Di Balik Tren Kopi Jamur, Manfaatnya Belum Sejalan dengan Klaim yang Beredar

Tren kopi jamur menawarkan perpaduan ritual minum kopi dengan ekstrak bahan fungsional yang sering dikaitkan dengan fokus, relaksasi, dan daya tahan tubuh. Meski menarik, manfaat tersebut belum dapat dipastikan sama pada setiap produk maupun setiap cangkir yang dikonsumsi.

Penelitian khusus mengenai manfaat kopi jamur sebagai minuman masih terbatas. Karena itu, klaim kesehatan pada produk tidak seharusnya digunakan sebagai pengganti penanganan untuk kondisi kesehatan tertentu.

Sejumlah penelitian terhadap jamur obat memang menemukan senyawa bioaktif yang berpotensi memiliki aktivitas antioksidan, antidiabetes, imunomodulator, hingga antikanker. Hasil riset tersebut belum otomatis membuktikan semua manfaat itu hadir dalam kopi yang telah dicampur ekstrak jamur.

Riset Awal dan Batasannya

Claire Barnes, ahli terapi nutrisi yang dikutip Happiful.com, menyebut penelitian awal pada jamur fungsional menunjukkan potensi terkait fungsi kognitif, respons stres, sistem kekebalan, aktivitas antioksidan, dan kualitas tidur. Barnes mengingatkan bahwa bukti pada manusia masih terbatas sehingga manfaatnya tidak boleh dibesar-besarkan.

Lion’s mane termasuk jenis yang banyak diperhatikan untuk potensi dukungan fungsi kognitif. Sementara itu, cordyceps kerap diteliti berkaitan dengan performa olahraga dan penggunaan oksigen.

Reishi sering dikaitkan dengan relaksasi, modulasi sistem imun, dan dukungan tidur. Kaitannya dengan kopi jamur tetap perlu dibaca hati-hati karena tidak seluruh penelitian menguji produk kopi yang mengandung ekstrak tersebut.

Jenis jamurPotensi yang banyak dibahas
Lion’s maneDukungan fungsi kognitif
CordycepsPerforma olahraga dan penggunaan oksigen
ReishiRelaksasi, sistem imun, dan dukungan tidur

Kafein Tetap Menjadi Pertimbangan

Di luar pembahasan mengenai ekstrak jamur, konsumen juga perlu memperhatikan kandungan kafein dalam kopi jamur. Kadar zat tersebut bergantung pada jenis dan jumlah kopi yang digunakan dalam formulasi produk.

Artinya, kopi jamur tidak otomatis menjadi minuman bebas kafein. Pemeriksaan informasi kemasan penting dilakukan, terutama oleh orang yang mudah mengalami keluhan setelah minum kopi biasa.

Pada sebagian orang, konsumsi kafein berlebihan dapat memicu gelisah dan kecemasan. Efeknya juga dapat disertai penurunan energi setelah pengaruh kafein berakhir serta gangguan tidur.

Bukan Jamur untuk Masakan atau Psikedelik

Kopi jamur dibuat dari kopi bubuk yang dicampurkan dengan bubuk atau ekstrak jamur fungsional. Kelompok ini dapat mencakup lion’s mane, reishi, chaga, cordyceps, dan turkey tail.

Bahan tersebut berbeda dari jamur kancing, portobello, cremini, tiram, maupun shiitake yang lazim dimasak. Produk ini juga tidak memakai jamur psikedelik, sehingga tidak menimbulkan efek halusinasi.

Keith Ayoob, ahli diet-nutrisionis terdaftar dan profesor emeritus pediatri di Albert Einstein College of Medicine, menjelaskan kepada Time.com bahwa bahan itu bukan jamur masak maupun jamur psikedelik. Cita rasa kopi jamur umumnya lebih mengarah ke karakter earthy atau menyerupai umami.

Kopi jamur dapat menjadi pilihan bagi konsumen yang ingin mencoba variasi rasa dengan tambahan bahan fungsional. Namun, manfaat yang ditawarkan perlu dinilai secara proporsional dan kandungan kafeinnya tetap perlu diperiksa sebelum dikonsumsi rutin.

Baca Juga