanisme coping, penyesuaian akademik, serta dukungan sosial terhadap kecenderungan menunda pekerjaan akademik.
Fokus penelitian tersebut menempatkannya pada salah satu tantangan yang dihadapi mahasiswa saat memasuki dunia kampus. Melalui bidang Bimbingan dan Konseling, Tri berupaya memahami proses penyesuaian mahasiswa muda terhadap tuntutan akademik.
Menurut laman Unesa yang dikutip Kompas.com, pengalaman belajar menjadi sarana Tri untuk memahami perbedaan zaman. Ia melihat pendidikan sebagai ruang penyesuaian diri yang dapat dijalani tanpa dibatasi kelompok usia.
Memulai lagi pada usia 66 tahun
Keinginan menempuh pendidikan tinggi telah ada sejak masa muda, ketika Tri pernah berkuliah hingga semester empat. Studi itu kemudian terhenti setelah ia menikah.
Tri selanjutnya menjalani kehidupan sebagai ibu dan mendampingi suaminya yang merupakan prajurit TNI Angkatan Laut. Meski pendidikan formal sempat berhenti, keinginan untuk belajar tetap ia pertahankan.
Pada masa pandemi Covid-19 tahun 2020, Tri mendaftar S1 Bimbingan dan Konseling di Universitas PGRI Adi Buana saat berusia 66 tahun. Ia menyelesaikan program sarjana pada September 2024, sebelum meneruskan pendidikan magister di Universitas Negeri Surabaya.
Mengatasi tantangan mengingat materi
Proses kuliah di usia lanjut tidak selalu mudah karena Tri lebih cepat melupakan materi yang telah dijelaskan. Ia kemudian menyesuaikan pola belajarnya dengan membaca ulang buku dan menyimpan rekaman penjelasan dosen.
“Tantangannya kalau sudah usia gini, dijelasin materi itu memang ingat tapi gampang hilang. Jadi saya harus punya bukunya dan penjelasan dari dosen saya rekam,” ujar Tri.
Ia turut memanfaatkan Google untuk mencari informasi pembelajaran tanpa harus selalu menuju perpustakaan. Dukungan keluarga dan penggunaan akses digital menjadi bagian penting dari perjalanannya menyelesaikan pendidikan magister.
Langkah Tri memperlihatkan bahwa belajar dapat menjadi jembatan untuk menjaga hubungan dengan perubahan sosial. Di usia 72 tahun, ia memilih melanjutkan pendidikan agar dapat bertumbuh bersama zaman yang terus bergerak.






